Indonesia di Tengah Bara Batu Bara
- 06 Nov 2025 11:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
LANGIT Indonesia masih diselimuti asap dari cerobong-cerobong PLTU. Di bawahnya, mesin-mesin tua terus berputar, menelan jutaan ton batu bara—831 juta ton pada tahun lalu, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Lebih dari separuh listrik negeri ini masih lahir dari bara. Dari api yang menggerakkan peradaban sekaligus membakarnya perlahan.
Ketika banyak negara mulai menutup tirai masa lalu dan menatap masa depan energi bersih, Indonesia masih melintas di jalan yang sama. Panas, berdebu, dan berat.
Pertanyaannya kini, beranikah kita berbelok menuju cahaya? Atau tetap melangkah dalam gelap yang menyesakkan?
Pemerintah menargetkan 23 persen energi terbarukan, tapi langkah kita baru tiba di 13,9 persen. Tertinggal sembilan poin dari target itu bukan sekadar angka, melainkan waktu yang terbuang, udara yang kian sesak, dan hutan yang terus terbakar.
| Baca juga: Menguji Mesin Birokrasi Daerah |
Subsidi energi fosil mencapai Rp327 triliun atau lima sampai enam kali lipat dari dukungan untuk energi bersih. Kita masih memberi napas pada masa lalu, sementara masa depan menunggu di ambang pintu.
Pada 2024, konsumsi BBM bersubsidi menembus 45 juta kiloliter. PLTU masih mendominasi lebih dari separuh listrik nasional. Setiap rupiah untuk fosil adalah jejak karbon baru, asap baru di langit yang sudah penuh sesak.
Namun, di balik kabut itu, cahaya mulai menembus. Kapasitas energi terbarukan kini mencapai 14,1 gigawatt. Perinciannya panas bumi 6,3 GW, air 5,5 GW, surya 0,47 GW, dan sisanya angin serta biomassa.
Demi menyalakan target 23 persen, kita butuh tambahan 8–10 GW lagi. Harga panel surya turun 85 persen dalam 10 tahun terakhir (IRENA, 2024). Tapi investasi baru didapat USD1,6 miliar dari kebutuhan USD20–25 miliar per tahun, artinya selisih itu menunggu keberanian dan arah politik yang teguh.
RUPTL Hijau 2025–2034 membawa janji, yaitu 35 persen energi terbarukan pada 2034. Dana Just Energy Transition Partnership senilai USD20 miliar siap mengalir, membiayai pensiun dini PLTU, menanam ladang surya di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, serta memutar turbin angin di garis pantai Nusantara. Setiap proyek bukan sekadar angka, melainkan denyut baru bagi ekonomi hijau dan langkah kecil menuju udara yang lebih jernih.
| Baca juga: Mengejar Berkah Tour de France |
Kuncinya sederhana: hentikan subsidi untuk masa lalu, menguatkan jaringan PLN agar siap dengan energi baru, dan mengarahkan insentif pada rakyat, bukan korporasi. Dengan langkah ini, tambahan 8–10 GW energi bersih bukan lagi mimpi.
Namun di sisi lain batu bara ada wajah-wajah yang menggantungkan hidup pada perut bumi. Ribuan penambang di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi bekerja dari subuh hingga senja, menggali bukan sekadar batu hitam, tapi harapan untuk menyekolahkan anak, membayar cicilan rumah, dan menyalakan dapur.
Bagi mereka, transisi energi sering terdengar seperti kabar baik yang disampaikan dalam bahasa yang asing. Menjanjikan masa depan, tetapi mengancam hari ini.
Karena itu, keadilan transisi harus nyata: pelatihan ulang, investasi pada industri baru di wilayah tambang, dan perlindungan sosial bagi para pekerja yang terdampak. Batu bara boleh padam, tapi hidup mereka tidak boleh ikut redup.
Transisi energi bukan tentang meninggalkan manusia, melainkan menuntun mereka ke babak baru, dari keringat di tambang menuju keterampilan di pabrik panel surya, turbin angin, atau industri hijau lainnya.
Menurut Kementerian ESDM (2025), emisi karbon dari pembangkit fosil mencapai 439 juta ton CO₂ per tahun, naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Jika arah ini tak diubah, biaya kesehatan akibat polusi bisa menembus Rp48 triliun per tahun, biaya yang tentu dibayar dengan napas anak-anak di kota penuh debu.
Transportasi juga menambah bara di tungku. Konsumsi BBM kendaraan mencapai 36 juta kiloliter pada 2024—80 persen dari seluruh subsidi BBM. Dengan kendaraan listrik berbasis energi bersih, Indonesia berpotensi menghemat 12–15 juta kiloliter BBM per tahun, setara Rp48–50 triliun, sekaligus menurunkan polusi di jalanan yang padat.
Energi terbarukan membawa kehidupan baru. Setiap 1 GW tenaga surya melahirkan sekitar 8.000 lapangan kerja hijau. Dengan tambahan 8–10 GW, ada peluang bagi 64–80 ribu tangan muda untuk bekerja, membangun negeri dengan tenaga matahari, bukan asap batu bara.
Jika langkah ini ditunda, bara akan terus menyala, menelan udara dan peluang. Investasi hijau kini baru USD1,6 miliar. Bandingkan dengan Thailand dan Vietnam yang telah menarik lebih dari USD5 miliar dalam dua tahun. Di antara tetangga yang sudah menyalakan lentera, kita tak boleh terus memeluk gelap.
Transisi energi bukan hanya soal mengganti mesin, tetapi mengubah cara kita berpikir dan hidup. Setiap langkah menuju energi bersih adalah langkah meninggalkan ketergantungan, menurunkan emisi, dan menyalakan harapan.
“Kita tidak sedang membangun mesin. Kita sedang menyalakan masa depan.”
Jika keberanian menjadi bahan bakar, maka Indonesia akan bersinar bukan karena bara, tapi karena matahari yang menyapa setiap pagi.

Penulis: M. Rohanudin
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....