Kapan Panen Listrik dari Laut?

  • 24 Agt 2026 13:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar dari panas bumi, sinar matahari, air terjun, dan arus laut yang belum optimal dimanfaatkan untuk mengatasi kekurangan listrik.
  • Laut Indonesia yang luasnya tiga kali lebih besar dari daratan dengan lebih dari 12.000 pulau menyimpan potensi arus laut yang dapat menggerakkan turbin pembangkit listrik tanpa biaya operasional tinggi.
  • Indonesia dianggap terlambat dalam transisi dari teknologi pembangkit diesel dan batu bara ke energi terbarukan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

SEHARUSNYA negeri ini tidak perlu kekurangan listrik. Alam nusantara menyediakan semua yang kita butuhkan, sebagian besar bisa dipakai gratis. Pembangkit diesel kini terasa kuno karena menghabiskan kekayaan bumi batu bara yang tidak bisa diperbarui. Kita memang telah memanfaatkan panas bumi, sinar matahari, air terjun, dan sampah, ternyata masih jauh dari cukup.

Mari kita lihat laut, yang luasnya tiga kali luas daratannya, dihuni lebih 12.000 pulau dan ratusan selat. Di sana tersimpan berlimpah arus laut yang selalu mengalir tanpa biaya. Dari ribuan pantai, ribuan pulau dan selat, tersembunyi penggerak turbin yang menghasilkan daya besar listrik. Boleh di kata kita terlambat memanfaatkannya, terlalu lama bergantung pada teknologi diesel dan uap.

Gagasan tentang Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) komersial skala besar, masih dalam tahap pembangunan dan persiapan operasional. Pengujian berada di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), serta uji coba riset di Bali dan Jawa Timur.

Selat Larantuka/Selat Gonzalu di Flores Timur, NTT terpilih menjadi lokasi strategis perencanaan PLTAL terintegrasi dan tempat uji coba awal prototipe. Selanjutnya NTT dan NTB direncanakan menjadi titik awal pembangunan kapasitas komersial. Di Nusa Penida juga berpotensi dibangun pembangkit arus laut untuk mendukung kemandirian energi bersih. Selat Madura di Jawa Timur pernah menjadi lokasi pengujian purwarupa, namun potensinya tak memadai.

Kerja Sama PT PAL

Kini PLN berkolaborasi dengan industri perkapalan PT PAL Indonesia, mengerjakan konstruksi struktur floater untuk instalasi PLTAL pertama guna menyuplai listrik di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) khususnya di perairan berarus kuat kawasan Indonesia Timur.

Pembangkit kapasitas total 40 MW sedang disiapkan di NTT dan NTB yang ditargetkan beroperasi bertahap mulai 2028. Akan disusul Nusa Penida yang akan beroperasi 2029. Potensi Arus Laut berikutnya ada di Selat Larantuka (NTT), Selat Badung dan Selat Lombok (Bali & NTB), Selat Alor (NTT), Perairan Raja Ampat di Papua Barat Daya, dan Perairan Jeneponto di Sulawesi Selatan.

Pembangkit Listrik ini memanfaatkan kekuatan arus laut untuk menggerakkan turbin yang kemudian menghasilkan energi listrik yang tergolong energi baru dan terbarukan (EBT). Potensinya mencakup energi angin pesisir (offshore wind), energi surya terapung (floating solar photovoltaic), arus laut, dan energi gelombang. Kebutuhan ekonomi biru dan hijau kian mendesak. Perubahan iklim juga menuntut pengelolaan ruang laut yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Di dunia teknologi energi laut sudah lama berkembang. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengkaji jenis teknologi yang paling sesuai diterapkan di Indonesia, didukung kajian serupa oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebuah perusahaan pengembang energi arus laut, Naval Energies, di Cherbourg, Prancis, memiliki teknologi turbin sederhana. Hanya satu bagian (satu sisi) yang bergerak menggunakan air laut sebagai pelumas. Biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah jika dibandingkan menggunakan teknologi propeler. Teknologi ‘open hydro open centre turbine’ ini memiliki diameter 16 meter dan kecepatan arus 2-5 meter per detik dapat menghasilkan listrik 2 MW.

Pemerintah telah merilis Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034, pada 26 Mei 2025 lalu. Ditargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik baru secara total 69,5 Giga Watt (GW). Dari total kapasitas ini 76 persen berasal dari EBT atau sekitar 42,6 GW akan berasal dari pembangkit EBT dan 15% atau sekitar 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi (storage).

Dari tambahan 42,6 GW pembangkit EBT tersebut, terbesar akan berasal dari sumber energi surya 17,1 GW atau mencapai 40,1 persen. Selain itu, tambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga air ditargetkan mencapai 11,7 GW atau 27,4 persen dari total tambahan EBT.

Tenaga Angin

Data Mongabay menyebutkan Indonesia memiliki potensi energi arus laut sekitar 41 gigawatt yang dapat menghasilkan daya listrik hingga 240 ribu megawatt. Potensi besar ini belum termanfaatkan, baru satu perusahaan Belanda menawarkan investasi tahun ini.

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menilai pemanfaatan energi ini masih terkendala teknologi dan investasi besar. Biaya dan harga beli listriknya lebih mahal daripada energi lain.

Namun perkembangan teknologi terbaru mampu memangkas biaya produksi hingga hasilkan harga jual listrik kompetitif untuk Indonesia. Pemerintah mengatur harga beli listrik dari PLTA laut maksimal 85 persen dari biaya pokok produksi (BPP) setempat. Seperti pembangkit energi terbarukan lainnya, PLTA laut memakai sistem build, own, operate and transfer (BOOT) setelah masa kontrak habis pembangkit akan jadi milik pemerintah.

Jauh hari di tahun 2016, sudah berminat Tidal Bridge BV, perusahaan Belanda berkongsi dengan Strukton International dan Dutch Expansion Capital. Kerja sama ini ditandatangani Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte.

Kajian pertama Tidal Bridge mencatat arus laut di bawah 2,8 meter per detik. Kajian kedua ditemukan arus berkecepatan empat sampai 5 meter per detik. Dengan hasil ini, PLN bisa membangun pembangkit hingga 20 mw untuk menyuplai listrik lebih 100 ribu orang.

Tidal Bridge menyatakan proyek akan berkontribusi terhadap pengembangan wilayah timur Indonesia dan hubungan antarpulau, sehingga berdampak langsung pada perikanan dan agro budidaya.

Teknologi energi arus laut mengadopsi teknologi energi angin. Dengan mengubah energi kinetik arus laut jadi energi rotasi dan listrik. Daya yang dihasilkan turbin arus laut lebih besar dari turbin angin karena massa air laut hampir 800 kali rapat massa udara.

Beberapa negara sudah pakai teknologi ini antara lain Skotlandia, Swedia, Prancis, Norwegia, Inggris, Irlandia Utara, Australia, Italia, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Kecepatan arus pasang surut di pantai Indonesia sekitar 1,5 meter per detik kecuali di selat antara Bali, Lombok dan Nusa Tenggara bisa 3,4 meter per detik.

Arus terkuat tercatat di selat antara Pulau Taliabu dan Mangole di Kepulauan Sula, Maluku Utara, kecepatan sampai 5 meter per detik dengan durasi dua sampai tiga jam perhari. Kelebihan arus laut sebagai pembangkit listrik karena relatif stabil, periodik dan pola dan karakteristik dapat diprediksi.

Kita pun sudah memanfaatkan tenaga angin, disebut Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Sekarang yang sudah beroperasi adalah PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan dan PLTB Jeneponto di Sulawesi Selatan. Pembangkit ini berada di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, memiliki 30 kincir angin raksasa dengan kapasitas total 75 MW.

Begitulah ruang laut, bentang udara dan sinar matahari kita menyimpan potensi EBT yang luar biasa besar. Dari laut saja kita bisa memanen energi angin pesisir, energi surya terapung, hingga energi arus laut dan gelombang. Panen listrik dari laut akan menjawab kegetiran kita tentang listrik yang murah untuk semua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....