Berkaca pada Ethiopia dan Kenya
- 15 Des 2025 10:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
DARI Jamaika dunia atletik belajar tentang kecepatan berlari di bawah 10 detik. Kini kita bergeser ke Afrika untuk belajar hal tak kalah penting dalam berlari, yakni daya tahan dan kekuatan menjelajah. Selama ini kita mengenal Ethiopia dan Kenya sebagai negeri miskin. Stigma itu ternyata salah besar.
Michael Crawley, pelari internasional Skotlandia, melakukan studi serius tentang sport, gen, dan antropologi. Hasilnya sebuah ‘disertasi berkelas’ untuk menghasilkan gelar Doktor bagi Crawley di Universitas Edinburg. Disertasi itu dirangkum dalam buku ‘Out of Thin Air’ (Di Balik Udara Tipis) untuk membedah rahasia kehebatan pelari marathon Ethiopia dan Kenya.
Studi inspiratif itu dikisahkan kembali oleh Adharanand Finn, di majalah berkualitas jurnalisme tinggi terbitan Inggris, ‘The Guardian’. Buku Michael Crawley berkisah tentang pengalamannya tinggal selama 15 bulan di Addis Ababa bersama sekelompok atlet Ethiopia.
Sebagai antropolog dan pelari profesional ia melebur dengan berlari, belajar bahasa Amharik, makan injera, ikut berlatih ke hutan bersama mereka, bahkan ikut serta lomba mematikan seperti lari lintas alam Jan Meda. Di sini pelari yang tersusul oleh pelari lain, harus minggir.
Naluriah dan Trans-Tubuh
Crawley menemukan pendekatan naluriah terhadap cara berlari Ethiopia. Pelari Eropa cenderung melihat potensi atletik seseorang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Beda dengan Ethiopia yang membentuk kekuatannya melalui ‘trans-tubuh’, di mana energi dapat mengalir antar orang, dapat dibagikan, dan bahkan kadang-kadang dapat dicuri.
Berlatih sendirian baik untuk kesehatan. Untuk berubah, Anda harus berlari bersama orang lain. Bergiliran memimpin berarti memikul beban orang lain, sedangkan mengikuti jejak kaki seseorang berarti menyerap energi mereka.
Para pelari memiliki hubungan intuitif dengan lingkungan mereka. Menyerap udara istimewa di hutan-hutan, mencari medan bergelombang di atas tanah yang tidak rata, berlari zig-zag di antara baris pepohonan. Mereka termotivasi upaya menciptakan hal-hal baru atau cara baru melewati pepohonan. Kadang sangat serius, kadang diseling canda dan humor.
Rahasia kesuksesan mereka sering dikaitkan dengan kombinasi antara faktor genetik, lingkungan, budaya, dan metodologi pelatihan yang spesifik. Faktor ketinggian (Altitude Training) membuktikan sebagian besar pelari elit Ethiopia tumbuh dan berlatih di dataran tinggi, antara 2.000 hingga 2.500 mdpl. Tinggal dan berlatih di ketinggian secara alami meningkatkan produksi sel darah merah tubuh, yang meningkatkan kapasitas transportasi oksigen ke otot-otot mereka, memberikan keuntungan signifikan saat berlomba.
Faktor Genetika, banyak pelari maraton Ethiopia dan Kenya berasal dari wilayah tertentu (seperti wilayah Oromo dan Amhara di Ethiopia) yang diduga memiliki predisposisi genetik tertentu yang mendukung daya tahan luar biasa. Lari lebih dari sekadar olahraga di Ethiopia; ini adalah bagian dari budaya. Anak-anak sering berlari jarak jauh ke sekolah setiap hari, membangun fondasi kebugaran aerobik yang kuat sejak usia dini.
Beda Pola Makan
Beda dengan pola makan pelari Eropa yang konon sarat gizi, pola makan tradisional Ethiopia justru kaya akan biji-bijian utuh, terutama teff (bahan utama injera), lentil, dan sayuran. Makanan ini menyediakan sumber karbohidrat kompleks, zat besi, dan nutrisi penting lainnya yang ideal untuk atlet ketahanan.
Pelari Ethiopia juga disiplin, tekun dan focus. Mereka berlatih dalam kelompok besar, berangkat sebelum sarapan dan kembali saat makan siang. Satu-satunya bekal yang tersedia air minum kemasan. Sebuah studi tahun 2011 tentang ‘Asupan makanan dan makronutrien pelari jarak jauh elit Ethiopia' mencatat bahwa 'tidak ada cairan yang dikonsumsi sebelum atau selama latihan, hanya sedikit yang dikonsumsi setelah latihan.' Biasanya setelah latihan, hanya makan pisang.
Alih-alih minuman protein, banyak pelari Ethiopia minum beso, larutan yang terbuat dari tepung barley utuh yang dipanggang ringan, madu, dan air. Ini adalah minuman penambah energi Ethiopia. Karbohidrat utamanya adalah injera, roti pipih bebas gluten yang terbuat dari tepung teff.
Ethiopia sadar ada negara hebat lainnya: Kenya. Tanpa persaingan persahabatan itu, mungkin mereka tidak akan meraih banyak kemenangan besar. Haile Gebrselassie bersaing ketat di olimpiade melawan peraih medali perak abadi Kenya, Paul Tergat. “Rekor saya terutama berkat orang Kenya. Bagaimana Anda bisa memecahkan rekor dunia tanpa pelari Kenya,” kata Haile.
Dibentuk Gen Atlet
Begitulah Kenya dan Ethiopia seakan punya “cheat code” di dunia marathon? Jawabannya bukan hanya kerasnya berlatih, melainkan ada gen dan lingkungan tempat tinggal mereka. Menurut studi terbaru di Nature Genetics (2025), gen ACTN3, yang sering dijuluki “gen atlet,” lebih banyak ditemukan pada pelari elite dari wilayah ini.
Gen ini membantu otot mereka lebih kuat dan efisien saat berlari jauh. Hidup di dataran tinggi dengan oksigen tipis, bikin tubuh mereka unggul dalam mengelola oksigen. Selain faktor genetik, anak-anak terbiasa jalan atau lari jauh sejak kecil, terutama saat pergi ke sekolah.
Mereka memiliki bentuk dan gaya lari yang sangat efisien secara biomekanik, dikembangkan secara alami melalui ribuan mil lari lintas alam di medan yang bervariasi. Kombinasi unik dari faktor-faktor biologis dan lingkungan ini, ditambah dengan tekad yang kuat, telah menciptakan kekuatan super maraton yang mendominasi panggung dunia selama beberapa dekade.
Indonesia sebenarnya bisa meniru cara Kenya dan Ethiopia. Banyak dataran tinggi di atas 2000 mdpl di sini. Seandainya dibangun ekosistem yang kondusif, ditunjang bibit pelari yang berlatih secara alamiah sejak anak-anak, disediakan pelatih kompeten dan kompetisi berjenjang, tak mustahil lahir pelari marathon berkelas dunia.
Belajar dari Ethiopia, bukan utopia. Bersungguh dalam berlari. Bukan lari dari kenyataan dan tanggung jawab.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....