Revolusi Dangdut Merebut Telinga

  • 31 Agt 2026 17:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dangdut telah menjadi mesin penghibur paling akrab dan diminati oleh warga Nusantara dalam dua dekade terakhir.
  • Musik dangdut berhasil menyalip produktivitas genre musik lainnya seperti pop, keroncong, tarling, musik daerah, qosidah, jazz, dan blues.
  • Dangdut berkembang menjadi 'Dangdut Kreatif' yang mampu berkolaborasi secara luwes dengan campursari, gamelan, musik kamar, dan orkestra.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

JIKA ada mesin penghibur yang paling akrab di telinga warga Nusantara, paling digandrungi dan menghipnotis rasa itulah dangdut. Iramanya memikat, mengayun kaki dan pinggul, merayu khalayak beragam tingkat ekonomi dan selera.

Revolusi dangdut dalam dua dekade terakhir, berhasil menyalip produktivitas musik pop, keroncong, tarling (gitar suling), musik daerah, qosidah, jazz, blues, dan sebagainya. Meski awalnya terlahir dari ‘musik Melayu’ namun dangdut menemukan jalan cerdasnya belakangan ini. Kita sebut saja ‘Dangdut Kreatif’ karena begitu luwes berkolaborasi dengan campursari, gamelan, bahkan music kamar, dan orchestra.

Hegemoni dangdut era Rhoma Irama dan AA Rafiq, berlanjut dengan Didi Kempot, sudah mengakar dalam di hati publiknya. Musik karya Didi Kempot enak dipentaskan di panggung kolosal yang selalu dibarengi histeria ribuan penonton. Syairnya mudah dihafal, nyambung dengan haru-biru perasaan patah hati remaja maupun dewasa. Dangdut gaya Didi Kempot terasa halus karena ketukan kendangnya lembut dan ritmis.

Beda dengan kendangan lincah pada genre baru ‘dangdut koplo’ yang diawali grup-grup Jawa Timuran. Kini koplo merebak secepat virus covid. Banyak lagu pop yang biasa saja, diolah secara koplo dengan aransemen berbeda dibantu kecerdasan buatan (AI). Bila ada pesaing baru yang menghadang atau sebaliknya menambah laju dangdut, itulah produk AI. Berbekal AI seorang yang tak berbakat musisi bisa menghasilkan lagu baru secara kreatif.

Pemberontak Ngawi

Sepeninggal Didi Kempot, datanglah ‘pemberontak’ dari Ngawi, Deny Caknan (DC) yang memasukkan pendekatan kreatif dengan memetik nada-nada dan lirik unik. Ditopang era digital dengan beragam platform media sosial, khususnya YouTube, lagu-lagu gubahan DC menemukan momentum terbaik. Kekuatan DC adalah kreativitasnya menjelajahi berbagai keindahan music ini. Berawal dari lagu ‘Kertonyono Medhot Janji’, memungut nama terminal bus Ngawi, DC seketika melambung. DC mampu hadirkan dangdut dengan warna beda. Lebih puitis dengan nada-nada unik yang bukan tipikal dangdut. Dengarkan ‘Lintu’ yang sangat melodius dan impresif dibawakan biduan cantik Sasya Arkishna. Sasya yang semula bukan siapa-siapa, melangit melalui lagu itu, mendulang ‘like’ tinggi.

Era Didi Kempot dengan cepat digantikan DC melalui sederet lagu terlarisnya; Sigar, Satru, Sanes, LDR, Klebus, Dumes, Tak Tunggu Balimu. DC semakin menanjak dengan lagu yang lebih rumit tapi puitis; Cundamani. Lalu membanjir lewat racikan terbarunya; Sinarengan, Negoro Angin, dan Laut Kidul. Sinarengan diciptakan saat DCpiknik ke Jepang, sedangkan Negoro Angin dengan indah melukiskan cinta tak kesampaian di negeri Kincir Angin Belanda.

Apa pun yang digubah DC langsung disambar seluruh biduan dan grup musik dangdut Tanah Air. Para penyanyi top dangdut masa kini berebut menyanyikannya; Silvy Kumalasari, Sasya Arkishna, Yeni Inka, Difarina Indra, Niken Salindri, Suliyana. Mereka didukung pendatang baru seperti Laila Ayu, Dike Sabrina, Febi Maharani, Tasya Rosmala, Ajeng Febria, Lusyana Jelita. Kehadiran generasi muda ini menggeser posisi biduan sepantaran Nella Kharisma, Hapy Asmara, Shinta Arsinta, Via Vallen, Lesti Kejora.

Di antara semuanya pekan-pekan ini nama Silvy Kumalasari yang selalu tampil berkebaya dan berkain panjang, paling populer. Namun biduan termahal masih dipegang Lesti Kejora. Sepertinya musik dangdut modern tidak terlalu ramah kepada penyanyi pria. Jarang terdengar yang bertahan seperti Rhoma, Didi Kempot dan DC. Penyanyi pria lainnya masih samar; Gery Mahesa, Sodiq, Arya Galih, Broedin, Fendik Adella.

Ibarat produsen baterai Cina CATL dan BYD. Apa pun merk mobilnya, baterainya dari pabrik yang sama, termasuk Tesla dan Toyota. Begitu pula lagu ciptaan DC selalu jadi rebutan siapa pun penyanyinya, meski sumbernya sama.

Gebrakan Negoro Angin

Popularitas lagu ini langsung boom karena hadir di setiap layar telpon cerdas (smartphone). Tak perlu piringan hitam, tanpa kaset, flash disk, atau elemen apapun. Setiap lagu yang ditampilkan secara audio visual juga mudah menyelinap ke mobil, bus malam, kapal, kereta api. Dangdut telah menerobos telinga konsumen yang semula alergi dan malu-malu menikmati dangdut. Dangdut juga tidak lagi inferior di antara genre musik lainnya, karena penganutnya terbesar dan terluas hingga Malaysia, Hongkong, Jepang, bahkan Eropa.

Hasil survei Skala Survei Indonesia (SSI) tahun 2022 dangdut adalah genre yang paling disukai masyarakat Indonesia dengan presentase tertinggi 58,1 persen. Ia menggeser musik pop 31,3 persen, disusul musik daerah 3,9 persen, keroncong 2,6 persen, kasidah (religi) 1,2 persen, jazz 0,4 persen, dan terakhir rock 0,3 persen. Platform YouTube pun dikuasainya dengan jumlah penonton bukan lagi ribuan, melainkan jutaan orang. Kalih Welasku milik DC misalnya mencapai satu juta pendengar hanya kurang 24 jam. Lagu Sinarengan, Segoro Angin, Laut Kidul lebih dahsyat dari itu.

Survei SSI juga menunjukkan peminat terbesar musik dangdut adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan tertinggi sekolah dasar (SD) dengan persentase 67,3 persen. Jika diurutkan, pecinta dangdut berdasarkan pendidikan, antara lain belum/tamat SD 67,3 persen, tamat SMP 62,8 persen, tamat SMA 45,8 persen, dan Perguruan Tinggi 28,1 persen.

Data ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin berkurang kesukaannya terhadap dangdut. Namun fakta di lapangan sering membantah hasil survey, karena dangdut bisa ditampilkan di forum bergengsi tanpa terkesan murahan. Grup band pop amatir pun sering berdangdut ria di pesta perkawinan mahal atau acara berselera tinggi lainnya.

Tak berlebihan, dangdut telah sukses merevolusi dirinya menjadi sumber kebahagiaan rakyat, menumbuhkan medan kreasi baru, ladang pekerjaan seniman, dan mencetak kekayaan besar bagi penciptanya. Dangdut dengan sendirinya telah naik kelas ke level yang layak diapresiasi dan dikagumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....