Saatnya Kuatkan Ekspor Beras
- 28 Jul 2026 09:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sejak Februari lalu Indonesia ekspor beras premium ke Arab Saudi 2.280 ton senilai Rp150 miliar.
- Presiden Prabowo memuji kinerja Menteri Pertanian Dr Andi Amran Sulaiman sebagai hebat, berhasil mencapai swasembada beras.
- Swasembada juga butuh penguatan manajemen yang menjaga harga beras tetap stabil dan terjangkau.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
BERITA penting terdengar dari kantor Kementerian Pertanian, sejak Februari lalu Indonesia ekspor beras premium ke Arab Saudi 2.280 ton senilai Rp150 miliar. Beras ini mengisi kebutuhan 215 ribu jemaah haji musim 2026. Setiap tahunnya sekitar dua juta jemaah kita naik haji, ratusan ribu jemaah umrah, dan banyak warga Indonesia yang tinggal di negara itu. Permintaan beras diperkirakan akan terus berkembang.
Sejak kita swasembada beras, Negara langganan pengekspor beras ke Indonesia seperti Tiongkok, India, Vietnam, dan Thailand dibuat menderita. Pendapatan mereka dari ekspor merosot, sementara produksinya tetap tinggi. Akibatnya harga beras di pasar global ikut melemah akibat kelebihan pasokan. Tak sepenuhnya benar, melemahnya harga beras global disebabkan kita stop impor. Ada banyak variabel yang memengaruhinya.
Dunia mengakui hampir 90 persen produksi beras dunia dihasilkan Asia dengan produsen utama Tiongkok, India, Bangladesh, Vietnam, dan Thailand. Komoditas beras ini mirip dengan migas, sangat rentan mengalami gejolak harga akibat bencana alam, anomali iklim, hambatan distribusi, perang, maupun kebijakan politik yang dinamis. Politik beras global adalah cara negara-negara memakai pasokan dan perdagangan beras sebagai alat kekuasaan, diplomasi, serta perlindungan ekonomi dalam menghadapi krisis pangan, perubahan iklim, dan perubahan kebijakan domestik.
Banyak negara menjadikan swasembada beras sebagai simbol kedaulatan politik dan pertahanan nasional agar tidak tertekan dinamika geopolitik luar. Saat terjadi krisis atau cuaca buruk, negara pengekspor sering membatasi ekspor demi mengamankan stok dalam negeri, memicu kepanikan harga global. Isu beras juga acapkali dipakai untuk menaikkan citra penguasa, melindungi petani lokal, atau meredam gejolak sosial akibat inflasi harga pangan.
| Baca juga: Ke Mana Perginya Hi-Tech Kita? |
Petani Menua
Bukan hanya kali ini kita capai swasembada beras. Tahun 1984 swasembada beras pertama di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Keberhasilan ini dicapai melalui revolusi hijau, intensifikasi pertanian, serta bimbingan massal bagi petani yang mencatat puncak cadangan beras pemerintah hingga 2 juta ton. Saat itu budidaya padi di Indonesia merupakan yang terbaik di Asia. Pemerintah mensubsidi ketersediaan benih unggul, pupuk, pestisida melalui subsidi. Pabrik pupuk dibangun di Petro Kimia Gresik, Pupuk Sriwijaya di Palembang, dan Asean Aceh Fertilizer di Aceh.
Teknologi pertanian diajarkan kepada para petani melalui kegiatan penyuluhan. Dulu banyak para penyuluh pertanian di desa-desa, sesuatu yang berkurang drastis sekarang. Sumber daya manusia dibangun dengan mencetak sarjana-sarjana pertanian baik di lapangan maupun di lembaga penelitian kampus.
Soeharto berkata "Food is my last defence line". Kebijakan pangan pada masa itu mendekati level kemandirian pangan, namun terganjal beberapa indikator sehingga belum mencapai kedaulatan pangan. Kini kita menghadapi usia petani yang rata-rata menua, sementara anak muda desa lebih tertarik bekerja di sektor industri yang justru rentan PHK. Petani usia tua menjadi tantangan serius peningkatan produksi di hampir semua komoditas pertanian. Kabar baiknya berbagai inovasi budi daya pertanian, ternyata juga banyak diciptakan secara swadaya oleh pegiat muda secara otodidak.
Presiden Prabowo memuji kinerja Menteri Pertanian Dr Andi Amran Sulaiman sebagai hebat, berhasil mencapai swasembada beras. Presiden juga menaikkan stok pupuk dua kali lipat, agar petani tak kesulitan mendapatkannya. Namun yang terjadi sudah delapan bulan pupuk disalurkan, hingga Juli masih banyak kepala desa di Jawa dan Sumatera yang belum terima. Bahkan ada yang sama sekali belum pernah dengar adanya tambahan stok pupuk. Rantai birokrasi dan distribusi ternyata belum menjamin kecepatan.
Capaian Tertinggi
Alhasil hingga 18 Mei 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Ini menjamin penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus potensi membuka ekspor dan bantuan kemanusiaan. Stok akhir Desember 2026 tetap aman dikisaran 5 juta ton. Secara nasional produksi beras pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton dibanding tahun sebelumnya atau naik sekitar 13,29 persen. Kebutuhan domestik sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan.
Untuk mendukung distribusi jangka panjang, Bulog juga menyiapkan gudang penyimpanan beras di Arab Saudi. Lokasinya di 3 hektare kawasan Kampung Haji berupa kawasan berikat yang bebas pajak. Kapasitasnya minimal 1.000 ton satu gudang. Wamentan Sudaryono mengatakan selain ekspor, pemerintah juga menyalurkan bantuan kemanusiaan 10 ribu ton beras untuk Palestina.
Selain beras, ekspor global kita yang sudah cukup mapan adalah kelapa sawit (CPO), karet, kopi, kakao, dan rempah-rempah. Kelapa sawit dan turunannya menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Produk hulu andalan karet dikirim ke banyak negara industri. Sedangkan kopi seperti Arabika, Robusta, Gayo, hingga Kopi Luwak diekspor terutama ke Amerika Serikat dan Asia. Biji kakao dan produk olahannya memenuhi kebutuhan industri cokelat global. Potensi besar terdapat pada kekayaan rempah-rempah meliputi lada (hitam dan putih), biji pala, cengkeh, dan vanili. Didukung tanaman obat dan aromatik, buah-buahan tropis, sayuran, daging ayam, telur, sosis, dan nugget memasuki pasar Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
Singkat cerita, swasembada beras bukan keberanian sesaat. Ia masih butuh konsistensi, stamina dan kerja keras. Berbagai pendukung diperlukan intensifikasi masal untuk mendidik petani memakai teknologi modern, tersedia bibit padi unggul, pupuk kimia, obat pembasmi hama, menambah luasan sawah baru, menambah bendungan dan jaringan irigasi secara masif. Penting pula modal berbunga rendah bagi petani untuk membeli sarana produksi. Swasembada juga butuh penguatan manajemen yang menjaga harga beras tetap stabil dan terjangkau, serta menjamin nilai tukar petani. Betapapun jalan menuju ‘ketahanan dan kedaulatan pangan’ panjang dan berliku, langkah surut tak boleh terulang lagi.***
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....