Bubur Safar Tradisi berbagi Tolak Bala

  • 16 Jul 2026 14:26 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Tradisi membagikan dan mengonsumsi Bubur Safar pada tanggal 1 bulan Safar Hijriah masih terus dilestarikan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Sumenep. Tradisi yang dipercaya sebagai simbol doa agar dijauhkan dari berbagai musibah atau na'as tersebut menjadi berkah tersendiri bagi para penjual bubur musiman. Salah satunya Evi Dwi Larasati yang setiap tahun rutin menjual Bubur Safar dengan berbagai pilihan varian. Ia mengatakan bubur yang dijual terdiri dari bubur ketan hitam, bubur tepung ketan putih, bubur cennil atau bubur ketan yang dibentuk bulat-bulat kecil, bubur mutiara, serta bubur kacang hijau. "Setiap tahun di bulan Safar kami selalu menjual Bubur Safar aneka macam ini. Jadi konsumen enak sekali karena dalam satu porsi bisa menikmati lima macam varian. Namun ada juga pembeli yang hanya meminta dua macam saja, yaitu bubur tepung ketan dan bubur cennil yang memang menjadi varian asli sejak zaman dulu," kata Evi.

Tradisi Bubur Safar hingga kini masih diminati berbagai kalangan masyarakat yang membeli untuk dikonsumsi bersama keluarga maupun dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah dan ungkapan syukur. Menurut Evi, seluruh dagangannya hampir selalu habis terjual setiap peringatan 1 Safar karena tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut. "Alhamdulillah dagangan selalu habis karena masyarakat masih membudayakan tradisi ini. Dari penjualan Bubur Safar ini lumayan bisa menambah uang belanja," ucapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....