Sekolah Rakyat Bisa Jadi Alternatif Pembinaan Olahraga Olimpik

  • 05 Okt 2026 16:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Target empat emas Indonesia di Asian Games 2026 belum tercapai, menunjukkan kekhawatiran terhadap pencapaian atlet nasional.
  • Cabang olahraga Olimpik seperti akuatik, atletik, tinju, dan balap sepeda menyediakan banyak medali tetapi prestasi Indonesia masih tertinggal.
  • Cabor Olimpik merupakan cabang yang wajib digelar di setiap pesta olahraga multievent termasuk Olimpiade, Asian Games, SEA Games, dan PON.

.

Penulis: M. Kusnaeni (Wartawan)

MESKI target empat emas terlewati, saya agak prihatin melihat pencapaian atlet-atlet Indonesia di ajang Asian Games 2026. Khususnya pencapaian di cabang olahraga (cabor) Olimpik, seperti akuatik, atletik, tinju, atau balap sepeda yang menyediakan banyak medali.

Seperti kita ketahui, ada yang disebut sebagai cabor Olimpik dalam pesta olahraga multievent. Itu adalah cabor yang sifatnya wajib digelar, baik di ajang Olimpiade, Asian Games, SEA Games, bahkan PON.

Yang menarik cabor-cabor Olimpik tersebut menyediakan banyak medali. Sehingga negara yang kuat di cabor Olimpik biasanya mampu bersaing dalam klasemen perburuan medali juara umum.

Ironisnya, Indonesia lemah di cabor-cabor Olimpik tersebut. Atlet-atlet kita kurang mampu bersaing dalam perebutan medali di cabor renang maupun atletik.

Tentu saja, banyak penyebabnya. Salah satunya terkait pembinaan cabor-cabor tersebut yang umumnya masih terbatas. Termasuk event-nya pun masih sedikit padahal kompetisi atau turnamen adalah kesempatan untuk mengukur hasil latihan.

Sebagian besar cabor Olimpik biasanya memang kurang komersial. Tidak seperti cabor-cabor permainan semisal sepak bola, basket, atau bola voli yang ironisnya hanya menyediakan sedikit medali.

Di sisi lain, pembinaan cabor Olimpik itu butuh keseriusan dan komitmen jangka panjang. Atlet-atlet cabor Olimpik harus dibina sejak usia dini dalam kurun waktu yang lama sebelum mampu menunjukkan prestasi.

Saya kira di titik itulah kita bisa mempertemukan pembinaan cabor Olimpik dengan program Sekolah Rakyat (SR) maupun Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang digagas Presiden Prabowo. Sebab SR maupun SNT dibangun dengan fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Tidak hanya sarana-prasarananya tapi juga komitmen kuat dari negara untuk mencukupi kebutuhan para siswanya.

Dengan menjadikan SR-SNT sebagai sentra pembinaan cabor Olimpik, negara mendapat sejumlah manfaat sekaligus. Membentuk generasi penerus yang tangguh sekaligus mendapat bonus atlet-atlet muda yang berpotensi mengharumkan nama bangsa.

Tentunya, harus ada rasionalisasi yang terukur. Setiap SR-SNT cukup fokus membina 1-2 cabor Olimpik. Misalnya atletik dan pencak silat atau renang dan perahu naga.

Sekolah Rakyat di Sidrap (Foto: Humas Pemkab Sidrap)

Pilihan cabor Olimpik yang dibina perlu disesuaikan dengan kearifan lokal wilayah setempat. Misalnya, SR-SNT di NTT ada baiknya fokus ke cabor lari jarak menengah plus tinju, misalnya.

SR-SNT di Sumatra Selatan bisa fokus di panahan dan karate. Sementara SR-SNT di Sulawesi Tenggara fokus ke dayung dan sepak takraw.

Jika kolaborasi ini mampu diwujudkan, visi besar SR-SNT mungkin akan lebih relevan dan berdampak. Tidak hanya berperan mengatasi problem pendidikan di kalangan masyarakat bawah, tapi juga melahirkan calon-calon pemimpin sekaligus atlet-atlet berprestasi.

Tentu saja, ide ini perlu diimbangi dengan kajian dan pertimbangan yang matang. Kemenpora harus duduk bersama dengan pengelola SR-SNT untuk menggarap detail implementasinya agar tidak tepat sasaran dan berjalan efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....