Transformasi Bertani di Era Digital, saat Cangkul Harus Bertemu Konten
- 20 Apr 2026 21:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
BERDASARKAN data yang ada, Bali memiliki sekitar 360 ribu petani. Dari jumlah tersebut, petani milenial yang berumur 19–39 tahun sebanyak 54.908 orang, atau sekitar 15,18 persen dari total petani di Provinsi Bali.
Ada ironi yang cukup tajam di Bali saat ini. Dunia mengenal pulau ini sebagai surga alam, tetapi anak mudanya justru semakin jauh dari tanah. Lahan-lahan masih hijau, sistem subak masih diakui dunia, namun pelan-pelan kehilangan satu hal paling penting, yaitu penerusnya.
Di titik ini, pertanian Bali bukan lagi soal produksi, tetapi soal eksistensi. Menurut saya, masalah utamanya bukan karena pertanian tidak menjanjikan, melainkan karena perubahannya tidak pernah benar-benar dikelola. Kita terlalu sering meminta petani, terutama petani muda, untuk “berinovasi” tanpa memberi arah yang jelas. Akibatnya, perubahan terasa seperti beban, bukan peluang.
Padahal, jika dikelola dengan tepat, pertanian Bali justru memiliki “nilai jual” yang tidak dimiliki daerah lain. Bayangkan jika lahan tidak hanya menjadi tempat menanam padi, tetapi juga menjadi brand. Bukan sekadar panen beras, tetapi juga panen konten, pengalaman, dan nilai ekonomi baru.
Di era sekarang, cangkul saja tidak cukup. Harus ada kamera, strategi digital, dan cara berpikir bisnis. Dengan begitu banyak peluang yang bisa dimanfaatkan, melalui konten tersebut kita bisa memasarkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Selain itu, saya merasakan kepuasan tersendiri. Di tengah gempuran pilihan menjadi PNS atau pegawai swasta, saya justru memilih menjadi petani. Saya merasa bangga bisa menjadi marketing, owner, sekaligus brand dari usaha sendiri.
Di sinilah petani muda seharusnya mengambil peran. Mereka bukan sekadar penerus, tetapi game changer. Generasi ini bisa mengubah narasi dari “petani itu capek dan kotor” menjadi “petani itu kreator, pengusaha, dan inovator”. Mereka bisa menjual produk lewat media sosial, mengembangkan agrowisata, bahkan menciptakan produk lokal yang memiliki daya saing global.
Namun kenyataannya, banyak anak muda Bali masih ragu turun ke lahan. Mengapa? Karena mereka tidak melihat masa depan di sana. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka, tetapi juga kegagalan sistem dalam mengelola perubahan. Kita terlalu fokus pada hasil, tetapi lupa menyiapkan proses. Pelatihan masih minim, akses pasar terbatas, dan kebijakan sering tidak konsisten.
Manajemen perubahan seharusnya hadir sebagai “jembatan”, bukan tekanan. Perubahan harus dibuat menarik, relevan, dan menguntungkan. Misalnya melalui pelatihan pertanian digital, dukungan untuk startup agribisnis lokal, hingga kolaborasi antara pertanian dan pariwisata.
Dengan begitu, bertani tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai peluang masa depan.
Yang perlu disadari, perubahan bukan berarti meninggalkan budaya. Justru Bali memiliki kekuatan unik: mampu memadukan tradisi dengan inovasi. Subak tidak harus hilang untuk menjadi modern, ia hanya perlu dikemas ulang agar tetap hidup di generasi baru.

Penulis: Ni Luh Mariani (Mahasiswi S-2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....