Poin Utama
- Bali memiliki desa-desa mandiri yang mampu membiayai kebutuhan sendiri dan menghasilkan laba dari potensi pariwisata dan sektor lokal dengan kepemimpinan kepala desa yang inovatif, inspiratif, dan tidak koruptif.
- Pariwisata terbukti menjadi sektor paling tangguh dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi, termasuk pandemi COVID-19 dan lesu perekonomian nasional yang melanda Indonesia.
- Desa-desa kecil di Bali dan berbagai daerah lain mampu bertahan dan berkembang dengan mengelola potensi lokal mereka secara optimal, menjadi bukti bahwa ketangguhan ekonomi regional dapat dicapai melalui manajemen pariwisata yang baik.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
BALI bukan hanya menyandang provinsi mandiri dan terkaya. Bali juga memiliki banyak desa yang piawai membiayai hidupnya, sekaligus mencetak laba dari beragam potensi daerahnya. Terbukti desa-desa hebat itu melangit via tambang emas pariwisata. Dipimpin kepala desa yang inovatif, inspiratif, tidak koruptif, dan sukses memberdayakan warganya.
Terbukti pula pariwisata lah yang paling tangguh hadapi berbagai krisis. Bali pernah terguncang wabah covid-19 yang mencekam. Berlanjut diuji perekonomian nasional yang sedang lesu darah, dan runtuhnya industri manufaktur nasional. Alih-alih Bali menjerit, justru melejit. Ketangguhan pariwisata juga dirasakan berbagai daerah dan desa-desa kecil yang mampu mengelola potensi dirinya.
| Baca juga: Euforia Lebaran dan Terkurasnya Tabungan |
Tengoklah Desa Kutuh di Bali dan Desa Ponggok di Jawa Tengah adalah dua desa yang sering disebut sebagai desa terkaya di Indonesia karena memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga miliaran rupiah per tahun. Semuanya didapat dari pengelolaan wisata lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Desa Kutuh terletak di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Desa tepi pantai ini menambang kekayaan melalui pengelolaan pariwisata populer khususnya Pantai Pandawa dan Tebing Tanah Barak.
Kutuh memiliki omzet pendapatan desa sekitar Rp50 miliar per tahun yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Sebelum tahun 2000-an, sebagian besar warga merupakan petani rumput laut dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Warga bergerak membuka dan mengembangkan kawasan pantai yang dulu kumuh dan tersembunyi menjadi destinasi kelas dunia.
Didukung sinergi yang kuat antara kepemimpinan adat dan kepala desa administrative, Kutuh mengubah Pantai Pandawa menjadi destinasi bahari utama dengan tebing kapur yang ikonik. Di sini terdapat Pantai Gunung Payung, sebuah kawasan wisata pantai lain dengan panorama pasir putih. Ada wisata paralayang (paragliding), berlokasi di bukit desa setempat dan dinilai sebagai salah satu titik terbang terbaik. Bersaing dengan Gunung Banyak di Batu Malang yang berkali-kali menjadi spot lomba paralayang nasional.
Menjual Spot Ikonik
Berada di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung yang merupakan wilayah Selatan Bali, desa ini memiliki banyak destinasi pantai yang indah, dan jadi top list destinasi yang memikat wisatawan domestik dan asing. Selain Pantai Pandawa, ada objek wisata alam lainnya seperti Pantai Gunung Payung, Pantai Timbis, Pantai Kongkongan, dan Gunung Payung Cultural Park.
| Baca juga: Rusia Pesta, Asteng Meradang |
Desa Kutuh juga mengelola berbagai unit olahraga menjadi tempat wisata, misalnya Bukit Pandawa Golf dan Country Club, juga lapangan bola I Ketut Lotri yang menjadi Kampung Bola Internasional. Semuanya menawarkan sensasi berolahraga di pinggir pantai. Beragam lokasi indah itu juga mendatangkan rejeki dari pemanfaatan bus keliling, menjual lokasi ikonik untuk spot pre-weding, restoran unik dan kolam renang, berikut payung peneduh bagi turis sepanjang pantai.
Meski memiliki dua pemimpin dalam satu desa, Pemerintah Desa Kutuh mampu mengelola mengelola sumber daya dan dana desa, tanpa menggeser budaya Bali. Desa Kutuh berada 25 kilometer dari pusat Pemerintahan Provinsi Bali, dan berjarak 15 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Aksesnya mudah dicapai siapapun dengan kendaraan apapun.
Tak kalah hebat Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sumber Kekayaannya diraup melalui sumber mata air umbul alami menjadi wisata pemandian dan foto bawah air. Pendapatan BUMDes mencapai belasan miliar rupiah per tahun, yang hasilnya dipakai untuk jaminan kesehatan dan beasiswa warga.
Ada juga Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Meski tanpa pariwisata menonjol, desa ini justru makmur melalui perikanan laut oleh para nelayannya. Pemandangan desa ini kaya warna dari deretan berbagai perahu nelayan. Cantik juga dijadikan spot foto dan instagram. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan modern dengan kapal-kapal besar, membuat mayoritas warga di desa ini mampu memiliki rumah mewah dan pendapatan tinggi.
Jatim Terbanyak
Kementerian Desa menyusun Indeks Desa Membangun (IDM) untuk menilai dan mengukur keberhasilan desa-desa di Indonesia. Peringkat teratas dengan skor kemandirian tinggi banyak dicapai desa. Contoh Desa Peliatan (Bali), Desa Panjalu (Jawa Barat), serta Desa Gentengkulon, Oro-Oro Ombo, dan Sidomulyo (Jawa Timur) yang masing-masing mencatatkan skor IDM nyaris sempurna yaitu 0,9981.
Desa Peliatan (Gianyar, Bali) skor IDM 0,9981, unggul dalam ketahanan ekonomi, sosial, dan lingkungan serta aktif mengembangkan desa wisata. Desa Panjalu (Ciamis, Jawa Barat) skor IDM 0,9981, pintar memanfaatkan potensi wisata religi dan danau Situ Lengkong untuk pendapatan asli desa. Desa Gentengkulon (Banyuwangi, Jawa Timur) skor IDM 0,9981: Pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan yang tertata mandiri di Banyuwangi. Desa Oro-Oro Ombo (Kota Batu, Jawa Timur) skor IDM 0,9981: Desa wisata produktif yang mengandalkan keasrian alam dan kreativitas warga. Masih di Batu terdapat desa Sidomulyo skor IDM 0,9981, sebuah sentra florikultura (tanaman hias) dan wisata bunga yang maju secara ekonomi.
Desa Ubung Kaja (Denpasar, Bali) skor IDM 0,9962, menciptakan kawasan perkotaan dengan tata kelola dan pelayanan publik berbasis digital yang sangat baik. Desa Merkawang (Tuban, Jawa Timur) skor IDM 0,9943: memiliki ketahanan sosial dan lingkungan yang kuat di wilayah pesisir utara Jawa.
Indikator Kemajuan Desa dinilai melalui tiga indikator utama, Ketahanan Sosial yakni tingkat kesehatan, pendidikan, modal sosial, dan pemukiman yang layak. Kedua, Ketahanan Ekonomi yakni keragaman produksi masyarakat, akses ke pusat perdagangan, dan lembaga keuangan. Indikator ketiga menyangkut Ketahanan Ekologi, yakni kualitas lingkungan hidup dan tanggap bencana yang berkelanjutan.
Jawa Timur mencatat jumlah desa mandiri terbanyak di Indonesia, yakni 4.716 desa. Berdasar data Indeks Desa 2025 posisi kedua ditempati Jawa Barat 2.774 desa, Jawa Tengah 2.208 desa, Kalimantan Barat 1.046 desa, Kalimantan Selatan 960 desa, Sulawesi Selatan 901 desa, Sulawesi Utara 785 desa, Riau 759 desa, Aceh 655 desa, dan Bali malah paling sedikit meski paling kaya, punya 524 desa mandiri. Di seluruh Indonesia tercatat 20.503 desa mandiri, 23.579 desa maju, 21.813 desa berkembang, 4.672 desa tertinggal, dan 4.694 desa sangat tertinggal.
Jatim adalah kontributor utama kemajuan desa di Indonesia, menyumbang 23 persen dari total desa mandiri nasional yang mencapai 20.503 desa. Terdapat peningkatan signifikan sebesar 17,34 persen dibanding tahun 2024 yang berjumlah 4.019 desa mandiri. Jatim pun sudah meluncurkan Program Desa Berdaya sejak tahun 2021 pada 538 desa yang tersebar di 29 kabupaten dan Kota Batu. Sedangkan program Desa Wisata Cerdas, Mandiri dan Sejahtera (Dewi Cemara) diwujudkan di 149 desa wisata. Jatim juga punya Desa Devisa bertujuan mengembangkan pasar bagi produk lokal untuk bisa ekspor.
Begitulah, kejayaan negeri ini bisa dibangkitkan dari unit terkecil desa. Berbagai desa maju itu tak hanya menahan arus urbanisasi, tetapi juga melambungkan asa kesejahteraan setara kota besar. Bahkan telah melebihinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....