Menguji Tiga Gili Sehebat Bali

  • 14 Agt 2026 17:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bali tetap menjadi wilayah unggulan pariwisata Indonesia dengan keunggulan di Pendapatan Asli Daerah, ketahanan budaya lokal, hospitality warga, dan infrastruktur pendukung.
  • Pulau Bali berhasil bangkit dengan cepat setelah mengalami dampak parah akibat pandemi Covid-19 dan kini menjadi model kesuksesan bagi daerah lain.
  • Berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia sedang mengembangkan pariwisata mereka dengan mengikuti jejak kesuksesan Bali, mendorong pertumbuhan di sektor pendukung seperti transportasi, akomodasi, properti, dan kuliner.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

BELUM ada wilayah yang mampu menyaingi Pulau Bali dalam memanen pariwisata. Pulau Dewata unggul di banyak aspek sekaligus; Pendapatan Asli Daerah, ketahanan budaya lokal, hospitality warga, dan infrastruktur pendukung. Bali yang pernah terjerembab parah saat virus covid-19 merebak, toh mampu bangkit cepat. Kini

berbagai DTW (Daerah Tujuan Wisata) prioritas di Indonesia, berusaha meretas jejak sukses ini. Pariwisata dalam ragam level dan skala, tumbuh di mana-mana. Hidden-gem disulap menjadi kawasan menarik yang subur pendapatan. Upaya ini serta merta memicu pertumbuhan di banyak sektor ikutannya seperti transportasi, akomodasi, properti, kuliner, hasil pertanian, perbankan.

Dari Bali kita berharap kemakmuran pariwisata merembes ke tetangga terdekatnya, Pulau Lombok dan pulau-pulau indah sekitarnya. Di Lombok Utara terdapat segitiga pulau di gugusan Desa Gili Indah (kecamatan Pemenang) yang mencakup Pulau Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Pusat pemerintahan desa berada di Gili Air, dihuni seribuan warga domestik, seimbang jumlahnya dengan turis asing yang menginap. Inilah pulau di Nusantara yang paling sesak didiami turis manca, sesudah Bali. Pendapatan Desa Gili Indah dari dana desa dan bagi hasil pajak kabupaten mencapai sekitar Rp4 miliar hingga Rp5 miliar per tahun, menjadikannya salah satu desa dengan pemasukan terbesar di Lombok Utara.

Pendapatan Desa itu ditopang bagi hasil Pajak Kabupaten sekitar Rp4 miliar per tahun dari pajak pariwisata daerah. Masih ada tambahan Dana Desa & Alokasi Dana Desa (ADD) sekitar Rp879 juta serta alokasi dana desa sekitar Rp900 juta. Gaji rata-rata pekerja pariwisata (hotel/restoran) di kawasan ini bisa mencapai Rp3 juta per bulan, sedangkan pelaku transportasi laut mendapatkan sekitar Rp400 ribu per hari.

Prioritas Gili Air

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Denda Dewi Tresni Budi Astuti, kepada RRI mengatakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp 8,4 miliar untuk penataan ketiga pulau Gili tersebut. Dana ini difokuskan pada peningkatan infrastruktur di Gili Air, meliputi pembangunan talut, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST), dan penanganan abrasi. Diakui Gili Air menjadi prioritas utama pengembangan, tanpa mengabaikan penataan di Gili Trawangan dan Gili Meno.

Gili Air yang berarti ‘Pulau Kecil Air’ paling dekat dengan daratan Lombok dan yang paling mudah diakses. Sekitar 1.000 penduduk lokal tinggal di Gili Air, mayoritas pelaut Bugis dari Sulawesi yang sudah menetap bertahun-tahun.

Banyak generasi tua di sini masih mencari nafkah sebagai awak kapal, nelayan, dan petani kelapa. Gili Air berada di pantai timur, menghadap Pulau Lombok dan Gunung Rinjani, menyajikan pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Spot matahari terbenamnya yang menampakkan Gunung Agung di Bali terlihat dari pantai selatan dan barat.

Di sisi selatan dan timur tergelar pantai terbaik dengan air biru jernih dan pasir putih. Inilah kawasan menyelam dan snorkeling yang menawan, berhiaskan karang lunak berkilauan kuning dan oranye. Terdapat pula habitat ikan kalajengking dan ribuan ikan kaca, penyu, kuda laut. Di perairan yang lebih dalam terdapat hiu karang berujung putih dan kawanan spesies ikan yang lebih besar. Gili Air juga menarik bagi para peselancar, ombaknya bagus di lepas pantai selatan pulau ini.

Damai di Gili Meno

Gili Meno terletak di tengah dan terkecil dari tiga Kepulauan Gili. Panjang hanya dua kilometer dan lebar satu kilometer, pulau ini dapat dijelajahi dengan berjalan kaki dalam dua jam saja. Hanya beberapa ratus saja penduduknya, Gili Meno lebih tenang, sederhana, damai, dan murah. Pulau sunyi ini ideal sebagai tempat pelarian dari berisik suara sepeda motor, mobil, atau anjing.

Satu-satunya alat transportasi adalah sepeda, cidomo (kereta kuda), dan perahu untuk mobilitas antarpulaunya. Tidak ada air tawar, sebagian besar hotel menggunakan air asin untuk pancuran, meski sejumlah air tawar diimpor setiap hari. Listrik dipasok generator. Beberapa hotel kecil dan gubuk-gubuk sederhana tepi pantai adalah tempat berlindung para pencari ketenangan dan pasangan bulan madu.

Pendapatan warganya berasal dari pariwisata, perikanan, dan perkebunan kelapa. Aktivitas utama pengunjung adalah snorkeling dan menyelam. Spot terbaik snorkeling adalah Blue Coral Point di lepas pantai timur laut. Terumbu karangnya menampilkan banyak spesies karang dan ikan berwarna-warni. Di malam hari, penyelam dapat menyaksikan belut moray besar dan sotong kecil.

Gili Meno dilengkapi klinik medis, toko-toko sederhana, warnet, penukaran uang, dan Pusat Informasi Wisata. Kulinernya dilayani warung atau kafe menyajikan ikan bakar dan masakan Barat terutama piza. Pengunjung bisa menikmati taman burung tertutup seluas 2.500 meter persegi dengan koleksi warna-warni dari Asia dan Australia, terletak di pedalaman Desa Gili Indah. Di tempat pembibitan penyu di Meno, tukik disimpan di tangki penampungan sampai mereka cukup besar dan sehat untuk dilepaskan ke laut. Pengunjung boleh ikut program pelepasan tukik ini.

Pulau Lombok juga menyimpan keindahan Gunung Rinjani yang setiap hari dipadati ratusan pendaki asing. Perjalanan ke sana melalui Sembalun, Anda akan dipesonai keindahan alamnya. Lembah Rinjani juga menyimpan sejuta kenangan untuk diabadikan. Sedangkan sirkuit balap motor Mandalika diharapkan menghidupkan sisi selatan.

Lombok masih menghadapi sejumlah tantangan. Infrastrukturnya terbatas meski sudah memiliki bandara internasional, tetapi fasilitas jalan dan transportasi publik masih jauh dari ideal. Akses ke beberapa area pariwisata yang terpencil sulit. Dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas keterampilannya. Juga perlu diatasi masalah lingkungan dan dampak negatif pariwisata, seperti polusi air dan udara, kerusakan lingkungan, dan hilangnya habitat alami.

Menjadi tetangga Bali, Pulau Lombok diuntungkan dengan luberan wisatawan yang besar. Kuncinya Lombok harus tampil dengan diversifikasi yang tidak menduplikasi Bali, melainkan justru memerkaya. Menikmati Bali tak lengkap tanpa ke Lombok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....