Surabaya Kota ‘Paling Tahan’ Banjir

  • 15 Jan 2026 23:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

TIDAK ada kota besar di dunia yang bisa sepenuhnya antibanjir. Model terbaik sistem pengelolaan dan pencegahan banjir yang paling menonjol adalah Tokyo, Jepang. Megapolitan Tokyo membangun jaringan raksasa drainase bawah tanah, dikenal sebagai "Kuil Bawah Tanah" atau G-Cans (Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel).

Terowongan raksasa ini di kedalaman 25,4 meter atau kira-kira setara dengan gedung 6 lantai. Terletak 22 meter di bawah tanah Kasukabe, utara Tokyo, system pertahanan banjir ini merupakan bagian dari Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC). Mulai dibangun pada 1993 dan selesai pada 2006. Total biaya yang dihabiskan sekitar Rp36 triliun. Lima silo beton besar terhubung terowongan sepanjang 6,5 km.

Tokyo disebut The New York Times sebagai kota yang paling rawan dan sarat risiko bencana. Kota ini dilalui lima sungai besar dan puluhan sungai kecil yang pasti meluap tiap musim. Selain itu ada risiko badai, cuaca ektrem, gempa bumi, penurunan muka tanah, hingga sebagian besar wilayahnya kini berada lebih rendah dari permukaan laut.

Kota Lain dengan sistem antibanjir yang efektif adalah London, Inggris. Thames Barrier, sebuah penghalang banjir semiotomatis raksasa di Sungai Thames yang melindungi kota dari banjir akibat pasang air laut yang tinggi.

Kota Rotterdam di Belanda juga membangun pertahanan banjir yang luas, termasuk Maeslantkering, penahan badai dari lautan dengan gerbang besi besar di mulut sungai Nieuwe Maas. Pada 1997, Belanda membangun penahan badai dari lautan disebut Maeslantkering. Gerbang besi besar dibangun di muka sungai Niuewe Maas yang menjadi jalur masuk pelabuhan Rotterdam. Satu gerbang panjangnya setara tinggi menara Eifel, seperti dilaporkan CBS News.

Wuhan, China, kota ini menerapkan konsep "kota busa" (sponge city), yang dirancang untuk menyerap air hujan sebanyak mungkin ke dalam tanah melalui infrastruktur yang dirancang khusus, termasuk taman dan trotoar berpori. Kota-kota ini membuktikan dengan investasi besar dalam infrastruktur dan perencanaan kota yang matang, risiko banjir perkotaan dapat dikendalikan.

Bagaimana di Indonesia?

Banyak kota besar kita sudah berusaha berinovasi dalam pengelolaan sampah dan drainase, untuk menciptakan lingkungan kota yang bersih dan nyaman. Surabaya boleh disebut sebagai pioner kota hijau, kota bersih, dan bebas masalah banjir.

Dalam pengelolaan sampah, Surabaya memanfaatkan ‘waste to energy’ di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Sampah dikonversi menjadi energi listrik, program bank sampah lebih dari 400 titik, ratusan pasukan kuning, dan warganya memilah sampah sejak dari rumah. Di bidang drainase dan riol-riol pematus, Surabaya punya buzem kembar Morokrembangan, 150 pompa banjir di berbagai titik rawan genangan, puluhan pompa air bergerak, dan melibatkan mobil pemadam kebakaran.

Sejatinya Surabaya menikmati anugerah Kali Brantas, urat nadi kemakmuran Jawa Timur yang diurus manajemen terbaik di Indonesia. Brantas sama besar dengan Bengawan Solo, tetapi arusnya tenang, tidak bergolak brutal seperti karakter sungai liar.

Hulu Brantas dikendalikan waduk besar Ir. Soetami di selatan Malang. Di daerah selatan Tulungagung terdapat terowongan Neyama, bertugas membegal luapan air Brantas dibuang ke Laut Selatan Jawa. Di tengahnya, Kali Madiun sering mengirim air berlebih, namun pintu-pintu pengendali Brantas sigap meredamnya.

Sebelum masuk Surabaya, Brantas membuang sebagian isinya melalui Kali Porong yang juga menampung luapan lumpur Lapindo. Pembagian beban yang rapi ini menjadikan Brantas istimewa. Hampir tak pernah menyengsarakan warga kiri-kanannya.

Dari percabangan dengan Kali Porong, mengalirlah Kali Surabaya menuju Kali Jagir yang pegang kendali penting. Sepanjang 13 km menuju muaranya di laut, Kali Jagir mewarisi gerbang pintu air klasik peninggalan Belanda dibangun pada 1856.

Sebagai pembuang air yang vital dari Kali Surabaya, badan Kali Jagir dijaga tanggul tinggi yang kokoh. Kali Jagir membagi alirannya dengan Sungai Kalimas yang membelah kota Surabaya, mirip Sungai Potomac membelah Washington DC di Amerika.

Sungai Kalimas inilah tulang punggung pematusan, menampung ratusan riol-riol dari berbagai arah dalam kota. Kalimas melintasi kawasan wisata seperti Monumen Kapal Selam, Gedung Grahadi, dan Tanjung Perak. Ia bermandi cahaya di malam hari dan dilayari perahu-perahu hias.

Di zaman Belanda Kalimas menjadi urat nadi kapal-kapal tradisional yang masuk dari muaranya di Tanjung Perak. Sementara itu sungai pendukung lainnya, Kali Greges dan Kali Branjangan sepanjang 6 kilometer memecah banjir melintasi Stadion Gelora Bung Tomo dan bermuara di Teluk Lamong.

Beda Jakarta

Ibu kota kita dikepung 13 sungai yang rata-rata tergolong liar, antara lain Ciliwung, Angke, Krukut, Pesanggrahan, Grogol, Sunter, Cipinang, Mookervaart, Buaran, Jati Kramat, Cakung, Kali Baru Barat, dan Kali Baru Timur. Kebanyakan sungai ini berhulu di Jawa Barat tersambung ke sistem Banjir Kanal dan bermuara di Teluk Jakarta.

Sungai Ciliwung paling besar membelah Jakarta dari hulu di Gunung Gede. Sungai Angke (Cikeumeuh) berhulu di Bogor, melintasi Banten dan Jakarta, bermuara di dekat Muara Angke. Meski Belanda juga mewariskan sistem drainase kota Jakarta yang cukup baik, tetapi manajemen Ciliwung belum sebanding dengan Brantas.

Kota lain yang berhasil menjaga dirinya dari genangan banjir adalah Banda Aceh. Ia mampu memperbaiki saluran air utama dan memadukannya dengan program penghijauan di daerah pemukiman.

Denpasar memiliki drainase alami mengadopsi teknologi Biosuel dan taman hujan yang memanfaatkan vegetasi untuk menyerap air hujan. Solusi ini mengurangi aliran air di permukaan tanah dan bisa mencegah banjir.

Balikpapan sering disebut sebagai kota dengan pengelolaan lingkungan terbaik. Sistem drainasenya dirancang mengalirkan air hujan langsung ke laut melalui jalur pipa bawah tanah, ditambah penghijauan sepanjang aliran sungai.

Sumber Youtube Nusantara Joss menempatkan Banyumas masuk dalam daftar kota bersih dan jarang banjir. Kota berstatus terbaik dalam manajemen sampah ini, dalam mengatasi banjir, memanfaatkan saluran tertutup yang terintegrasi dengan area resapan air di sepanjang Sungai Serayu. Taman-taman hijau disiapkan untuk meningkatkan daya serap air hujan dan risiko genangan air khususnya di wilayah perkotaan seperti Purwokerto.

Kita menunggu bukti, apakah kota-kota pilihan ini terhindar dari banjir di saat anomali cuaca sedang menggila saat ini.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....