Sumenep Siapkan Hilirisasi Perkebunan Kelapa Melalui Inovasi Bhokasi

  • 28 Okt 2025 12:59 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep : Guna menyongsong program nasional pemerintah tahun 2026 tentang hilirisasi perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep bersama para petani mulai melakukan berbagai langkah persiapan. Salah satunya melalui pembuatan pupuk bhokasi plus dan pengendalian hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) pada tanaman kelapa. Kegiatan ini dilakukan secara serentak di 3 kecamatan, yakni Dungkek, Gapura dan Batang-Batang. Giat ini merupakan awal, nantinya akan digencarkan oleh seluruh Kelompok tani di 3 kecamatan tersebut.

Kabupaten Sumenep diketahui merupakan daerah dengan populasi dan luas areal tanam kelapa terluas di Jawa Timur. Sebagai bentuk dukungan terhadap program hilirisasi tersebut, pemerintah daerah menargetkan akan melakukan penanaman kelapa seluas 3.500 hektare yang dimulai pada tahun 2026 mendatang.

Menurut Kepala DKPP Sumenep melalui KJF Penyuluh Dewo Ringgih, langkah-langkah persiapan ini tidak hanya fokus pada perluasan tanam, tetapi juga pada peningkatan kualitas lahan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

“Dengan populasi kelapa yang cukup besar di Sumenep, kami perlu melakukan upaya-upaya perawatan dan pengendalian hama, khususnya kumbang tanduk yang dapat merusak tanaman. Salah satu inovasi yang kami kembangkan adalah pembuatan pupuk bhokasi plus yang juga berfungsi sebagai media pengendalian hama,” ujar Dewo Ringgih, mewakili Kepala DKPP Sumenep, Selasa (28/10/2025).

Dewo menjelaskan, pembuatan pupuk bhokasi plus ini merupakan bentuk pemanfaatan limbah ternak agar tidak menjadi tempat berkembang biak kumbang tanduk. Limbah ternak yang biasanya menjadi sarang telur hama diolah menjadi pupuk organik berkualitas dengan tambahan pestisida nabati Metarhizium anisopliae, yaitu jamur entomopatogen yang berfungsi membunuh larva kumbang tanduk.

“Kami olah limbah ternak menjadi pupuk vokasi plus dengan menambahkan jamur Metarhizium. Jamur ini bersifat alami dan mampu menyerang larva kumbang tanduk, sehingga bisa menekan populasi hama tanpa merusak lingkungan,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, tim DKPP bersama kelompok tani juga melakukan pemasangan perangkap kumbang tanduk dewasa. Perangkap tersebut diberi umpan feromon yaitu potongan buah nanas untuk menarik kumbang dewasa agar tidak menyerang pohon kelapa produktif.

“Kami juga membuat perangkap kumbang tanduk di sekitar lahan kelapa. Feromon kami gunakan sebagai umpan alami untuk menarik kumbang dewasa masuk ke perangkap,” ucapnya.

Langkah terpadu antara pembuatan pupuk vokasi plus dan pemasangan perangkap diharapkan mampu menekan serangan hama serta meningkatkan kesehatan tanaman kelapa menjelang program penanaman besar-besaran tahun 2026.

“Kami optimistis, dengan penerapan pupuk bhokasi plus dan pengendalian hama secara terpadu, produktivitas kelapa di Sumenep akan meningkat signifikan dan memberikan kontribusi besar terhadap swasembada serta hilirisasi perkebunan nasional,” kata Dewo Ringgih penuh harap.

Dengan potensi lahan kelapa yang luas, dukungan petani, dan inovasi ramah lingkungan ini, Sumenep diharapkan menjadi salah satu daerah kunci dalam mewujudkan kemandirian dan hilirisasi komoditas kelapa nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....