'Winona Bercerita' Inspirasi Pola Asuh Positif untuk Anak di Era Digital

  • 22 Jul 2026 01:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Serial Winona Bercerita menunjukkan kebiasaan bercerita dapat mendukung perkembangan bahasa, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi anak sejak usia dini
  • Orang tua membangun komunikasi hangat melalui percakapan, membaca buku, dan bermain bersama sebagai alternatif mengurangi ketergantungan anak pada gawai
  • Waktu kebersamaan yang berkualitas, meski terbatas, dapat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan tumbuh kembang anak

RRI.CO.ID , Jakarta - Pola asuh positif di era digital dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang memberi ruang anak menyampaikan pengalaman sehari-hari. Serial 'Winona Bercerita' menghadirkan contoh bagaimana komunikasi hangat antara orang tua dan anak mendukung tumbuh kembang sejak usia dini.

Winona Dorothea Amonita Telaumbanua, anak berusia tiga tahun, membagikan pengalaman kesehariannya melalui cerita menggunakan bahasa dan ekspresi sendiri. Pengalaman tersebut mencakup hari pertama sekolah, belajar berteman, menerima hadiah sepeda, hingga persiapan mengikuti pertunjukan balet.

Konten tersebut disusun berdasarkan pengalaman nyata yang dialami Winona tanpa menggunakan naskah maupun hafalan sebelumnya. Orang tua hanya mengajak Winona mengingat kembali peristiwa yang telah dilalui sebelum menceritakannya secara mandiri.

Pendekatan tersebut membantu anak belajar mengingat pengalaman, mengenali emosi, serta menyusun alur berpikir secara bertahap. Proses itu juga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri melalui kebiasaan berbicara secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan berbahasa Winona berkembang melalui kosakata yang diperoleh dari sekolah, lingkungan bermain, buku cerita, dan percakapan keluarga. Kosakata tersebut kemudian digunakan untuk menyusun kalimat dan menyampaikan gagasan sesuai perkembangan usianya.

Kebiasaan bercerita secara konsisten juga menjadi latihan berbicara di depan kamera tanpa memberikan tekanan kepada anak. Winona belajar memperkenalkan diri, menyampaikan pengalaman secara runtut, kemudian menutup cerita dengan pesan sederhana.

Di tengah meningkatnya penggunaan gawai, keluarga Winona memilih memperbanyak interaksi melalui percakapan, membaca buku, dan bermain bersama. Pendekatan tersebut menjadi alternatif aktivitas yang mendorong komunikasi langsung dibandingkan penggunaan layar secara berlebihan.

Keluarga juga menerapkan kebiasaan tidak menggunakan televisi maupun telepon genggam selama waktu makan bersama setiap hari. Momen tersebut dimanfaatkan untuk saling berbagi cerita sekaligus melatih kemampuan komunikasi anak melalui interaksi langsung.

Meski kedua orang tua bekerja setiap hari, waktu kebersamaan tetap dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang berkualitas. Malam sebelum tidur, akhir pekan, dan hari libur menjadi kesempatan berbincang serta mendiskusikan pengalaman Winona.

Cerita yang dibagikan Winona lebih menonjolkan nilai keberanian mencoba, menghargai proses, disiplin, serta pentingnya mengucapkan terima kasih. Nilai-nilai tersebut dikemas menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami anak maupun orang tua.

Fenomena 'Winona Bercerita' menunjukkan komunikasi hangat tetap menjadi fondasi penting dalam mendukung perkembangan anak di era digital. Memberikan ruang anak untuk bercerita dapat membantu membangun kemampuan bahasa, kepercayaan diri, serta kecerdasan sosial sejak usia dini.

Melalui kisah sederhana Winona, masyarakat diingatkan bahwa waktu berkualitas bersama anak dapat dimanfaatkan membangun komunikasi yang bermakna. Kebiasaan mendengarkan dan mengajak anak bercerita menjadi stimulasi sederhana yang mendukung pembentukan karakter sejak usia dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....