Rahasia Dua Emas ‘Mesin Kenya’

  • 18 Des 2025 13:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

DUA pelari maraton kita di SEA Games Thailand baru saja ‘ganti mesin’. Terbukti ampuh, paru-paru buatan Kenya atau Ethiopia sama dahsyatnya laksana hempasan ‘turbo’ pada mesin bakar mobil.

Duo pelari marathon, Odekta Elvina Naibaho dan Robi Syianturi, hanya dalam satu bulan berlatih di Kenya, sukses membantai lawan-lawannya. Odekta dan Robi mengikuti training camp di Complete Sports Athletics Training Centre, Eldoret, Afrika Timur, Kenya. Tempat pelatihan ini dikenal dunia karena berada di ketinggian sekitar 2.400 meter.

Syahdan maraton SEA Games Thailand 2025 digelar sore dan malam hari. Anda mengira itu akan lebih mudah dibandingkan berlomba pagi hari, sebagaimana umumnya maraton. Namun berlari malam justru lebih sengsara, karena atlet harus berebut oksigen dengan pepohonan sepanjang jalan yang bertugas memulihkan polutan udara.

Adalah Michael Crawley, pelari internasional Skotlandia, membuktikan kehebatan para pelari Kenya dan Ethiopia. Studinya selama 12 bulan di Ethiopia menghasilkan ‘disertasi berkelas’ yang memberinya gelar Doktor dari Universitas Edinburg, dirangkum dalam buku ‘Out of Thin Air’ (Di Balik Udara Tipis — Baca: Sudut Pandang Senin 15 Desember 2025).

Drama maraton SEA Games malam itu terjadi 5 kilometer menjelang finis. Odekta dan Robi berlari sendirian hanya ditemani ofisial dan mobil pencatat waktu. Tak ada seorang pesaing pun yang mampu mendekatinya. Odekta menang dengan waktu 2 jam 43 menit 13 detik.

Mari kita lihat pembuntutnya, pelari Filipina: Artjoy Torregosa, yang finis posisi kedua dengan 2 jam 48 menit 00 detik dan atlet Vietnam, Thi Thu Ha Bui, dengan perunggu dengan 2 jam 54 menit 40 detik. Selisih 5 menit di maraton setara dengan tertinggal hampir 1 kilometer, suatu hal yang sangat jarang. Dengan pelari Vietnam bahkan berselisih 11 menit.

Hal sama dialami Robi Syianturi. Catatan waktunya 2 jam 27 menit 33 detik, mengungguli dua pelari Filipina, Arlan Jr. Arbois finis kedua dengan waktu 2 jam 30 menit 19 detik dan Richard Salano yang menempati posisi ketiga dengan 2 jam 31 menit 29 detik.

Berselisih 3-4 menit setara dengan tertinggal setengah kilometer! Biasanya selisih waktu para juara hanya terbilang dalam detik, bukan menit. Fakta ini membuktikan Ethiopia dan Kenya memang kiblat marathon dunia. Hanya berlatih sebulan saja, hasilnya raja di Asia Tenggara.

Odekta berhasil memastikan medali emas lari maraton SEA Games 2025 (Foto: NOC Indonesia)

Termehek di 10.000 Meter

Bagaimana dengan nomor lari 10.000 meter yang juga diikuti Odekta dan Robi? Ternyata keduanya termehek-mehek. Nomor 10.000 meter tak hanya bisa andalkan ketahanan dan endurance. Ia butuh sedikit tambahan akselerasi dan tempo tinggi jelajah.

Odekta meski meraih emas pada SEA Games 2021 di Vietnam dan 2023 di Kamboja, kedodoran mengejar ‘mesin Vinfast’ buatan Vietnam. Mesin baterai Vinfast langsung melejit sejak putaran pertama, sementara mesin bensin Kenya terengah-engah mengejarnya. Memang pelari jarak menengah beda karakter dengan maraton. Odekta meraih perunggu di nomor ini.

Hal serupa dialami Robi Syianturi. Raja maraton sehari sebelumnya ini bahkan hanya finis di urutan lima, kalah dari Rikki Martin Simbolon yang meraih medali perunggu dengan waktu 29 menit 54,64 detik.

Berlangsung di Stadion Supachalasai, Bangkok, nomor ini dijuarai pelari Thailand Tuntivate Kieran mencatat 29 menit 41,81 detik. Disusul Guermali Yacine dari Filipina dengan waktu 29 menit 43,94 detik meraih perak.

Rikki mengakui ketatnya persaingan pada nomor tersebut, terutama karena para pesaingnya memiliki latar belakang dan catatan waktu yang lebih unggul. Pelari Thailand dan Filipina itu naturalisasi dan sangat tajam waktu ‘personal best’-nya.

Pencapaian Rikki menjadi indikator peningkatan performa yang positif bagi atlet lari jarak jauh Indonesia. Ia berlari di bawah 30 menit (29 menit 54 detik), sebuah progres yang patut diapresiasi. Sementara Robi Syianturi hanya finis di posisi kelima dengan catatan waktu 31 menit 03,34 detik.

Rahasia Kenya

Para pelari Kenya dan Ethiopia setiap hari berlari jarak jauh progresif 1 jam 40 menit hingga 2 jam di permukaan yang sangat khusus dan cukup sulit termasuk banyak tanjakan. Hari berikutnya latihan kecepatan di lintasan rumput.

Mereka berlari keras sekitar 36 menit dengan istirahat joging 1 menit di antaranya, dan diulang 6 kali. Bagi para atlet, sesi lari cepat bisa sangat berat, tetapi di tengahnya sebagian besar dilakukan dengan kecepatan jelajah, di jalur setapak dan permukaan kasar.

Para pelatih mereka juga banyak bereksperimen dengan latihan di ketinggian yang berbeda. Addis Ababa sendiri terletak 2.400 mdpl, tetapi mereka sering kali berlari di ketinggian 3100 meter.

Mereka terkadang juga melakukan interval yang sangat berat. Ini suatu metode yang bertentangan dengan semua pengetahuan baku tentang latihan di ketinggian, tetapi tampaknya berhasil bagi mereka.

Latihan berkelompok juga penting karena diyakini dapat memberikan energi lebih kepada para atlet daripada berlatih sendirian. Kelompok latihan merupakan bagian penting dari filosofi pelatihan, kendati setiap pelari saling bersaing dan berjuang masuk jajaran tim nasional.

Di pengujung bukunya, Michael Crawley menyimpulkan para pelari Ethiopia sebenarnya tidak percaya pada bakat atau batasan genetik. Hasil balapan atau sesi latihan yang buruk, tidak terlalu dipermasalahkan.

Tidak merasa perlu membuktikan kepada diri sendiri kalau mereka dapat tampil bagus setiap hari. Dibandingkan dengan lari di negara-negara barat, atlet Ethiopia lebih banyak berlari di jalur setapak dan tidak terlalu menuntut kecepatan.

Sebuah pelajaran berlatih yang sederhana. Kita bisa mengajarkan pada anak-anak, berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, memetik sukses kemudian.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....