Asia-Afrika Produsen Bayi Global

  • 13 Feb 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

JEPANG, Korea, Singapura adalah Negara maju Asia yang terancam defisit generasi. Akselerasi industri yang dahsyat membuahkan depresi massal kaum muda di usia produktif mereka. Menikah, melahirkan anak, membangun keluarga dianggap sebagai beban sehingga mereka tinggalkan. Akibatnya demografi negaranya terjungkir minus. (Sudut Pandang Senin, 9 Februari 2026, ‘Saat Generasi Ogah Menikah’)

Pascakemerdekaan Indonesia juga mengalami ledakan jumlah penduduk, hingga era Soeharto mati-matian menghambatnya melalui program nasional ‘Keluarga Berencana’ dua anak cukup. Hasilnya angka kelahiran pernah terkunci di bawah 1 persen pertahun. Program KB inilah dan swasembada beras, menjadi legasi Orde Baru yang masih luas dikenang.

Bagaimana sekarang, saat Indonesia bangkit menjadi ‘the emerging country’ yang cukup seksi di kawasan? Meski pertumbuhan penduduk per tahun cenderung melambat, toh Indonesia masih tergolong enam besar Negara dunia yang banyak melahirkan bayi. Terjadi perlambatan rata-rata 1,25 persen per tahun pada periode 2010-2020, dan turun lagi tinggal 1,09 persen pada 2025.

Data terbaru BPS menunjukkan jumlah warga kita 281,60 juta jiwa pada akhir 2024. Tumbuh melambat meski tetap menambah jutaan jiwa setiap tahunnya. Tren laju pertumbuhan: 2010-2020: Rata-rata 1,25% per tahun. Kemudian 2019: 0,94 persen dan 2020: 0,85 persen (Sensus Penduduk 2020).

Selama 2021 terjadi pertumbuhan rendah hanya 0,71 persen. Tahun 2022 naik tipis 0,75 persen. Tahun 2023 naik tinggi 1,13 persen dan turun tahun 2024 menjadi 1,11 persen (perkiraan). Terbaru tahun 2025 kemarin penduduk tumbuh 1,09 persen (perkiraan BPS).

Berapa jumlah total warga negara RI? Data Kependudukan hasil sensus 2020: 270,20 juta jiwa. Akhir 2024 (Perkiraan): 281,60 juta jiwa. Semester I 2025 (Data Adminduk): 286,69 juta jiwa.

Populasi Indonesia tetap bertambah, mencapai lebih dari 281 juta jiwa pada 2024 dan diperkirakan mendekati 287 juta pada pertengahan 2025. (Data pertumbuhan bervariasi bergantung sumber Sensus vs Adminduk dan tahun estimasi).

India Tertinggi

Indonesia masih tergolong negara dengan angka kelahiran bayi cukup tinggi di dunia, rata-rata 15,8 kelahiran per 1.000 penduduk per tahun. Kita di bawah India dengan rata-rata 16 kelahiran per 1.000 penduduk per tahun, dan di atas Kepulauan Cook, dengan rata-rata 15,6 kelahiran per 1.000 penduduk per tahun.

Dikutip dari ‘worldpopulation review.com’, India menempati peringkat teratas dunia dengan jumlah kelahiran bayi terbanyak, diproyeksikan mencapai sekitar 23,07 juta hingga 23,1 juta kelahiran pada tahun 2025.

China berada di posisi kedua, diikuti oleh Nigeria, Pakistan, dan Kongo. Indonesia sendiri masuk dalam peringkat 6 besar dunia dengan estimasi 4,44 juta kelahiran. India bersama Tiongkok menyumbang sekitar 1 dari 4 bayi yang lahir setiap jam. Asia Selatan dan Afrika menjadi pusat pertumbuhan penduduk dunia saat ini.

Negara dengan tingkat kesuburan tertinggi per keluarga adalah Niger (6,8 anak), disusul Somalia dan Chad (6,3 anak). Indonesia adalah kontributor terbesar di Asia Tenggara, dengan 4,5 juta bayi lahir per tahun (data 2025).

Peringkat atas kelahiran bayi di dunia tetap India, Tiongkok, Nigeria, Pakistan, Indonesia, Kongo, Etiopia, Amerika Serikat, dan Bangladesh. Lima di antaranya terletak di Asia, tiga lainnya berada di Afrika, yaitu Nigeria, Kongo, dan Etiopia. Amerika Serikat satu-satunya di luar kedua benua ini.

Laman ‘Seasia’ mencatat meski ledakan bayi masih tinggi, tetapi angka kelahiran global berada pada lintasan menurun. Faktor-faktor seperti urbanisasi, peningkatan akses pendidikan, pembangunan ekonomi, dan perubahan norma sosial berkontribusi terhadap penurunan ini.

Pelajaran Jepang

Kita tengok Jepang yang sedang mengalami krisis bayi. Kelahiran di tahun 2023 hanya sekitar 758 ribu bayi, terendah sepanjang sejarah. Laman ‘UnseenJapan’mengungkapkan kelahiran di tahun 2024 turun lagi hanya 686.000 bayi, atau turun 72.000 dari tahun sebelumnya. Demi

menjaga keseimbangan jumlah penduduk, rata-rata setiap perempuan harus melahirkan 2 anak.

Tapi di Jepang, rata-ratanya hanya 1,3 anak. Karena anak-anak makin sedikit, murid TK juga berkurang drastis bahkan terpaksa tutup. Sekolah coba naikkan upah pegawai, dan menyediakan makanan untuk siswa, tetapi justru melejitkan biaya operasional. Selama Januari–Juni 2025, terdapat 22 kebangkrutan sekolah dan penitipan anak meningkat 70 persen.

Selain itu menurut Reuters, sejak 2002 hingga 2020, lebih dari 8.580 sekolah umum (SD hingga SMA) telah ditutup secara permanen, terutama di daerah perdesaan. Di Desa Ten ei, Fukushima, salah satu sekolah menengah terakhir ditutup tahun 2023 hanya menyisakan 2 siswa.

Alasan generasi muda Jepang tak punya anak, terutama tingginya biaya hidup, tekanan pekerjaan, dan kurangnya waktu untuk keluarga. Mereka merasa belum siap secara finansial dan emosional untuk punya anak.

Ditambah lagi, sistem penitipan anak di Jepang tidak fleksibel, sulit disesuaikan dengan waktu luang para orangtua yang bekerja. Akibatnya banyak tenaga pengajar dan guru kehilangan pekerjaan. Bagi anak-anak yang telanjur lahir, akan kehilangan kesempatan bermain dan belajar dalam suasana sosial yang sehat.

Hamil dan melahirkan bagi sebagian perempuan Jepang justru membawa kegelisahan, tekanan, bahkan ketakutan terutama jika terjadi di luar rencana, tanpa dukungan, atau dalam situasi sulit.

Hal ini mengundang rasa malu, stigma sosial, khawatir penolakan keluarga, membuat seorang ibu memilih diam hingga saat melahirkan. Sebuah rumah sakit ‘Jikei’ di Kota Kumamoto, membuka layanan melahirkan secara rahasia. Sebuah opsi yang bisa menjadi penyelamat bagi nyawa ibu dan bayi.

Layanan ini dikenal sebagai confidential birth, satu-satunya di Jepang, yang merawat wanita melahirkan tanpa perlu mengungkapkan identitasnya. Tujuannya memberikan ruang aman bagi ibu yang tidak siap atau takut diketahui publik. Rumah Sakit Jikei di Kota Kumamoto, Jepang, satu-satunya RS di Jepang yang menawarkan layanan ini.

Dikutip dari Mainichi, kelahiran rahasia pertama dimulai Desember 2021. Tekanan budaya yang kuat menyebabkan kehamilan disembunyikan, bahkan ada yang nekat melahirkan sendiri di rumah tanpa bantuan medis. Takeshi Hasuda, direktur RS Jikei menekankan perlunya melindungi nyawa bayi, dan menyerukan pentingnya mendirikan fasilitas kelahiran rahasia di masing-masing dari 47 perfektur di Jepang.

Apakah warga bumi akan menyusut atau membengkak? Apakah setiap Negara bebas menentukan strateginya sendiri? Apakah juga tersedia pangan, sumber energi, dan berbagai fasilitas kehidupan layak untuk meningkatkan derajat hidup warganya? Itulah problem global kita yang butuh jawaban dan aksi-aksi cerdas.


Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....