Harusnya Aviasi Kita Sejajar Tiongkok dan Rusia

  • 06 Jul 2026 20:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rusia meluncurkan tiga pesawat penumpang baru (MS-21-310, SJ-100, dan IL-114-300) yang sepenuhnya didukung oleh negara untuk mengurangi ketergantungan pada suku cadang dan mesin Barat.
  • Indonesia kehilangan peluang emas untuk mengembangkan pesawat regional sendiri, sementara Tiongkok dan Rusia terus memperkuat dominasi industri penerbangan global dengan dukungan finansial pemerintah yang kuat.
  • Kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak pada 9 Mei 2012 menewaskan 45 orang dan menunjukkan tantangan industri penerbangan dalam pengembangan teknologi pesawat baru.

.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

TERTUTUP sudah peluang bagi industri penerbangan kita untuk menciptakan pesawat regional. Besarnya potensi negeri kepulauan terbesar di dunia ini untuk terhubung dengan pesawat buatan sendiri kian menipis dan nyaris mustahil.

Dua raksasa baru telah lahir dengan persiapan matang. Tiongkok dan Rusia, yang sepenuhnya didukung kekuatan finansial negara, menyusul dua penjaga langit dunia yang telah lama bertakhta: Boeing dan Airbus.

Rusia meluncurkan tiga pesawat penumpang terbaru yang dipamerkan dan diuji langsung oleh Presiden Vladimir Putin di Institut Penelitian Penerbangan Gromov. Ketiga pesawat ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada suku cadang dan mesin Barat sekaligus memenuhi kebutuhan penerbangan domestik.

Ketiga pesawat itu adalah MS-21-310, SJ-100, dan IL-114-300. MS-21-310 merupakan pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang dirancang untuk penerbangan jarak menengah.

Pesawat ini diproduksi Irkut Corporation dan menjadi salah satu proyek strategis utama Rusia di sektor penerbangan komersial. Sementara itu, SJ-100 merupakan varian terbaru Sukhoi Superjet 100 yang difokuskan untuk penerbangan regional.

Adapun IL-114-300 merupakan pesawat turboprop yang dikembangkan khusus untuk melayani dan menjangkau rute-rute penerbangan regional.

Untuk memperkuat skuadron militernya, Rusia juga mengembangkan jet tempur siluman Sukhoi Su-57 dan menyiapkan 20 unit jet tempur Sukhoi Su-35 pesanan Iran.

Sukhoi Su-57 merupakan jet tempur generasi kelima dengan teknologi siluman dan kelincahan ekstrem. Pesawat ini dilengkapi radar AESA multifungsi dan dapat mencapai kecepatan supersonik hingga 2.600 kilometer per jam.

Sementara itu, Sukhoi Su-35 merupakan jet tempur multiperan generasi 4,5 yang lincah bermanuver, didukung sistem avionik canggih dan rudal jarak jauh.

Jajaran pesawat baru Rusia itu membangkitkan kembali keunggulan Moskow dalam industri pembuatan pesawat sekaligus mengurangi ketergantungan pada pesawat Barat. Maskapai Aeroflot pun diarahkan untuk tidak lagi sepenuhnya mengandalkan Boeing dan Airbus.

MC-21 merupakan jet penumpang jarak menengah bermesin ganda yang dibuat Irkut Corporation, salah satu bagian dari perusahaan milik negara United Aircraft Corporation.

Tidak seperti pesawat-pesawat buatan Rusia pada masa lalu yang berwajah kaku dan terkesan jadul, jet baru itu menggunakan material komposit untuk mengurangi bobot dan meningkatkan efisiensi.

Seperti dilakukan Tiongkok, Rusia kini juga berupaya memperkuat kemampuan memproduksi mesin jet sendiri. Salah satu mesin yang digunakan adalah SaM146, yang dikembangkan PowerJet, perusahaan patungan antara NPO Saturn Rusia dan Snecma Prancis.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Rusia mengurangi ketergantungan terhadap mesin buatan produsen Barat seperti Pratt & Whitney, Rolls-Royce, dan CFM.

Tragedi Gunung Salak

Ada pula pesawat Sukhoi Superjet 100, yang pernah terbang di langit Bogor. Pesawat ini merupakan salah satu pesawat penumpang Rusia pertama yang dikembangkan setelah bubarnya Uni Soviet.

Pesawat tersebut dirancang untuk menggantikan Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 peninggalan Soviet yang telah menua. Di pasar global, Superjet 100 berkompetisi dengan seri pesawat regional Bombardier CRJ, Embraer E-Jets, dan Antonov An-148.

Proyek Superjet 100 didukung penuh oleh pemerintah Rusia dan disebut sebagai salah satu proyek nasional terpenting.

Sukhoi Superjet 100 mulai beroperasi komersial pada 2011. Salah satu pengguna awalnya adalah maskapai nasional Armenia, Armavia, sementara Aeroflot memesan puluhan unit.

Di Indonesia, pesawat ini sempat dipesan Kartika Airlines sebanyak 15 unit.

Pada 9 Mei 2012, pesawat Sukhoi Superjet 100 melakukan penerbangan demonstrasi di Jakarta. Dalam perjalanan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju kawasan Jawa Barat, pesawat menabrak tebing Gunung Salak di Bogor.

Petaka tersebut menewaskan seluruh 45 orang di dalam pesawat, terdiri atas 37 penumpang, termasuk calon pembeli dan jurnalis, serta delapan awak.

Berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan melibatkan sejumlah faktor, termasuk keputusan awak kokpit dan pengabaian peringatan dari sistem Terrain Awareness and Warning System (TAWS).

Saat itu, jarak pandang di sekitar Gunung Salak juga tertutup awan tebal.

Lompatan Sukhoi

Program Sukhoi Superjet dikembangkan untuk mengisi kebutuhan pesawat regional dengan jangkauan sekitar 3.000–4.500 kilometer, sedikit lebih besar dibandingkan jet regional pada umumnya.

Program Russian Regional Jet (RRJ) Sukhoi bersaing dengan sejumlah rancangan lain, termasuk proyek dari Myasishchev dan Tupolev.

Boeing ikut membantu dalam sejumlah aspek program, mulai dari manajemen, teknik, pemasaran, pengembangan produk, sertifikasi, manajemen pemasok, hingga dukungan pelanggan.

Di Rusia, pesawat ini diproyeksikan menggantikan Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 yang telah menua. Di pasar global, Sukhoi bersaing dengan Antonov An-148, Embraer E190, dan Bombardier CRJ1000 buatan Kanada.

Sukhoi mengklaim biaya per penumpang dan biaya per penerbangan 6–8 persen lebih rendah dibandingkan Embraer 190. Konsumsi bahan bakarnya disebut setara dengan Antonov An-148, tetapi dengan kapasitas 22 penumpang lebih banyak.

Perakitan dilakukan di pabrik pesawat Komsomolsk-on-Amur di wilayah timur jauh Rusia. Sementara itu, Novosibirsk Aircraft Production Association memproduksi sejumlah komponen.

Pada Oktober 2017, sebanyak 105 unit SSJ100 telah beroperasi di berbagai negara. Sebagian digunakan oleh lembaga pemerintah, termasuk Angkatan Udara Kerajaan Thailand dan badan pemerintah Kazakhstan.

SuperJet International bertanggung jawab atas pemasaran di Eropa, Amerika, Afrika, Jepang, dan Oseania.

Kehadiran industri aviasi modern Tiongkok dan Rusia menghadirkan tantangan berat bagi Regio80. Habibie telah melihat peluang ini sekitar 20 tahun lalu dan bertekad membangun sendiri kebutuhan jembatan udara Nusantara tanpa terus bergantung pada Barat.

Andaikan saat itu produksi R80 sudah dimulai, bisa jadi sekarang kita telah sejajar dengan Tiongkok dan Rusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....