Siapa Penjaga Peradaban Digital?
- 02 Feb 2026 14:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
ERA Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menandai babak baru peradaban. AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan belajar, tetapi juga memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, bahkan cara kita beriman.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan santri diandalkan menjadi penjaga nilai, moral, dan akhlak bangsa. Menjaga tradisi keilmuan Islam yang berakar kuat, sekaligus beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia adalah pondok pesantren. Menurut Gus Dur lembaga pendidikan ini awalnya mendapatkan sedikit perhatian.
Streen Brink pada 1994 menyebut mulai negara merdeka sampai dengan Orde Baru, pondok pesantren dipinggirkan toh mampu bertahan dan bermetamorfosa menjadi lembaga pendidikan tinggi berbentuk (ma’had aly, sekolah tinggi, institut dan universitas).
Buku sejarah masih sedikit yang menulis hal ini. Nur Kholis Majid menyebut pondok pesantren itu lembaga pendidikan Islam tertua. Lembaga itu diharapkan mampu mencetak kiai dan pemimpin keagamaan yang saleh dan dijiwai oleh semangat moral agama.
Namun rimba digital telah tumbuh menggila dan mengepung peran pesantren. Ini akan menjadi taruhan, apakah pesantren tenggelam dalam gelap rimba, atau bertahan dan menerabas keluar secara kreatif. Penetrasi teknologi digital yang semakin luas.
Dikutip dari laporan terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bertajuk “Profil Internet Indonesia 2025”, jumlah pengguna internet di Tanah Air telah mencapai 229.428.417 jiwa. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2023 jumlah pengguna internet kita baru di kisaran 215 juta jiwa. Naik sekitar 6 juta menjadi 221,5 juta jiwa pada 2024. Kini, dalam satu tahun terakhir jumlah pengguna bertambah sekitar 8 juta jiwa, sehingga tembus 229,4 juta pada 2025.
APJII juga mencatat tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66 persen. Artinya lebih dari 8 dari 10 penduduk Indonesia yang mencapai 284,43 juta jiwa telah memiliki akses ke internet.
Digital Native
Survei itu juga mengungkap Generasi Z (lahir 1997–2012, usia 12–27 tahun) adalah kelompok paling dominan pengguna internet dengan kontribusi 25,54 persen, disusul Generasi Milenial (lahir 1981–1996, usia 28–43 tahun) dengan 25,17 persen, dan Generasi Alpha (lahir 2013 ke atas) sebesar 23,19 persen.
Dominasi generasi muda ini menunjukkan bahwa pertumbuhan internet di Indonesia sangat dipengaruhi oleh digital native, generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Pengguna internet di wilayah urban masih dominan dengan tingkat penetrasi 83,56 persen. Namun, wilayah rural juga menunjukkan kemajuan berarti, kini menembus 76,96 persen.
Kesenjangan ini mulai menyempit berkat meningkatnya infrastruktur telekomunikasi, khususnya akses jaringan 4G dan perluasan jaringan fiber optik ke daerah-daerah.
Data lain menurut laporan We Are Social (2024), pengguna internet di Indonesia mencapai 224 juta orang atau sekitar 80% dari total populasi.
Rata-rata waktu penggunaan internet mencapai 7 jam 42 menit per hari. Lebih dari 191 juta orang aktif di media sosial. Pada akhirnya angka ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dunia digital terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat Indonesia.
Di sinilah tantangannya. Santri yang selama ini identik dengan kesederhanaan, kedalaman ilmu agama, dan kedisiplinan spiritual, kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana menjadi generasi yang melek digital tanpa kehilangan akar moralitasnya.
Media sosial sarat kebebasan berekspresi tanpa batas, namun sekaligus membuka peluang besar bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan degradasi moral.
Fenomena ini menuntut santri untuk tidak hanya mampu membaca kitab kuning, tetapi juga “kitab digital”—yakni memahami algoritma, literasi informasi, dan etika bermedia.
| Baca juga: Mendengar, Bukan Sekadar Diam |
Smart Pesantren
Smart pesantren diharapkan memadukan nilai-nilai tradisional Islam dengan kemampuan digital. Kementerian Agama (2023) mencatat lebih dari 36.000 pesantren di Indonesia dengan jumlah santri 5 juta orang.
Jika separuh saja dari jumlah itu memiliki kemampuan literasi digital yang baik, maka pesantren dapat menjadi kekuatan moral dan intelektual baru di ruang digital nasional.
Pesantren Tebuireng, Gontor, dan Al-Amien mengembangkan program digital literacy training bagi santrinya. Sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Yogyakarta juga telah membentuk cyber dakwah team yang berfokus pada penyebaran dakwah melalui media sosial secara santun dan moderat.
AI membawa efisiensi luar biasa, namun juga menimbulkan moral gap. Mesin belajar dari data, bukan dari nilai. AI dapat meniru perilaku manusia, tetapi tidak bisa meniru akhlak.
Penggunaan deepfake untuk manipulasi wajah tokoh publik, algoritma yang mendorong polarisasi politik, hingga chatbot yang bisa menghasilkan konten palsu, bila tanpa moral bisa menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan. Dalam tradisi Islam, ilmu (‘ilm) selalu harus disertai dengan adab (akhlaq).
Bangsa ini berharap, ketika dunia modern mengagungkan efisiensi dan kecepatan, santri justru menghadirkan keseimbangan tanggung jawab etis. Santri bisa menjadi “penyaring moral” di tengah banjir informasi.
Mereka dapat menandingi narasi destruktif di ruang siber dengan dakwah yang santun dan edukatif. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang etika, keamanan, dan tanggung jawab sosial.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....