Belajar Kepemimpinan dan Harmoni dari Bongamsa Temple

  • 11 Jul 2026 05:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bongamsa Temple didirikan pada tahun 879 Masehi dan tetap menjadi pusat pendidikan, meditasi, dan pengembangan spiritual selama lebih dari seribu tahun di Korea Selatan.
  • Pemimpin sejati harus selalu berada di tengah masyarakat, memahami langsung apa yang dirasakan rakyat, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat serta kapasitas intelektual yang kuat.
  • Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tetapi tantangan terbesar adalah kemampuan mengelolanya secara transparan, berkelanjutan, dan berkeadilan melalui kepemimpinan yang berintegritas.
  • Keberhasilan Korea Selatan menjadi negara maju menunjukkan bahwa pendidikan, inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia dapat mengatasi keterbatasan sumber daya alam.
  • Kemajuan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia, karakter pemimpin, budaya literasi, pendidikan, tata kelola pemerintahan, serta kemampuan menjaga persatuan dalam keberagaman.

DALAM rangka kunjungan saya ke Korea Selatan, saya berkesempatan mengunjungi Bongamsa Temple bersama sahabat saya, Lee Talgyun, serta Jo Daelrio, Profesor Emeritus Ulsan College, Korea Selatan. Kunjungan ini menjadi pengalaman berharga karena kami bertemu langsung dengan Abbot Bongamsa Temple, Won Ge Se Nim, dan berdiskusi tentang kepemimpinan, pembangunan ekonomi, sosial budaya, serta pentingnya menjaga kerukunan dalam keberagaman.

Bongamsa Temple merupakan salah satu kuil Buddha bersejarah di Korea Selatan yang didirikan pada tahun 879 Masehi oleh Biksu Jijeung pada masa Kerajaan Silla Bersatu. Selama lebih dari seribu tahun, kuil ini tetap menjadi pusat pendidikan, meditasi, pembentukan karakter, dan pengembangan spiritual dalam tradisi Seon (Zen) Korea.

Keberlangsungan Bongamsa Temple menunjukkan bahwa peradaban yang kuat tidak hanya dibangun melalui kemajuan ekonomi dan teknologi. Kekuatan sebuah bangsa juga bergantung pada kemampuannya menjaga ilmu pengetahuan, nilai moral, budaya, dan tradisi sebagai fondasi masa depan.

Pertemuan kami dengan Won Ge Se Nim berlangsung hangat dan penuh persaudaraan. Dialog tersebut membahas persoalan spiritual, kepemimpinan, pembangunan, serta tantangan dunia modern dalam perspektif nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Dalam diskusi itu, Won Ge Se Nim menjelaskan bahwa pemimpin sejati harus selalu berada di tengah masyarakat. Menurut beliau, seorang pemimpin perlu memahami secara langsung apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diharapkan oleh rakyat.

Kedekatan pemimpin dengan masyarakat akan melahirkan empati yang menjadi dasar lahirnya kebijakan yang tepat sasaran. Seorang pemimpin bukan hanya pemberi arahan, melainkan juga hadir bersama masyarakat untuk mencari solusi atas berbagai persoalan.

Beliau juga menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki semangat belajar sepanjang hayat. Kebiasaan membaca, mempelajari sejarah, dan memahami perkembangan dunia akan melahirkan keputusan yang lebih bijaksana.

Kekuatan politik dan kewenangan administratif saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin yang baik. Seorang pemimpin juga harus memiliki kapasitas intelektual, karakter yang kuat, dan kemampuan berpikir strategis.

Won Ge Se Nim menjelaskan bahwa sejak masa kerajaan, calon pemimpin di Korea dipersiapkan melalui pendidikan yang serius. Kepemimpinan dibentuk melalui proses panjang yang mencakup pendidikan, pengalaman, integritas, dan pembelajaran.

Salah satu pesan beliau yang paling sederhana namun bermakna adalah pentingnya mengingat nama orang-orang yang pernah ditemui. Hal kecil itu merupakan bentuk penghargaan terhadap martabat manusia sekaligus membangun kepercayaan antara pemimpin dan masyarakat.

Kami juga berdiskusi mengenai transformasi ekonomi Korea Selatan menjadi salah satu negara maju di dunia. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan, inovasi, teknologi, riset, dan kualitas sumber daya manusia mampu mengatasi keterbatasan sumber daya alam.

Kemajuan ekonomi Korea Selatan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya dan sejarah bangsa. Modernisasi tidak berarti meninggalkan akar budaya, melainkan menjadikannya sebagai kekuatan menghadapi perubahan zaman.

Dalam pembahasan mengenai kehidupan sosial budaya, Won Ge Se Nim menekankan pentingnya menjaga kerukunan dalam keberagaman. Menurut beliau, masyarakat yang harmonis hanya dapat terwujud apabila setiap orang saling menghormati perbedaan agama, budaya, dan cara hidup.

Pandangan tersebut sangat relevan bagi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman merupakan kekuatan apabila dikelola dengan semangat toleransi, dialog, persatuan, serta rasa saling percaya.

Dalam pembahasan mengenai ekonomi, Won Ge Se Nim menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang jauh lebih melimpah dibandingkan Korea Selatan. Kekayaan mineral, energi, hutan tropis, wilayah laut, dan keanekaragaman hayati menjadi modal besar bagi pembangunan nasional.

Saya menyampaikan bahwa saya sependapat dengan pandangan tersebut. Tantangan terbesar Indonesia bukan terletak pada kepemilikan sumber daya alam, melainkan pada kemampuan mengelolanya secara transparan, berkelanjutan, dan berkeadilan melalui kepemimpinan yang berintegritas.

Hal lain yang menarik adalah wawasan global yang dimiliki Won Ge Se Nim dalam memandang kepemimpinan dunia. Beliau menyebut Mahatma Gandhi, Soekarno, dan Nelson Mandela sebagai tokoh yang layak dipelajari karena nilai-nilai kepemimpinannya.

Menurut beliau, Gandhi mengajarkan kekuatan moral dan integritas, Soekarno menunjukkan visi kebangsaan dan keberanian, sedangkan Mandela memberi teladan tentang rekonsiliasi dan persatuan. Ketiga tokoh tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati dibangun oleh karakter, bukan semata-mata kekuasaan.

Won Ge Se Nim menegaskan bahwa seorang pemimpin harus gemar membaca sejarah dan biografi tokoh-tokoh besar dunia. Dari sejarah, pemimpin dapat belajar menghadapi krisis, mengambil keputusan strategis, membangun persatuan, dan menciptakan perubahan.

Bagi saya, pertemuan di Bongamsa Temple bukan sekadar kunjungan budaya atau dialog lintas agama. Pengalaman tersebut menjadi refleksi mendalam bahwa kepemimpinan adalah tentang pelayanan, keteladanan, kerendahan hati, kemampuan mendengar, dan komitmen untuk terus belajar.

Kunjungan ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau pertumbuhan ekonomi. Faktor penentunya adalah kualitas manusia, karakter pemimpin, budaya literasi, pendidikan, tata kelola pemerintahan, serta kemampuan menjaga persatuan.

Sebagai analis kebijakan publik, saya melihat pelajaran dari Bongamsa Temple sangat relevan bagi pembangunan Indonesia. Kebijakan publik yang berkualitas hanya dapat lahir dari kepemimpinan yang memahami masyarakat, berbasis pengetahuan, berintegritas, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Pengalaman berdialog dengan Won Ge Se Nim memperkuat pandangan saya bahwa pembangunan bangsa membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya alam. Indonesia memerlukan pemimpin yang memiliki visi, kapasitas intelektual, karakter moral, serta keberanian mengambil keputusan yang tepat.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya akan sumber daya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengelola kekayaannya secara bijaksana, membangun manusia unggul, menjaga nilai budaya, dan melahirkan pemimpin yang bekerja dengan hati demi kesejahteraan masyarakat.

oleh:

Genius Umar

Mantan Wali Kota Pariaman

Dosen Kebijakan Publik, Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Negeri Padang

Analis Kebijakan Publik

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....