Membusakan Asa Jawa

  • 03 Nov 2025 09:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

JAWA, pulau terkecil di antara lima besar, adalah wilayah sarat infrastruktur. Berlimpah fasilitas mulai terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, dan terlebih jalan raya. Hampir segala sudut daratan Jawa bisa dijangkau transportasi.

Tak terbantahkan, jalan tol Trans Jawa mengubah lanskap transportasi darat. Kini bertumbuh bus-bus mewah merambah rute ‘gemoy’ Jakarta-Malang dan rute samping yang mendadak seksi. Berbagai kota di tingkat kabupaten ikut bergairah: Jepara, Wonogiri, Wonosari, Pacitan, Tulungagung, Banyuwangi, Sumenep.

Dalam hal kenyamanan dan kemewahan, bus premium bersaing dengan kereta penguasa pantura Argo Bromo Anggrek dan Sembrani. Di jalur tengah dan selatan, sejumlah bus menantang hegemoni Argo Wilis ke Bandung, dan Sancaka ke Yogyakarta.

Perusahaan bus berlomba menghadirkan perjalanan rasa-Sultan dengan chasis Volvo, Scania, dan Mercedes Benz yang bermesin 450 daya kuda. Satu unit bus lantai ganda (double decker) yang eksklusif dibangun karoseri Adiputro, Laksana, atau New Armada harganya lebih Rp4 miliar. Di kelas menengah, bus berchasis Hino RM dengan suspensi udara yang lembut, tak tertandingi merk lainnya.

Kompetisi head to head antara bus dan kereta api premium ini, menghidupkan industri manufaktur dan jasa. Perusahaan karoseri tumbuh pesat, diikuti komponen pendukung yang vital seperti industri kursi penumpang (didominasi Rimba Kencana) dan desain interior. Di luar itu berkembang pula restoran, pedagang madya di rest area, terminal-terminal bus, SPBU, dan tenaga kerja baru.

Siapa Lebih Cepat

Bagaimana soal kecepatan? Rekor tercepat pantura sejak Februari 2025 dicetak Argo Bromo Anggrek yang melompati stasiun Bojonegoro, dan meringkas waktu tempuh Jakarta-Surabaya hanya 7 jam 45 menit. Argo Bromo hanya berhenti di Cirebon, Pekalongan, Semarang. Berkat rel ganda tanpa berpapasan, lokomotif CC-206 buatan General Electric Transportation Amerika, gesit berlari 120 kilometer perjam.

Mampukah bus menandinginya? Jalan tol Trans Jawa sejauh 782 km atau lebih jauh 57 km dibandingkan rel KA pantura yang 725 km. Laju bus terpotong berhenti isi solar dan masuk rumah makan.

Nah berapa rekor tercepat mereka? Bus mewah lantai ganda menempuh Jakarta-Surabaya lebih 9 jam. Tetapi bus-bus Damri bermesin Hino RM, berisi 40 kursi dan harga tiket tak sampai Rp300 ribu, melahapnya 8 jam saja.

Damri melaju tanpa pernah ke luar tol. Pesaingnya yang bertarif murah antara lain Haryanto, Mawar, Kramat Djati, Sari Indah, Akas Asri, Pahala Kencana.

Damri pun tak mau kalah bersaing premium dengan meluncurkan dua bus lantai ganda Mercedes Benz. Di kelas mewah itu Damri menghadapi Gunung Harta, Rosalia Indah, Juragan 99, M-Trans, Unicorn Indorent.

Sejauh ini masyarakat cukup terlayani secara seimbang antara moda darat bus dan rel kereta api. Harga tiket bus sangat bersaing karena penumpang menikmati gratisnya snack, kopi, makan, kursi empuk, dan WiFi. Ini melebihi fasilitas Argo Bromo Anggrek.

Moda angkutan udara sangat cukup menghubungkan kota-kota besar di Jawa. Namun masih ada yang kurang terhubung baik, misalnya Semarang, Solo, Malang, Jember, Sumenep, Kediri, Banyuwangi, Cirebon, Pangandaran.

Sebagian bandaranya tergolek senyap. Bandara kecil lainnya nyaris gulung landas-pacu, yaitu Ngloram di Blora, Wiriadinata (Tasikmalaya), Tunggul Wulung (Cilacap), Cakrabhuwana (Cirebon), dan Trunojoyo (Sumenep). Moda kapal laut pun terlayani ‘Short Sea Shipping’ melayani antarpelabuhan di pantura, dan Tol Laut menampung logistik dalam jumlah besar.

Masih Perlukah Whoosh?

Fakta keterhubungan transportasi di Jawa yang ‘berlimpah’ ini berpotensi membungkam ambisi pengembangan jalur Whoosh hingga Surabaya. Pakar transportasi publik, Agus Pambagio mencemaskan perpanjangan Whoosh (singkatan: Waktu Hemat Operasi Optimal Sistem Hebat) hingga Surabaya merupakan jebakan baru utang. Soalnya China bersedia meninjau utang Whoosh Rp118 triliun asalkan proyek ini lanjut hingga Surabaya.

Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan yang dipecat, tegas tak sepakat kereta cepat. Kita lebih butuh rel di luar Jawa, cukup KA konvensional yang seluruh manufakturnya bisa dikerjakan di PT Inka Madiun. Tak perlu tenaga ahli asing dan impor barang, terlebih tak menambah utang.

Sebagai catatan, jalur rel kereta api aktif per September 2025 mencapai 6.945 kilometer membentang di Jawa, Sumatra, dan sedikit di Sulawesi. Target pemerintah menambahnya hingga 13.000 kilometer pada 2030. Panjang rel ini belum terhitung masih adanya lebih 2.233 kilometer jalur non-aktif yang terbengkalai.

Di Papua Tengah juga terdapat rel melalui jalur tambang Freeport di Mimika sejauh 26 km. Direncanakan pembangunan rel baru Sorong-Manokwari-Jayapura dan Merauke-Boeven Digoel di Papua Selatan.

Jawa masih menjadi tulang punggung perkeretaapian nasional, dengan panjang jalur aktif mencapai 4.921 kilometer, 473 stasiun, dan lebih dari 7.000 unit armada yang beroperasi, termasuk kereta reguler dan kereta cepat.

Sumatra memiliki jalur aktif 1.871 kilometer dengan 146 stasiun dari 7.032 unit kereta reguler. Sulawesi kini telah memiliki jalur aktif sepanjang 168 kilometer dan 10 stasiun. Di Papua Tengah juga terdapat rel melalui jalur tambang Freeport di Mimika sejauh 26 kilometer. Direncanakan pembangunan rel baru Sorong-Manokwari-Jayapura dan Merauke-Boeven Digoel di Papua Selatan.

Pencapaian itu masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia. Karenanya akan terus dibangun jalur KA terutama di luar Jawa, meski dibutuhkan dana besar yang tak seluruhnya bisa ditopang APBN. Bisa ditempuh skema pembiayaan swasta dikenal PPP (Public Private Partnership).

Hingga Agustus 2025 panjang jalan tol di seluruh negeri mencapai 3.092,7 kilometer dan lebih separuhnya atau 1.838,06 kilometer terbentang di Jawa. Sumatra memiliki 1.085,93 kilometer, pulau terbesar Kalimantan hanya dibentangi 97,27 kilometer jalan tol, Sulawesi 61,45 kilometer, dan Bali 10,7 kilometer. Belum ada jalan tol di Papua, Maluku, NTB, NTT.

Jika Whoosh jadi membentang hingga Surabaya, akan banyak harapan hidup di seantero Pulau Jawa tergerus dan terhembalang. Whoosh Jakarta-Bandung saja sudah mendistorsi KA Parahyangan. Jadi berhati-hatilah dengan ambisi tanpa data dan logika, karena asa bagi seluruh Jawa bisa terbuncah menjadi busa-busa belaka.

Penulis: T.Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....