Buanglah Sampah pada Pembangkit

  • 20 Agt 2026 21:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia sedang mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi energi terbarukan yang murah dan berlipat ganda manfaatnya.
  • Konversi sampah menjadi sumber energi listrik akan dipercepat melalui program pembangunan infrastruktur di berbagai kota besar Indonesia yang mengalami krisis sampah.
  • Surabaya telah memiliki sejarah panjang dalam mengelola sampah kota, termasuk pengalaman mengoperasikan mesin incinerator di Sukolilo yang kini sudah tidak digunakan dan dialihkan ke tempat pembuangan akhir di Benowo.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

SETELAH memanen matahari sebagai pembangkit listrik permanen yang murah, tidakkah kita melirik sumber energi lain yang berlimpah dan terbuang, sampah. Ya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau sering disebut Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sudah ada dan beroperasi di Indonesia. Konversi sampah sebagai sumber energi akan dipacu melalui program percepatan pembangunan infrastruktur di beberapa kota. Selama ini sampah menjadi hantu kota besar. Bandung, Jakarta, Pulau Bali, sudah merasakan deritanya.

Surabaya memiliki sejarah panjang menaklukkan sampah kota. Tempat pembuangan yang lama di Sukolilo pernah memiliki mesin pengolah (incenerator) yang sebatas membakar, belum menghasilkan daya listrik. Mesin pengolah itupun sudah lama teronggok jadi besi tua. Kini Surabaya mengalihkan tempat pembuangan akhir di Benowo sebelah barat kota. Gunung sampah Benowo sudah tinggi dan nyaris ‘menggelamkan’ stadion sepak bola bertaraf internasional, Gelora Bung Tomo.

Di Benowo inilah beroperasi pembangkit listrik sejak 2021, menggunakan kombinasi teknologi landfill gas (1,65 MW) dan gasifikasi (9 MW) berkapasitas olah sampah yang besar. Kapasitas terpasangnya 11-12 Megawatt (MW) dan mampu mengolah sekitar 1.000 hingga 1.600 ton sampah per hari. Sebagian besar sekitar 9 MW listriknya dijual ke PLN. Benowo mengolah rata-rata 1.000 ton sampah per hari secara terpadu. Teknologi Landfill gas (gas metana) menghasilkan sekitar 1,65 MW dari pengolahan gas sampah organik. Sedangkan teknologi gasifikasi (termokimia) menghasilkan sekitar 9 MW–10 MW dari pengolahan sampah non-organik.

Pembangkit sampah Benowo dijadikan percontohan nasional pertama teknologi waste-to-energy (WtE) di Indonesia. Dalam perjalanannya pernah mengalami masalah operasional dan finansial. Sebuah kajian ilmiah ahli Universitas Indonesia mencatat PLTSa Benowo pernah mengalami default finansial yang dipicu oleh kombinasi faktor pemangkasan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 49 perrsen; struktur capital cost yang masih memerlukan subsidi pemerintah berkelanjutan sebesar Rp 200 miliar per tahun; serta kegagalan dalam pengelolaan residu berbahaya dan emisi yang lebih tinggi dari guideline WHO 5.

Solusi Strategis

Kebijakan Sampah Nasional Indonesia masih menghadapi tantangan pengelolaan sampah padat perkotaan yang sangat kompleks. Dengan populasi lebih 275 juta jiwa negeri ini menghasilkan sekitar 65 juta ton sampah per tahun, dengan rata-rata 178 ton per hari per kota besar seperti Surabaya. Pemerintah berkomitmen mengurangi penggunaan landfilling, untuk mencapai zero open burning pada 2030. Dalam konteks ini, teknologi Waste-to-Energy (WtE) diposisikan sebagai solusi strategis untuk mengurangi beban landfill dan secara bersamaan menghasilkan energi listrik terbarukan.

Kebijakan ini didukung oleh Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan, yang mengintegrasikan pendekatan hulu-hilir. PLTSa Benowo, sebagai percontohan nasional pertama teknologi WtE berbasis gasifikasi, merupakan joint venture antara PT Sumber Organik (operator) dan Pemerintah Kota Surabaya. Dukungan finansial dari Pemerintah Indonesia melalui mekanisme BLPS (Biaya Layanan Pengolahan Sampah). Proyek pembangunan PLTSa selanjutnya mencakup Solo, Palembang, Denpasar, serta rencana baru di Sulawesi Selatan.

Bagaimana dengan kota megapolitan Jakarta? Gunung sampah Bantar Gebang baru punya fasilitas PLTSa skala kecil yang berfungsi sebagai sarana riset dan percontohan waste-to-energy. Cara Kerja PLTSa itu dengan mengumpulkan sampah, lalu dikeringkan atau dipilah agar memiliki nilai bakar yang baik. Sampah lalu dibakar pada suhu sangat tinggi sekitar 850–1.100 derajat Celsius. Panas dari pembakaran dipakai untuk memanaskan air di dalam boiler hingga menjadi uap bertekanan tinggi. Uap panas tersebut menggerakkan turbin yang terhubung ke generator, sehingga menghasilkan energi listrik. Gas buangnya disaring menggunakan teknologi canggih agar aman dan tidak mencemari udara.

Masih Ada 12 Lagi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap 12 pembangkit sambah yang bakal beroperasi di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, Kota Makassar, Kota Denpasar, Kota Palembang dan Kota Manado. Surabaya akan menjadi kota pertama yang mengoperasikan pembangkit listik berbasis biomassa tersebut dari volume sampah sebesar 1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar USD49,86 juta.

PLTSa kedua berada di Bekasi nilai investasi USD120 juta dengan daya 9 MW. Selanjutnya, ada tiga pembangkit sampah berlokasi di Surakarta 10 MW, Palembang 20 MW, dan Denpasar 20 MW. Total investasi dari tiga lokasi yang akan menyerap 2.800 ton sampah perhari itu sebesar USD297,82 juta. Sedangkan Jakarta menghasilkan 38 MW dengan investasi USD345,8 juta. Bandung dengan kapasitas 29 MW investasinya USD 245 juta, Makassar, Manado, dan Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas 20 MW investasinya sama, yaitu USD120 juta.

Dari 12 usulan proyek itu 4 di antaranya memiliki perkembangan cukup baik. Sebagian besar peralatan dibuat di dalam negeri dengan kapasitas sampah yang diolah 100 ton/hari, menghasilkan listrik 700 kilowatt hour (kWh).

Terdengar begitu mudah solusi ini. Sampah yang tak berguna masih bisa jadi sumber listrik. Tak butuh teknologi rumit dan canggih. Tantangan terbesarnya terletak pada kecerdasan mengatur keuangan dan biaya, agar proyek ini tak beraksi seumur jagung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....