Mendengar, Bukan Sekadar Diam
- 10 Jul 2026 07:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mendengar adalah proses biologis pasif ketika telinga menangkap suara, sementara mendengarkan adalah tindakan sadar yang melibatkan perhatian, pemahaman pesan, penangkapan emosi, dan respon terhadap maksud lawan bicara.
- Lima tingkatan mendengarkan mencakup Not Listening (pikiran sibuk), Listening to Speak (menunggu giliran), Listening to Evaluate (menilai), Listening to Empathise (memahami emosi), dan Listening as One (koneksi emosional penuh).
- Kualitas komunikasi ditentukan bukan oleh seberapa banyak seseorang berbicara, melainkan seberapa baik ia mendengarkan, karena mendengarkan dengan baik membangun kepercayaan, kolaborasi, dan solusi efektif.
.
Penulis: Aries Widojoko (Praktisi Penyiaran)
DALAM keseharian, kita sering menyamakan “mendengar” dengan “mendengarkan”. Padahal, keduanya berbeda. Mendengar hanyalah proses biologis ketika telinga menangkap suara. Sementara itu, mendengarkan adalah tindakan sadar: memberi perhatian, memahami pesan, menangkap emosi, dan meresapi maksud lawan bicara.
Levels of Listening menjelaskan bahwa kemampuan mendengarkan memiliki lima tingkatan, dari yang paling dangkal hingga yang paling mendalam. Memahami tingkatan ini membantu kita meningkatkan kualitas komunikasi, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Not Listening. Pada tahap ini, seseorang tampak mendengar, tetapi pikirannya sibuk dengan hal lain—telepon genggam, pekerjaan, atau lamunan. Akibatnya, pesan yang disampaikan tidak benar-benar masuk.
Listening to Speak. Di sini orang mendengarkan hanya untuk menunggu giliran berbicara. Fokusnya bukan memahami, melainkan menyiapkan jawaban, menyela, atau mengaitkan percakapan dengan pengalaman pribadi. Pola ini sering muncul dalam diskusi sehari-hari maupun di media sosial.
| Baca juga: Pilih 'Influencer' atau Humas? |
Listening to Evaluate. Pendengar mulai memberi perhatian, tetapi masih menilai setiap informasi dari sudut pandang dan keyakinannya sendiri. Pertanyaan yang muncul biasanya: “Apakah saya setuju?” atau “Bagian mana yang keliru?”
Pendekatan ini berguna untuk analisis kritis, tetapi bisa menjadi hambatan bila dilakukan terlalu cepat.
Listening to Empathise. Tahap ini lebih berkualitas. Pendengar tidak hanya memahami kata-kata, tetapi juga emosi, kebutuhan, dan pesan tersirat. Empati membuat lawan bicara merasa dihargai dan dipahami. Kemampuan ini penting bagi pemimpin, guru, penyiar radio, konselor, maupun siapa saja yang bekerja dengan manusia.
| Baca juga: Jangan Coba Olahraga Tergila di Dunia |
Listening as One. Inilah tingkatan tertinggi. Batas antara pembicara dan pendengar seakan hilang. Percakapan mengalir alami, penuh kepercayaan, dan menghasilkan koneksi emosional yang kuat.
Kualitas komunikasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak seseorang berbicara, melainkan seberapa baik ia mendengarkan. Semakin tinggi tingkat mendengarkan, semakin besar peluang tercipta kepercayaan, kolaborasi, dan solusi yang efektif.
Dalam era digital yang penuh distraksi, kemampuan mendengarkan secara utuh menjadi keterampilan berharga. Mereka yang mampu mendengar dengan empati bukan hanya memperoleh informasi, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dan berdampak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....