Pendidikan Membaca Arah Peradaban
- 10 Jul 2026 07:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelar akademik tidak lagi menjamin pekerjaan stabil karena dunia berubah eksponensial sementara sistem pendidikan bergerak lambat, menciptakan kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan pasar kerja.
- Tiongkok menutup 12.200 program studi lama (seni, humaniora, bahasa asing, manajemen) dan membuka 10.200 program baru terkait AI, robotika, dan teknologi masa depan sebagai strategi menyiapkan generasi untuk peradaban berikutnya.
- Pendidikan masa depan harus fokus pada kemampuan berpikir kritis, berimajinasi, berkomunikasi, dan adaptasi daripada mengejar tren pasar kerja yang terus berubah, karena profesi baru mungkin belum tercipta hari ini.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
BERPULUH tahun tertanam kuat di masyarakat: pilihlah jurusan yang prospeknya bagus, maka masa depan terjamin aman. Dahulu fakultas ekonomi jadi rebutan. Lalu bergeser ke teknik informatika, manajemen, komunikasi, desain, hingga ilmu komputer. Masyarakat pun berebut arus dengan harapan lulus kuliah, memperoleh pekerjaan yang layak.
Namun banyak lulusan justru menghadapi kenyataan, bahwa gelar akademik tidak lagi tiket menuju pekerjaan mapan. Dunia berubah cepat, sementara sistem pendidikan bergerak lambat.
Persoalannya bukan semata-mata salah memilih jurusan karena yang berubah adalah wajah peradaban manusia yang berayun mengikuti penemuan baru. Revolusi pertanian melahirkan kebutuhan petani dan ahli irigasi. Revolusi industri melahirkan insinyur dan pekerja pabrik. Revolusi informasi menciptakan pemrogram dan analis data. Kini dunia memasuki era kecerdasan buatan (AI), robotika, otomatisasi, bioteknologi, dan ekonomi digital.
Dalam setiap lompatan peradaban itu, selalu ada profesi yang lahir dan profesi yang kehilangan relevansi.
Pendidikan akan gagal bila hanya mengajarkan apa yang dibutuhkan hari ini. Pendidikan harus mampu membaca kebutuhan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan. Tiongkok menunjukkan bagaimana menyesuaikan sistem pendidikannya dengan perubahan peradaban.
Sepanjang 2021–2025, ada 12.200 program studi dihentikan atau ditutup, sementara sekitar 10.200 program studi baru dibuka. Studi bidang seni, humaniora, bahasa asing, hingga manajemen banyak dipangkas. Digantikan program baru yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, robotika, teknologi masa depan, hingga kecerdasan yang terwujud (embodied intelligence), perpaduan AI dengan robot atau perangkat fisik yang mampu berinteraksi langsung dengan lingkungan.
Kebijakan itu bukan tanpa alasan. Tingkat pengangguran kaum muda di Tiongkok masih di atas 16 persen. Tahun ini saja sekitar 12,7 juta mahasiswa memasuki pasar kerja. Jika arah pendidikan tetap lama, sementara industri bergerak menuju teknologi baru, maka jurang antara lulusan dan kebutuhan pasar kian melebar. Ini menunjukkan negara mulai memandang pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah, melainkan instrumen strategis untuk menyiapkan peradaban berikutnya.
Jurusan Disesali
Fenomena ini tak hanya terjadi di Tiongkok, karena AI mulai mengambil alih pekerjaan rutin, administratif, dan berbasis pola. Seorang desainer yang dibantu AI selesaikan gambar dalam hitungan menit. Penerjemah bahasa asing yang dahulu menjadi profesi tersendiri kini digantikan mesin lengkap dengan pelafalan bahasa. Artinya yang berubah bukan semata teknologi, melainkan struktur kebutuhan masyarakat.
Survei ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan universitas menggambarkan jurusan tertentu banyak disesali meski dulu sangat populer. Jurnalisme terbanyak disesali mencapai 87 persen. Disusul sosiologi, seni, komunikasi, pendidikan, pemasaran, ilmu politik, biologi, hingga sastra Inggris.
Bukan karena ilmu tersebut tidak penting. Sebagaimana diungkapkan ekonom ZipRecruiter, Sinem Buber, ketika masih kuliah banyak mahasiswa memang mencintai bidang yang dipilih. Namun setelah memasuki dunia kerja, realitas bicara lain. Gaji, peluang kerja, dan keberlanjutan karier lebih nyata dibanding idealisme pilih jurusan.
Ini bukan berarti ilmu-ilmu sosial, seni, atau jurnalisme kehilangan makna. Yang berubah adalah cara profesi itu dijalankan. Seorang wartawan masa kini tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus mampu membaca data, memverifikasi informasi digital, memahami algoritma media sosial, memanfaatkan AI sebagai asisten riset, mengolah multimedia, dan membangun kepercayaan publik di tengah banjir informasi.
Mengapa Pendidikan Selalu Terlambat? Perubahan zaman berlangsung secara eksponensial sedangkan perubahan kurikulum terjerat syarat administratif. Teknologi berubah dalam hitungan minggu, sementara penyusunan kurikulum baru butuh waktu bertahun-tahun. Terjadilah ‘future lag’ kesenjangan laju perubahan dunia dengan kemampuan lembaga pendidikan menyesuaikan diri.
Apakah mengikuti tren selalu benar? Sebagian pakar pendidikan justru mengingatkan bahwa menutup jurusan lama dan membuka jurusan baru belum tentu menyelesaikan masalah.
Teknologi juga memiliki siklus. Hari ini AI menjadi primadona. Sebentar lagi bisa muncul teknologi baru yang sama sekali berbeda. Apabila pendidikan hanya mengejar tren pasar kerja, universitas akan terus berlari tanpa pernah benar-benar sampai. Karenanya setiap mahasiswa diberi kebebasan membangun kombinasi kompetensinya sendiri dan yang dibutuhkan tak sebatas spesialisasi, melainkan kesadaran lintas ilmu yang kuat, kemampuan membangun jejaring, dan sikap terbuka yang adaptif.
Membaca Arah
Teknologi boleh berubah, peralatan boleh berganti, tetapi manusia tak akan lepas dari kebutuhan dasar pangan, kesehatan, energi, pendidikan, keamanan, komunikasi, lingkungan hidup yang sehat serta kebudayaan. Pendidikan formal bukanlah pabrik pencetak pekerja. Pendidikan adalah tempat membentuk manusia yang mampu belajar, berpikir, beradaptasi, dan menciptakan solusi.
Di era AI, kemampuan terbaik bukan menghafal informasi, melainkan berpikir kritis, berimajinasi, berkomunikasi, bekerja sama, memiliki integritas, dan mampu terus belajar. AI mungkin mampu menulis, tetapi manusialah yang mengisi makna. AI mampu menghitung, tetapi manusialah yang menentukan nilai.
Kredo pendidikan masa depan bukan lagi seberapa cepat lulusannya bisa kerja, melainkan seberapa siap mereka menghadapi pekerjaan baru yang bahkan hari ini mungkin belum diciptakan. Artinya pendidikan dituntut menyiapkan manusia yang kompatibel, mampu hidup dan berkarya dalam peradaban yang terus berubah.
Kita boleh terus membangun gedung sekolah yang megah. Kita membuka ratusan jurusan baru. Pun boleh mengejar peringkat universitas dunia. Namun satu pertanyaan terus menunggu jawaban, apakah kita sedang mendidik generasi untuk menghadapi masa depan, atau sebatas mengisi kebutuhan yang sudah lapuk saat mereka lulus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....