Genius Umar: Tata Kelola dan Budaya Jadi Kunci Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

  • 21 Jul 2026 05:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Genius Umar, pakar kebijakan publik lingkungan dan mantan Wali Kota Pariaman, menekankan pentingnya evaluasi pengalaman masa lalu untuk memperkuat kebijakan kebersihan di Indonesia.
  • Korea Selatan menerapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dengan minimnya tempat sampah umum namun tetap terjaga kebersihan dan disiplin masyarakat dalam pembuangan sampah.
  • Ketiadaan tempat sampah umum di ruang publik Korea Selatan tidak menyebabkan pembuangan sampah sembarangan, menunjukkan pentingnya kesadaran dan budaya kebersihan masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Kebijakan Publik Lingkungan sekaligus mantan Wali Kota Pariaman, Genius Umar, membagikan sudut pandang strategis mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan. Genius menekankan pentingnya evaluasi pengalaman masa lalu untuk memperkuat arah kebijakan kebersihan di Indonesia.

Genius mengisahkan pengalaman berkesannya saat mengunjungi Korea Selatan yang memiliki tata kota sangat bersih tanpa adanya sampah yang berserakan di ruang publik. Ketiadaan tempat sampah umum di berbagai sudut jalan tidak lantas membuat masyarakat di sana membuang sampah sembarangan, sebuah fakta yang menarik perhatiannya.

"Kebersihan kota bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya tempat sampah, armada pengangkut, atau kecanggihan teknologi yang digunakan," ujar Genius Umar dalam perbincangannya dengan RRI.CO.ID, Senin 20 Juli 2026. Genius menegaskan kebersihan sejati merupakan cerminan budaya masyarakat yang dibangun secara konsisten melalui kebijakan publik yang matang selama bertahun-tahun.

Permasalahan sampah di Indonesia, menurut Genius, tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan teknis operasional di lapangan semata. Masalah mendasar ini mencakup aspek tata kelola pemerintahan, kepemimpinan yang visioner, pendidikan masyarakat, serta perubahan perilaku secara kolektif.

Dalam perbincangan tersebut, Genius memaparkan lima pilar utama kebijakan publik untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Pilar pertama menitikberatkan pada kepemimpinan kepala daerah yang harus menempatkan agenda kebersihan sebagai prioritas pembangunan utama, bukan sekadar tugas dinas lingkungan hidup.

Pilar kedua dan ketiga menekankan pentingnya regulasi yang konsisten serta kolaborasi multipihak yang dikenal sebagai konsep collaborative governance. Kebijakan pengurangan sampah dari sumber serta tanggung jawab produsen harus didukung penuh oleh dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah, komunitas, hingga media massa.

Pada pilar keempat, Genius menekankan bahwa sampah harus dikelola sebagai sumber daya yang menciptakan nilai tambah ekonomi melalui inovasi daur ulang, kompos, maggot BSF, hingga energi terbarukan. Pilar kelima, yang dianggap sebagai fondasi terpenting, adalah membangun budaya bersih sejak usia dini melalui jalur keluarga dan lembaga pendidikan formal.

Berdasarkan pengalamannya memimpin Kota Pariaman, Genius membuktikan bahwa kesuksesan program lingkungan hidup sangat bergantung pada rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama dari masyarakat. Pendidikan lingkungan yang dimulai sejak dini dinilai menjadi kunci utama dalam membentuk karakter warga negara yang peduli kebersihan.

"Kota yang bersih bukanlah kota yang memiliki tempat sampah di setiap sudut jalan, tetapi kota yang masyarakatnya memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan," kata Genius menegaskan. Genius mengakhiri perbincangannya dengan menegaskan bahwa investasi pada manusia jauh lebih penting daripada sekadar investasi pada teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....