Durian Kita, Permata Tidur

  • 16 Jul 2026 15:03 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia memproduksi 2 juta ton durian per tahun sebagai produsen terbesar dunia, tetapi hanya mengekspor 600 ton senilai USD1,8 juta pada 2024, sementara Tiongkok mengimpor 1,56 juta ton durian senilai USD6,9 miliar.
  • Indonesia memiliki 21 dari 27 spesies durian dunia dengan 114 varietas terdaftar, namun belum ada brand nasional tunggal yang menjadi identitas Indonesia di pasar ekspor global.
  • Pemerintah telah menandatangani Protokol Ekspor Durian Beku Indonesia ke Tiongkok pada Mei tahun lalu, membuka akses ekspor resmi dengan fokus pada traceability dan sertifikasi kesehatan tumbuhan.
  • Tantangan utama adalah lemahnya standarisasi, konsistensi produksi, rantai dingin, dan fasilitas ekspor berstandar internasional yang diperlukan untuk merebut pasar global senilai miliaran dolar.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

PENASARAN dan gemas kita dengan nasib durian Indonesia. Bayangkan, kita diakui sebagai penghasil durian terbesar di dunia, mengalahkan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Tetapi mengapa belum juga berhasil kita menembus pasar dunia. Di antara ratusan, bahkan mungkin ribuan ragam lezat durian kita, tak kunjung tercetus brand ‘Durian Indonesia’.

Tak kalah dari kekayaan tambang, durian kita bagaikan gunung emas yang teronggok diam, minus strategi produksi dan pemasaran. Perhatikan data english.news.cn pertengahan tahun lalu, yang menyebutkan Indonesia memproduksi sekitar 2 juta ton durian per tahun, terbesar di dunia.

Ironisnya, yang diekspor hanya 600 ton senilai USD1,8 juta pada 2024. Pada tahun yang sama, Tiongkok mengimpor 1,56 juta ton durian senilai USD6,9 miliar, sebagian besar dari Thailand dan Vietnam.

Padahal Indonesia punya kelebihan, karena musim panen berbeda di tiap pulau, sehingga kita bisa memasok durian hampir sepanjang tahun. Thailand dan Vietnam saja hanya bisa panen durian secara musiman. Tanpa keseriusan menangani standar mutu, konsistensi produksi, dan branding global, keunggulan ini hanya terkulai di atas spanduk panggung diskusi Kementerian.

Sejauh ini baru Sulawesi Tengah yang berupaya melangkah serius. Pemerintah provinsi setempat menyiapkan 400 desa untuk mengejar sertifikasi ekspor durian, bekerja sama dengan otoritas karantina Indonesia dan General Administration of Customs of China (GACC). Meniru jalan sukses Malaysia, Sulawesi Tengah juga memulai langkahnya dengan ekspor durian beku.

Total kita memiliki 21 dari 27 spesies durian yang dikenal di dunia, dan 114 varietasnya sudah terdaftar untuk varietas unggul baru. Ini belum terhitung jenis durian liar yang belum teridentifikasi, yang sudah dibudidayakan para petani secara swadaya di seantero negeri. Daerah penghasil durian tertinggi adalah Jatim, Sumbar, Jateng, Sumut, dan Jabar.

Jawa Timur menduduki peringkat pertama dengan produksi 488.356 ton, disusul Sumatra Barat 304.119 ton, dan Jawa Tengah 211.898 ton. Provinsi lain seperti Sumatra Utara, Jawa Barat, hingga Sulawesi Tengah juga berkontribusi signifikan dalam memenuhi kebutuhan pasar durian lokal maupun nasional.

Total produksi durian dari 10 provinsi penghasil utama ini mencerminkan kekayaan hasil bumi Indonesia. Di samping kelezatannya yang khas dan sangat beragam, durian juga berhasil menjadi komoditas unggulan yang mendukung perekonomian daerah.

Di Mana Masalahnya?

Sumber UMKM.id mengutip pendapat Shawn Corrigan dalam artikelnya di LinkedIn, menyebut di tengah tingginya permintaan global, posisi Indonesia masih tertinggal jauh dari tetangganya.

Menanam lebih banyak durian dibanding negara mana pun, tapi tidak memanfaatkannya secara maksimal. Potensi emas miliaran USD durian lenyap begitu saja karena tidak ada strategi nasional yang kuat.

Setiap daerah memiliki varietas unggulan khasnya. Di Sumatra Utara ada Durian Medan yang terkenal karena rasa manis dan teksturnya lembut; di Jawa Tengah ada Durian Menoreh dan Durian Bawor dari Banyumas; di Jawa Timur ada Durian Mlancu dan Durian Merah Banyuwangi; sementara di Papua Barat ada Durian Pelangi dengan gradasi warna merah, kuning, dan putih yang unik. Varietas populer lain seperti Durian Petruk, Montong, Kani, dan Musang King juga banyak dibudidayakan di berbagai daerah.

Keberagaman varietas ini menunjukkan betapa luasnya potensi durian Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah lemahnya upaya standarisasi dan ketertelusuran (traceability). Hingga kini belum ada varietas nasional yang menjadi identitas tunggal Indonesia di pasar ekspor.

Sementara itu Thailand membangun reputasi sebagai eksportir utama berkat standar mutu dan rantai pasok yang mapan. Vietnam menyesuaikan sistem pertaniannya dengan standar ekspor Tiongkok, dan kini menguasai hampir 40% pasar durian di sana. Malaysia memulai ekspor lewat durian beku, lalu mengembangkan merek premium Musang King untuk pasar segar. Sedangkan Indonesia, kata Corrigan, masih terjebak di pasar domestik dan menikmati hasil panen besar tanpa arah strategis.

Durian adalah ‘senjata rahasia’ kita yang seharusnya mengglobal, agar dunia tahu varietas lokal kita sama bagusnya, bahkan mungkin lebih unggul, ketimbang negara lain.

Kementerian Pertanian sudah memiliki lembaga untuk standarisasi hampir semua komoditas, tapi mengelola seluruh rantai pasok mulai dari bibit, penanaman, panen, pelabelan, penyaringan, hingga kontrol kualitas, bukan hal mudah.

Standarisasi, branding, dan bagaimana menyatukan ribuan petani kecil ke dalam satu rantai pasok yang terpusat, adalah tantangan untuk merebut pasar Tiongkok yang menganga lebar. Tanpa fasilitas cold storage dan packing house berstandar ekspor, durian sulit dikirim dalam kondisi prima ke luar negeri.

Diplomasi Durian

Bersamaan dengan kunjungan resmi PM Tiongkok Li Qiang ke Indonesia pada Mei tahun lalu, kita menandatangani ‘Protokol Ekspor Durian Beku Indonesia’ ke Tiongkok. Ini sangat penting karena untuk pertama kalinya Tiongkok secara resmi membuka akses ekspor durian beku asal Indonesia.

Tiongkok mempercayakan Badan Karantina Indonesia sebagai otoritas yang akan mengawasi keamanan pangan dan kesehatan tumbuhan. Rumah kemas (packing house) yang mengekspor ke Tiongkok wajib memenuhi syarat sebagai instalasi karantina tumbuhan yang ditetapkan.

Sebagai bentuk jaminan mutu telah diterbitkan sertifikat kesehatan tumbuhan (Phytosanitary Certificate) untuk memastikan setiap durian berasal dari kebun dan rumah kemas teregistrasi.

Protokol ekspor ini menitikberatkan pada konsep traceability, yaitu kemampuan melacak seluruh tahapan produksi dari penanaman, panen, pengemasan, hingga pengiriman ekspor. Proses ini melibatkan koordinasi lintas lembaga: Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Kementerian Perdagangan, dan pemerintah daerah. Langkah ini bukan hanya membuka jalur dagang baru, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi kawasan.

UMKM.id mencatat selama ini masih ada nilai yang hilang, yakni produksi nasional: ±2 juta ton per tahun, ekspor durian kita baru 600 ton, sementara impor durian untuk Tiongkok 1,56 juta ton.

Nilai pasar global durian kita baru 20,7 miliar dollar AS, dan masih bisa tumbuh dua kali lipat. Artinya, Indonesia duduk di atas tambang emas yang belum digarap.

Untuk membuka potensi miliaran dolar tersebut, para ahli menyarankan strategi berikut:

Tetapkan varietas unggulan nasional dan kembangkan sebagai ikon ekspor; bangun sistem ketertelusuran digital dari kebun ke pengepakan; perkuat logistik rantai dingin dan fasilitas ekspor berstandar internasional; ciptakan merek nasional “Durian Indonesia” agar punya identitas global; berikan insentif bagi petani ekspor dan percepat sertifikasi.

Jika kita bisa menata rantai nilai durian, dari petani kecil hingga pasar ekspor, maka kakao, kelapa, dan kopi bisa ikut terdongkrak.

Masalahnya tidak terletak pada buahnya. Sebab durian sungguh tak bercela sebagai buah terlezat. Ia bisa menjadi simbol perubahan, mengangkat martabat Negara, menciptakan peluang lapangan kerja dan ekonomi baru.

Durian kita bagaikan permata tidur, tambang emas tersembunyi. Tetapi ingat kata Corrigan, menjadi produsen terbesar di dunia tidak berarti apa-apa tanpa strategi.***

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....