Mananwir Franky Umpain Dorong Mahasiswa IKMARA Siap Diri Hadapi Tantangan Global

  • 02 Okt 2026 18:33 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Ikatan Mahasiswa Raja Ampat (IKMARA) Kabupaten Sorong menggelar Sharing Session bersama Mananwir Franky Umpain dengan tema “Siapa Yang Menentukan Masa Depan Raja Ampat?” di Gedung Aula LPTQ Aimas, Kabupaten Sorong, Rabu, 1 Oktober 2026.

Dalam sharing session tersebut, Mananwir Franky Umpain menekankan bahwa bicara Raja Ampat harus utuh, dari Misool hingga Ayau.

Ia mengatakan, saatnya mahasiswa berkontribusi untuk kemajuan Raja Ampat. Menurutnya, IKMARA harus bermanfaat bukan hanya untuk mahasiswa tetapi juga untuk Raja Ampat.

Franky juga mengingatkan mahasiswa bahwa Raja Ampat saat ini tidak lagi hanya menjadi wilayah yang dikenal masyarakat lokal, tetapi telah menjadi bagian dari perhatian dunia.

“Kita adalah anak Papua dari Raja Ampat, dan kita adalah anak Indonesia, saat ini kita adalah masyarakat dunia,” ujar Franky.

Ia menjelaskan, dunia datang ke Raja Ampat karena memiliki surga terakhir di bumi. Bendera-bendera dari seluruh dunia berkibar di kapal-kapal wisata di Piaynemo.

“Itu artinya, kita bukan lagi masyarakat kampung yang terisolir. Kita adalah masyarakat dunia,” katanya.

Menurut Franky, kondisi tersebut harus diikuti dengan kesiapan generasi muda Raja Ampat untuk menghadapi tantangan yang akan datang.

“Untuk menjadi masyarakat dunia, kita tidak boleh minder! Kita tidak boleh hanya jadi penonton di tanah kita sendiri,” ujarnya.

Ia menilai tantangan 10 tahun ke depan bukan lagi hanya tentang siapa yang memiliki ikan banyak, tetapi siapa yang memiliki kemampuan untuk menjaga sumber daya tersebut.

“Tantangan 10 tahun ke depan bukan lagi tentang siapa yang punya ikan banyak, tapi siapa yang punya otak cerdas untuk menjaga ikan itu,” katanya.

Franky juga menekankan pentingnya menjaga nyawa, harta dan martabat orang Raja Ampat, selain persoalan ulayat.

“Bukan lagi siapa yang punya Ulayat (Pulau), tapi siapa yang mampu jaga Nyawa, Harta dan Martabat Orang Raja Ampat,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan ke depan bukan hanya tentang perebutan batu dan kayu, tetapi juga perebutan teknologi, bahasa internasional dan cerita.

Karena itu, mahasiswa diminta mempersiapkan diri sejak sekarang melalui pendidikan, penguasaan bahasa Inggris, teknologi serta tetap menjaga nasionalisme.

“Kalau kita tidak siapkan diri dari sekarang - dengan kuliah sungguh-sungguh, dengan kuasai bahasa Inggris, dengan kuasai teknologi, dengan jaga nasionalisme kita - maka 20 tahun lagi kita akan jadi tamu di rumah kita sendiri,” katanya.

Franky mengajak mahasiswa menjadi generasi Raja Ampat yang mampu membawa identitas Papua dan Indonesia sekaligus bersaing di tingkat dunia.

“Jadilah anak Raja Ampat yang CINTA PAPUA, CINTA INDONESIA TAPI MAMPU BERSAING DI DUNIA,” ujarnya.

Sharing Session tersebut ditutup dengan pesan, “DARI MISOOL HINGGA AYAU, DARI RAJA AMPAT UNTUK INDONESIA DAN DUNIA.”

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....