Mengejar Berkah Tour de France
- 31 Jul 2026 07:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dunia baru saja selesaikan lomba ketahanan paling gila se jagad raya, Tour de France, yang menguji kemampuan manusia sampai batas maksimal.
- Untuk kelima kalinya berturut-turut lomba ini dimenangi ‘jet-darat’ Tadej Pogacar.
- Di setiap gelaran Tour de France tidak hanya manusia yang bertarung.
- Tour de Indonesia tetap menjadi yang terbesar dan tertinggi di negeri ini, meski masih kalah pamor dari Tour de Langkawi Malaysia.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
DUNIA baru saja selesaikan lomba ketahanan paling gila se jagad raya, yang menguji kemampuan manusia sampai batas maksimalnya. Inilah lomba balap sepeda jalan raya (open road race) Tour de France yang melahap 21 tahapan menempuh 3.197 km dalam 22 hari.
Balapan ini diikuti ratusan pebalap sepeda professional top berbagai negeri. Pebalap Eropa sering menang, sementara belum satupun pebalap Asia pernah merasakan naik podium.
Tour de France dimulai lebih dari 100 tahun lalu pada 1903 ketika 60 pembalap menempuh rute panjang mengelilingi Prancis, menempuh 2.428 km dalam rute melingkar. Sekarang ini balapan edisi ke-109.
Wibawa dan gengsi tour Prancis ini mengalahkan seluruh tour manapun. Banyak rute ikonik yang dilewati pebalap top, laris dijual sebagai perjalanan wisata para petualang amatir sepeda. Anda bisa menguji kemampuan di rute neraka pegunungan Pyrenees, di gugusan Alpen Eropa yang membentang hingga Spanyol.
Lembah Pyrenees sebagian besar membentang dari utara ke selatan, memotong tegak lurus terhadap rangkaian pegunungan. Hal ini menciptakan budaya lembah yang berbeda di kedua sisi dan membuat perjalanan melintasinya lebih menantang.
Jalur tinggi ini pertama kali digunakan Tour de France pada 1910. Saat itu para pembalap menempuh jarak sangat jauh dengan sepeda besi beroda kayu di jalan yang belum diaspal.
Hal ini menjadi awal terciptanya beberapa kisah menakjubkan tentang bersepeda. Puncak Alpe d'Huez bisa dibilang salah satu tanjakan paling ikonik di dunia, ditambah 21 tikungan tajam di Alpe d'Oisans merupakan ciri khas Tour de France.
Setiap dari 21 tikungan diberi nomor dan juga memiliki papan nama yang menandakan pemenang etape Tour de France di gunung tersebut. Karena tanjakan ini telah banyak ditampilkan dalam berbagai edisi balapan, banyak papan nama tersebut memuat nama lebih dari satu pembalap.
Banyak pemenang etape ini dari Belanda, sehingga tanjakan ini dijuluki 'Gunung Belanda'. Pun tikungan tajam nomor 7 sekarang dikenal sebagai ‘Sudut Belanda’.
Di situlah para penggemar dari Belanda berkumpul beberapa hari sebelum tur tiba, memutar music, berdansa menciptakan suasana pesta. Lebih dari satu juta penggemar tersebar di sepanjang tanjakan sepanjang 13,8 km dengan kemiringan rata-rata 8,1 persen dan diklasifikasikan sebagai ‘Hors Categorie’. Kemiringan tercuram terdapat pada kilometer pertama tanjakan di mana jarang menukik di bawah 10 persen.
Jet Darat Pogacar
Untuk kelima kalinya berturut-turut lomba ini dimenangi ‘jet-darat’ Tadej Pogacar. Pebalap Slovenia ini membela tim UAE Team Emirates-XRG, pada etape pungkasan ke-21 Pogacar berduel seru melawan Mathieu van der Poel, pebalap Alpecin-Premier Tech.
Dengan gelar kelima ini, Pogacar bergabung dalam daftar eksklusif bersama Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain sebagai pembalap yang mampu lima kali memenangkan Tour de France. Pogacar juga menjadi pembalap pertama pada abad ke-21 yang mencatat pencapaian itu.

Sebenarnya ada pebalap hebat yang potensial menantang kejayaan Pogacar. Namanya Jonas Vingegaard Rasmussen, jagoan Denmark yang sudah lama sering terlibat duel jelang garis akhir lawan Pogacar.
Jonas tergabung di tim Visma-Lease a Bike, masyhur sebagai jago tanjakan yang hanya bisa dikalahkan oleh raja kaus polkadot asal Ekuador, Richard Carapazz.
Prestasi Vingegard pun mengesankan, selalu berhasil finis di semua tahapan. Juga mencapai runner-up 2021 dan 2024 di belakang Pogacar. Tahun ini nasibnya fatal, dalam sebuah belokan sempit di Itzulia Basque Country, dia menabrak tanggul kecil di tengah jalan, berbarengan dengan pebalap lain.
Vingegaard paling parah, pebalap yang dikenal ‘bermesin diesel’ ini patah tulang selangkangan hingga dievakuasi dengan helikopter. Si tubuh kurus yang hanya seberat 60 kg itu terpaksa mundur dari balapan.
Seperti diramalkan banyak orang, gelar raja tanjakan masih dikuasai mesin Ekuador, Richard Antonio Carapaz Montenegro. Carapaz sebenarnya memenangi 4-5 tahapan tahun ini, tetapi masih gagal sebagai juara klasemen.
Ia dikenal sebagai ‘lokomotif’ karena sejak dini berani menggebrak setiap tanjakan dan menarik peleton tanpa jeda. Pebalap top lain sekelas Pogacar maupun Vingegaard sering kedapatan mengekor di belakangnya.
Kompetisi Pabrikan
Di setiap gelaran Tour de France tidak hanya manusia yang bertarung. Pabrikan sepeda, nama besar tim, merk mobil pendukung tim, dan logo-logo sponsor saling berkompetisi mengejar keunggulan.
Pada 2026 ini Tim UAE Emirats-XRG tempat Pogacar dan pebalap muda terbaik Del Toro bernaung, disisihkan tim Lidl-Trek yang diperkuat pebalap peringkat 6 dan 7, Mattias Skjelmose dan Yuan Ayuso, serta jagoan sprint pemegang kaus hijau, Mads Pedersen.
Terjadi persaingan sengit tim terbaik sekaligus merk sepeda yang dipakainya. UAE Emirates mengandalkan sepeda buatan Italia Colnago V4Rs, sedangkan Lidl-Trek membawa nama besar Trek Madone SLR9 dan Emonda buatan Amerika Serikat.
Urutan berikutnya juga saling direbut merk terkenal Specialized yang digunakan tim urutan ketiga Redbull-BORA Hansgrohe. Tempat terhormat lainnya diperebutkan merk kuat Cannondale, Cervelo, Pinarello.
Persaingan merk sepeda itu diikuti dengan berbagai penyedia komponen pelengkap sepeda, seperti sistem pemindah gigi, rem, ban, velg, sadel, helm, bahkan hingga botol minuman.
Paling sengit persaingan sistem pemindah gigi, gir depan-belakang, derailur, rantai, pedal, handlebar. Raja komponen dari Jepang, Shimano selalu berhadapan dengan dua penantang utamanya, Sram buatan Amerika dan Campagnolo buatan Italia.
Potensi Indonesia
Soal variasi medan lomba, Indonesia sebenarnya tak kekurangan potensi. Misalnya tanjakan dengan kemiringan (gradient) lebih 8 persen pun banyak, yang bisa ditemukan di gelaran Tour de Ijen di Banyuwangi, Tour de Singkarak, Pangandaran, Bromo, tanjakan lama Tawangmangu, Nagrek di Garut, tanjakan lama Gombel di Kabupaten Semarang, tanjakan ‘menangis’ di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur, dan banyak tanjakan neraka lainnya tersebar di kawasan Dieng, Wonosobo.
Tour de Indonesia pernah melintas di lembah berkabut di antara Gunung Merbabu dan Merapi, antara kecamatan Selo dan Cepogo, Boyolali. Sayangnya berbagai asset alam bergunung dan berlembah ini belum terkelola sebagai potensi besar wisata bersepeda. Padahal penggemar sepeda jarak jauh semakin tumbuh bergairah.
Tour de Indonesia tetap menjadi yang terbesar dan tertinggi di negeri ini, meski masih kalah pamor dari Tour de Langkawi Malaysia. Gengsi Tour de Indonesia selayaknya untuk terus ditingkatkan levelnya.
Inilah barometer prestasi balap sepeda kita, sehingga dari tahun ke tahun harus dinaikkan levelnya sejajar Tour de Langkawi. Indonesia tahun ini masih level 2.1 UCI, sedangkan Tour Langkawi sudah di level 2- HC atau Hors Class.
Untuk naik ke level itu, banyak yang harus dibenahi. Pesertanya tak sebatas tim-tim level continental, tapi juga harus melibatkan tim pro-continental dan world tour.
Selain itu ada juga Tour de Singkarak dan Tour de Ijen Banyuwangi, levelnya baru 2.2 UCI. Sebelumnya juga ada Tour de Flores yang terakhir diselenggarakan pada 2017.
Kalau kita sudah mampu membangun sirkuit dan menggelar balapan MotoGP di Mandalika, tak mustahil bisa mengeksekusi potensi balap sepeda nasional.
Percayalah berkah potensi pariwisata dan ekonomi di belakangnya sangat besar. Banyuwangi dan Padang sudah membuktikannya melalui tur Ijen dan Singkarak.***
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....