Poin Utama
- Indonesia memiliki potensi energi ombak yang sangat besar tetapi masalah biaya dan kurangnya atensi menjadi hambatan utama dalam pengembangan dan implementasinya.
- Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jepang, Belanda, dan Korea telah berhasil memanfaatkan energi gelombang laut, pasang surut, dan panas laut untuk pembangkit listrik.
- Wilayah dengan potensi energi gelombang terbesar di dunia terletak di pantai barat Eropa, pantai utara Britania Raya, pantai Pasifik Utara, Amerika Selatan, Australia, Selandia Baru, dan pantai Afrika Selatan.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
KINI kita sampai pada potensi berlimpah sumber energi listrik, yang paling lambat dieksekusi. Entah karena apa, sebesar itu potensinya tetapi sekecil ini atensi mewujudkannya. Alasan klasiknya, energy ombak (gelombang laut) butuh biaya mahal. Padahal teknologinya masih bisa dikuasai, dan sudah banyak dikembangkan di Negara lain.
Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Inggris, Prancis, Jepang, Belanda dan Korea sukses memanfaatkan ombak, pasang surut air laut atau panas laut. Terbanyak menggunakan pembangkit listrik tenaga ombak adalah Kanada. Tempat-tempat dengan potensi energi gelombang terbesar adalah pantai barat Eropa, pantai utara Britania Raya, pantai Pasifik Utara, Amerika Selatan, Australia, Selandia Baru, dan pantai Afrika Selatan.
Pembangkit tenaga ombak terjamin stabil berkat sifat ombak yang selalu ada secara terus-menerus. Proyek ujicoba di Pulau Islay lepas pantai Skotlandia, berhasil membangkitkan listrik sebesar 500 kilowatt dan mampu memenuhi kebutuhan listrik 400 rumah tangga.
Di Indonesia Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO) atau Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) masih berada pada tahap potensi, riset, dan uji coba skala kecil. Belum ada instalasi komersial berkapasitas besar yang beroperasi secara nasional. Kita dianugerahi garis pantai sangat panjang dan wilayah laut yang luas. Pantai selatan Pulau Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara memiliki ombak besar yang stabil.
Potensi energi ombak dihasilkan melalui gerakannya yang selalu beralun karena tiupan angin. Energi ombak dapat ditangkap dan dinaikkan ke bilik. Udara yang tersimpan di dalam bilik dipampatkan untuk menggerakkan turbin angin. Pergerakan turbin angin inilah yang membuat generator listrik ikut berputar sehingga menghasilkan listrik. Metode lainnya naik-turun ombak menggerakkan piston yang mendorong generator listrik. Potensi energi listrik yang dihasilkannya 2,4 megawatt/m2. Tantangannya listrik yang dihasilkan sulit tersedia dalam jumlah energi yang besar.
Contoh UGM dan ITB
Jauh sejak 2017 mahasiswa UGM mengembangkan sebuah purwarupa pembangkit listrik tenaga ombak laut dan pembatas wilayah (PalaWa). Inisiatornya dua mahasiswa Teknik Fisika, yaitu Aqidatul Izza Poernama dan Ayrton F. Sedjati.
Teknologi PalaWa dapat digunakan untuk menyuplai kebutuhan energi daerah pesisir yang seringkali belum mendapat jangkauan jaringan listrik. Alat ini dilengkapi dengan sensor gerakan dan kamera pengintai. Jadi dapat digunakan untuk merekam kapal-kapal yang melintas di wilayah perairan Indonesia.
Fungsi lain PalaWa sebagai pengganti patok-patok batas wilayah laut kita. Banyak persoalan muncul akibat patok batas laut yang kurang jelas, hilang, bahkan rusak. Inovasi ini bisa menjadi solusi atas problem kedaulatan wilayah dan pemanfaatan sumber energi alternatif terbarukan.
Sementara itu tim ITB yang beranggotakan Edi Wijaya (Teknik Elektro 2016), Ellert Bryant Prima Widison (Teknik Elektro 2016), Claysius Dewanata (Teknik Tenaga Listrik 2016), Gifari I. Hasyim (Teknik Tenaga Listrik 2016), dan Amirah Ayu Mudhiah Farhen (Teknik Tenaga Listrik 2016) membuat Terombalis, sebuah inovasi pembangkit berstruktur seluler. Inovasi ini terdanai melalui lomba ‘Tanoto Student Research Award’. Terombalis akronim dari “teras ombak pembangkit listrik”, merupakan pembangkit listrik yang dapat ditebar di lautan ataupun pantai.
Ia memiliki struktur seluler. Demi bisa menghasilkan listrik, lempeng Terombalis disusun bagaikan ubin di lantai. Ketika ada ombak yang melalui daerah cakupannya, ubin-ubin (sel Terombalis) menangkap alunan ombak dan mengubahnya jadi energi listrik. Efek ini sekaligus berfungsi mengurangi abrasi yang terjadi pantai.
Hingga Mei 2019, Terombali sudah mencapai 100% targetnya yaitu terciptanya prinsip kerja yang matang, desain mekanik, pembelian material, perakitan serja penguji-cobaan menghasilkan tegangan 54V peak-to-peak atau daya sebesar 38W. Kondisi ini membuktikan kawasan pesisir pantai utara Pulau Jawa sangat terbuka dijadikan pembangkit listrik masa depan.
Korea Terbesar
Pembangkit tenaga ombak atau pasang surut terbesar dan terbaik di dunia saat ini adalah Stasiun Pasang Surut Sihwa Lake di Korea Selatan mencapai 254 MW. Terbesar berikutnya adalah MeyGen (Skotlandia) berkapasitas sekitar 67,5 MW. WaveRoller (Portugal) berkapasitas ratusan kW hingga skala MW, dan BioWave (Australia) sistem pelampung bawah laut yang mengubah gerakan ombak menjadi energi hidrolik untuk generator.
Gelombang merupakan sumber energi hijau yang tidak menghasilkan gas rumah kaca dan tidak merusak ekosistem laut. Potensi energi gelombang lebih stabil dan dapat diprediksi dibandingkan dengan energi angin atau surya. Biaya produksi energi gelombang telah menurun secara signifikan dan diperkirakan akan semakin murah di masa depan. Berbagai perusahaan mulai memproduksi peralatan energi gelombang dalam skala komersial untuk menekan biaya produksi.
Seiring kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring majunya peradaban, kita tertodong pertanyaan mendesak, kapan kita memulainya. Mewujudkan kelimpahan bahari kelautan sebagai sumber kemakmuran. Jalan lempang pun sudah dibuktikan Negara lain. Kita tinggal meretasnya dan menduplikasi sukses mereka menguak kekuatan ombak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....