Diskusi Dua Jam yang Sangat Bermakna Bersama Prof. Dr. Craig Hall
- 21 Sep 2026 13:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Prof. Dr. Craig Hall dari Amerika Serikat menghadiri pertemuan sebagai visiting professor di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
- Diskusi berlangsung selama hampir dua jam dengan topik mencakup pendidikan, pemerintahan, kebijakan publik, politik, parlemen, diplomasi, pembangunan daerah, dan business diplomacy.
- Pertemuan menunjukkan intensitas pertukaran pengetahuan dan perspektif antara akademisi internasional dengan pemangku kepentingan Indonesia di berbagai bidang strategis.
HARI ini saya memenuhi undangan Prof. Dr. Craig Hall, profesor dari Amerika Serikat yang saat ini menjadi profesor/visiting professor di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Hampir dua jam kami berdiskusi, namun waktu terasa begitu cepat karena begitu banyak hal menarik yang kami bahas, mulai dari pendidikan, pemerintahan, kebijakan publik, politik, parlemen, diplomasi, pembangunan daerah, hingga Business Diplomacy.
Saya berbagi perjalanan dan pengalaman saya sejak menjadi birokrat di pemerintahan pusat dan daerah, menangani urusan luar negeri dan kerja sama parlemen di DPD RI, hingga menjadi Wakil Wali Kota dan Wali Kota Pariaman, serta pengalaman sebagai Co-President Tourism Promotion Organization (TPO) for Asia Pacific Cities.
Saya juga menceritakan pengalaman ketika memimpin Pariaman dalam merancang dan menjalankan berbagai kebijakan pembangunan daerah. Salah satunya adalah program “Satu Rumah Satu Sarjana”, khususnya bagi keluarga kurang mampu.
Gagasannya sederhana: memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga miskin untuk mendapatkan pendidikan berbasis keterampilan di perguruan tinggi dan institusi vokasi terbaik, seperti UI, IPB, Telkom University, Politeknik PU, IT PLN, dan berbagai institusi lainnya.
Tujuannya bukan sekadar memberikan bantuan pendidikan, tetapi menciptakan mobilitas sosial melalui pendidikan dan keterampilan, sehingga setelah menyelesaikan pendidikan dan bekerja, seorang anak dapat membantu keluarganya keluar dari kemiskinan.
Kami juga berdiskusi tentang bagaimana seorang kepala daerah dapat meningkatkan ekonomi daerah dengan mengembangkan potensi unggulan yang dimiliki daerahnya. Untuk Pariaman, misalnya, pariwisata menjadi salah satu sektor strategis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Saya menyampaikan bahwa untuk menjadi pemimpin daerah, pengalaman lapangan sangat penting, tetapi harus diperkuat dengan teori, konsep, dan kemampuan analisis kebijakan publik. Pendidikan saya di STPDN, STIA LAN, Magister Kebijakan Publik UGM, serta pendidikan doktoral di IPB menjadi bagian penting dalam membentuk perspektif saya dalam pemerintahan dan kebijakan publik.
Ketika masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota dan Wali Kota, saya juga tetap mengajar. Saya mengajar Analisis Kebijakan Publik dan Kebijakan Lingkungan di UNP, serta Kebijakan Kesehatan di Universitas Andalas.
Bagi saya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori dan konsep. Mereka juga perlu memahami bagaimana teori tersebut diterapkan dalam dunia nyata. Pengalaman sebagai birokrat, kepala daerah, pembuat kebijakan, dan akademisi memungkinkan saya membawa pengalaman praktik tersebut ke dalam ruang kelas.
Kami kemudian berdiskusi mengenai perbandingan sistem politik dan kelembagaan parlemen Indonesia dan Amerika Serikat—mulai dari DPR dan DPD RI dengan House of Representatives dan Senate Amerika Serikat, sistem pemilihan, masa jabatan, representasi politik, hingga mekanisme pemilihan sela (special election/by-election) serta berbagai perspektif mengenai masing-masing sistem.
Dari pengalaman saya di DPD RI, saya berbagi perspektif mengenai hubungan antara parlemen, pemerintah, daerah, dan masyarakat, serta bagaimana kelembagaan parlemen dapat terus diperkuat untuk memastikan aspirasi masyarakat dan kepentingan daerah dapat tersalurkan secara efektif.
Kami juga membahas berbagai perspektif mengenai kebijakan nasional Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk bagaimana kebijakan publik dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya lenting masyarakat dan daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Topik lain yang sangat menarik adalah Business Diplomacy. Kami membahas bagaimana dunia usaha dan pemerintah dapat membangun hubungan yang produktif, termasuk bagaimana BUMN dan BUMD dapat memiliki diplomasi bisnis yang baik untuk mengembangkan usaha, memperluas kerja sama, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.
Prof. Dr. Craig Hall juga meminta saya memberikan masukan mengenai kurikulum untuk rencana pembukaan program Business Diplomacy. Bagi saya, ini merupakan kesempatan yang menarik untuk mempertemukan perspektif akademik, pemerintahan, bisnis, diplomasi, dan pengalaman praktis.
Saya sangat senang mendapatkan kesempatan berdiskusi seperti ini. Perjalanan sebagai birokrat, kepala daerah, politisi, akademisi, dan analis kebijakan memberikan pengalaman yang saling melengkapi.
Hampir dua jam berdiskusi terasa begitu singkat karena pembicaraan berlangsung sangat menarik dan konstruktif. Kami sepakat untuk terus saling berkomunikasi dan bertemu kembali di Jakarta.
Terima kasih Prof. Dr. Craig Hall atas undangan dan diskusi yang sangat terbuka, intelektual, dan inspiratif. Semoga pertemuan ini menjadi awal dari pertukaran pengetahuan dan kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya dalam bidang public policy, local governance, parliamentary affairs, business diplomacy, pendidikan, dan pembangunan ekonomi.
Oleh: Dr. Genius Umar, S.Sos., M.Si.
Alumni International Visitor Leadership Programme undangan Secretary of State Amerika Serikat.
Analis kebijakan publik/dosen Kebijakan Publik UNP
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....