Sumbar Butuh Pemimpin yang Peka Bencana dan Peduli Lingkungan
- 10 Agt 2026 10:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Diskusi dengan Sekretaris Utama BNPB Dr. Rustian menghasilkan poin-poin penting terkait pengelolaan bencana di Sumatra Barat.
- Sumatra Barat memiliki potensi ekonomi besar namun menghadapi risiko bencana tinggi mencakup gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.
- Diperlukan strategi mitigasi bencana komprehensif untuk melindungi masyarakat Sumatra Barat dari berbagai ancaman alam.
PAGI ini, saya berdiskusi dengan Sestama BNPB, Dr. Rustian. Pembicaraan tersebut sangat menarik dan memberikan beberapa poin penting untuk tulisan ini.
Sumatra Barat merupakan daerah yang memiliki potensi besar sekaligus risiko bencana yang tinggi. Risikonya meliputi gempa bumi, tsunami, banjir, hingga tanah longsor.
Kondisi tersebut membuat Sumatera Barat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya fokus pada ekonomi. Pemimpin juga harus memiliki sense of development, sense of disaster, dan sense of ecology secara seimbang.
Sense of disaster berarti memahami, membaca, dan mengantisipasi risiko bencana sejak awal. Sementara sense of ecology berarti menyadari keterkaitan pembangunan, tata ruang, lingkungan, dan keselamatan masyarakat.
Pandangan tersebut semakin kuat setelah saya berdiskusi dengan Sestama BNPB, Dr. Rustian. Pandangan itu juga terbentuk melalui berbagai forum kebencanaan internasional yang pernah saya ikuti.
Saya pernah mengikuti forum bersama Asian Disaster Preparedness Center di Thailand pada 2015. Saya juga mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat pada 2017.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ada satu hal penting yang saya pegang. Ketangguhan tidak dibangun setelah bencana terjadi, tetapi harus disiapkan jauh sebelum bencana datang.
Bencana Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan
Sudah saatnya bencana tidak lagi dipandang sebagai urusan lembaga tertentu saja. Pengurangan risiko bencana harus menjadi bagian dari visi pembangunan, tata ruang, hingga anggaran daerah.
Setiap infrastruktur yang dibangun harus berbasis risiko bencana. Sekolah harus tahan gempa, sedangkan rumah sakit harus tetap berfungsi saat keadaan darurat.
Fasilitas publik lainnya juga harus dipersiapkan menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Dengan demikian, manajemen bencana tidak lagi bersifat reaktif, tetapi menjadi bagian utama pembangunan.
Pembangunan Harus Memiliki Sense of Ecology
Selain memahami risiko bencana, pemimpin daerah harus memiliki kepedulian kuat terhadap lingkungan. Setiap wilayah memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari hutan, daerah resapan, sungai, hingga kawasan pesisir.
Di Sumatra Barat, pembangunan terutama di wilayah hulu harus memperhatikan daya dukung lingkungan. Kerusakan daerah resapan dapat berdampak langsung ke wilayah hilir melalui peningkatan risiko banjir.
Karena itu, pengelolaan lingkungan harus dilihat sebagai satu sistem utuh. Pendekatan tersebut mencakup wilayah hulu hingga hilir dalam satu kesatuan daerah aliran sungai.
Reboisasi Harus Menjadi Kerja Serius
Reboisasi jangan lagi sekadar menjadi kegiatan simbolis atau seremonial. Program tersebut harus menjadi kerja serius untuk memulihkan ekosistem secara nyata dan berkelanjutan.
Program reboisasi perlu dikombinasikan dengan agroforestri dan perlindungan daerah resapan air. Pelibatan masyarakat lokal juga penting agar manfaatnya dirasakan lingkungan dan ekonomi warga.
Atasi Banjir dari Hulu, Bukan Hanya Hilir
Selama ini, penanganan banjir sering berfokus pada wilayah hilir. Padahal, sumber persoalannya banyak terjadi di wilayah hulu.
Jika ekosistem hulu tidak diperbaiki, banjir berpotensi terus berulang setiap tahun. Karena itu, pendekatan menyeluruh berbasis ekologi sudah menjadi sebuah keharusan.
Tiga Sense dalam Kepemimpinan Daerah
Ke depan, kepemimpinan di Sumatera Barat harus bertumpu pada tiga hal utama. Ketiganya adalah sense of disaster, sense of ecology, dan sense of development.
Sense of disaster berarti memahami risiko dan membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Sense of ecology berarti menjaga daya dukung lingkungan sebagai bagian penting pembangunan.
Sementara sense of development berarti tetap mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketiga hal tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dalam setiap kebijakan pembangunan.
Ke depan, Sumatra Barat membutuhkan agenda besar bertajuk “Disaster Resilient and Ecologically Sustainable West Sumatra”. Agenda tersebut mencakup penataan ruang, pembangunan infrastruktur, pendidikan kebencanaan, dan pemulihan lingkungan.
Pemimpin daerah juga harus mampu mengorkestrasi pembiayaan penanggulangan serta pemulihan pascabencana. Upaya tersebut perlu melibatkan pemerintah pusat, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal membangun infrastruktur dan menggerakkan ekonomi. Kepemimpinan juga berarti memastikan keselamatan manusia serta keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Sumatra Barat yang kita harapkan adalah daerah dengan ekonomi yang terus tumbuh dan lingkungan yang terjaga. Masyarakatnya juga harus semakin tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana.
Oleh: Genius Umar (Mantan Walikota Pariaman, Analis Kebijakan Publik, Dosen Magister Administrasi Publik Universitas Negeri Padang)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....