Apa Kabar Galangan Kapal Domestik?
- 17 Sep 2026 16:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia dengan lebih dari 12.000 pulau mengalami krisis infrastruktur transportasi maritim, dengan kapal dan feri penghubung antarpulau yang mayoritas sudah berusia tua.
- Industri galangan kapal Indonesia hanya tersisa 10-15 perusahaan besar dari 200 perusahaan terdaftar, sementara sisanya sedang bergulat dengan masalah finansial.
- Suku bunga kredit kapal di Indonesia mencapai dua digit, jauh lebih tinggi dibanding negara lain yang hanya satu digit, membuat industri kesulitan untuk meremajakan armada.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
KISAH tentang negeri maritim yang berjaya di lautan, sedang meredup. Negeri dengan lebih 12.000 pulau ini sedang kekurangan infrastruktur transportasi dasar yang mencemaskan. Kapal, perahu, fery sebagai penghubung antarpulau masih terasa kurang. Jika pun ada, sebagian besar sudah berusia tua. Sisanya kapal-kapal bekas yang dibeli dari luar, termasuk KM Virgo Transport 8 yang baru saja terbalik di Laut Jawa.
Kebijakan strategis nasional yang menghidupkan industri kelautan kita, sering absen dari debat para pengambil kebijakan. Keluhan kita berputar-putar masalah tak ada dana, pesanan minim, bunga bank tinggi, minus order kapal baru. Jumlah industri kapal yang masih bertahan, tak lebih sepuluh jari tangan. Kini hanya tersisa 10-15 galangan yang besar dari 200 perusahaan terdaftar. Selebihnya bergulat masalah finansial. Industri ini butuh insentif suku bunga rendah untuk meremajakan kapal. Suku bunga untuk kredit kapal mencapai dua digit, di luar negeri hanya satu digit.
Galangan kecil dan menengah sedang berdarah-darah, akibat minimnya pesanan pembuatan kapal baru. Pengusaha pelayaran lebih suka impor kapal bekas dari Jepang dan China. Membangun kapal baru di galangan lokal butuh minimal 12 bulan. Sementara pengusaha inginkan kapal siap pakai dalam 3 bulan.
| Baca juga: Melambungkan Asa dari Desa |
Komponen utama seperti mesin, alat navigasi, hingga besi baja khusus harus diimpor. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap Dolar AS, biaya produksi langsung bengkak. Sedangkan di Tiongkok, Negara menyiapkan skema khusus yang meringankan produksi. Tak heran kini Tiongkok menjadi produsen kapal terbesar dunia, menggeser Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.
Asosiasi galangan kapal pun sudah mendesak pemerintah agar memperketat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta memberikan insentif fiskal dan pembiayaan jangka panjang yang murah. Mereka menuntut pengadaan kapal-kapal untuk BUMN atau instansi pemerintah wajib dibuat di galangan dalam negeri. Tanpa intervensi tegas pemerintah untuk membatasi izin impor kapal bekas dan mempermudah kredit maritim, galangan dipastikan tumbang. Sebuah ironi jika mereka hanya jadi viguran di negara maritimnya sendiri.
Yang Masih Sehat
Galangan kapal yang tergolong cukup sehat dan stabil adalah milik Pemerintah (BUMN), karena mendapatkan penugasan strategis dan suntikan modal untuk modernisasi armada nasional. PT PAL Indonesia masih merupakan yang terbesar, mendapat pesanan kapal perang (alutsista) dari TNI AL serta ekspor ke luar negeri. Ada juga PT Industri Kapal Indonesia (Persero)/IKI Shipyard (Makassar dan Bitung) yang menjadi tulang punggung Indonesia Timur. IKI Shipyard tetap aktif melayani pembuatan dan perbaikan kapal-kapal perintis, tol laut, dan kapal ikan komersial.
Di saat pesanan kapal baru merosot, yang hidup justru galangan yang berfokus docking besar. Mereka justru kebanjiran order, antara lain PT Dok Pantai Lamongan (DPL-Lamongan). Ini galangan swasta paling produktif karena sukses memperbaiki lebih dari 1.000 kapal komersial. Kapasitas docking-nya yang besar membuat DPL menjadi pilihan utama armada domestik.
Berseberangan dengan Lamongan, di Bangkalan Madura terdapat PT Adiluhung Saranasegara Indonesia. Ia dikenal sebagai galangan sehat yang melayani perawatan kapal-kapal penyeberangan (feri) dan kargo.
| Baca juga: Saatnya Kuatkan Ekspor Beras |
Sedangkan di Batam terdapat galangan swasta berorientasi ekspor, yakni PT Kim Seah Shipyard Indonesia. Anak perusahaan Penguin Group (Singapura) ini sangat sehat karena menguasai pasar internasional terarah. Mereka memproduksi kapal berteknologi tinggi seperti kapal hibrida elektrik dan kapal listrik murni untuk pasar Singapura serta Eropa.
Sebagian besar galangan kecil saat ini hanya mengandalkan proyek perbaikan ringan, retrofit, atau perawatan tahunan (docking). Pendapatan dari sektor reparasi ini jauh lebih kecil dibanding membangun unit kapal baru, sehingga margin keuntungan mereka tipis. Sebaliknya galangan perawatan yang besar seperti PT Dok Pantai Lamongan, pada Agustus 2022 tercatat sudah melakukan docking perbaikan kapal yang keseribu kalinya.
Kapal dengan nomor project R-1000 adalah MV Meratus Kampar milik PT Meratus Line. Huruf R pada R-1000 singkatan dari ‘repair’ atau perbaikan. Pada 2022 itu pandemi datang menghempas, beruntung tak lama kembali bergairah. Kenaikan harga batu bara menggairahkan kapal tongkang. Dari pada membangun tongkang baru yang makan waktu, pengusaha memilih perbaikan tongkang antara 14-21 hari kerja.
PT DPL saat ini sudah mengantongi empat sertifikat yaitu ISO 9001 untuk Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001 untuk Lingkungan, dan ISO 45001 serta SMK-3 untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PT DPL selain bergerak di perawatan dan perbaikan, juga memodifikasi kapal serta membangun kapal baru. Selain itu berkonstribusi meningkatkan pendidikan melalui kerja sama dengan SMK di Lamongan Para siswa belajar dan dilatih selama sembilan bulan di workshop pelatihan PT. DPL.
Diatur Danantara
Meski situasinya sulit, ada peluang besar modernisasi kapal ikan oleh Pemerintah berupa ribuan unit kapal ikan modern hingga tahun 2029. Jika proyek ini melibatkan galangan kapal swasta kecil di daerah (bukan hanya BUMN besar), hal ini akan memberi energi baru.
| Baca juga: Membuat Blok Masela Nyata Menyala |
Kabar terbaru Danantara mendapat tugas mengonsolidasikan industri galangan kapal milik negara dan menunjuk PT PAL Indonesia sebagai pusat atau holding utama sektor perkapalan nasional. Peran Danantara mengatur penggabungan dan pendanaan jangka panjang untuk perusahaan galangan kapal BUMN. Tujuannya memenuhi kebutuhan armada kapal nasional, termasuk kapal penangkap ikan bagi nelayan, dan mengurangi kebergantungan pesanan kapal ke luar negeri.
Posisi PT PAL menjadi konsolidator nasional yang memimpin koordinasi industri perkapalan. Proyek pembuatan dan perbaikan kapal dari BUMN lain akan diarahkan melalui PT PAL, lalu sebagian didistribusikan ke galangan kapal nasional lainnya.
PT PAL sebagai jangkar utama industri maritim nasional oleh Danantara, BUMN seperti PT Pelni (Persero) dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) juga diarahkan dan masuk dalam program pengadaan armada kapal melalui galangan domestik. BUMN yang pernah memesan kapal di PT PAL adalah PT Pertamina (Persero) atau anak usahanya, PT Pertamina International Shipping (PIS). Pertamina International Shipping (PIS) pernah memesan kapal tanker ukuran besar untuk distribusi bahan bakar minyak.
Kondisi keuangan PT PAL disebut menunjukkan peningkatan signifikan setelah sebelumnya sempat mengalami masa krisis dan arus kas minus. Pada tahun buku 2025, PT PAL membukukan kenaikan laba bersih tinggi sekitar 108,58 persen dibandingkan periode sebelumnya. Nilai kontrak berjalan atau on hand contract yang masif mencapai kisaran Rp42 triliun hingga Rp48 triliun, naik drastis dari rekor di masa lalu.
Pembangunan alutsista dan kapal besar, seperti kapal perang pesanan luar negeri dan Frigat Merah Putih berhasil dipercepat. Namun pada sekitar 2022 perusahaan sempat mencatat rasio utang cukup tinggi terhadap modal, akibat beban proyek dan krisis perbankan.
Betapa pun PT PAL dikenal luas sebagai soko guru perkapalan. Ia bisa menjadi tubuh kokoh di saat para galangan kecil butuh tempat bersandar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....