Kunjungi Botanical Garden, DLH PBD Dorong Tanaman Endemik Papua Ada Ruang Publik

  • 18 Sep 2026 13:23 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya Julian Kelly Kambu mengunjungi Suratman Botanical Garden (SBG) di Jalan Durian, Aimas, Kabupaten Sorong, untuk melihat langsung potensi keanekaragaman hayati dan tanaman endemik Papua yang dikembangkan melalui pembibitan masyarakat.

Julian mengatakan, keanekaragaman hayati merupakan salah satu isu lingkungan global yang perlu mendapat perhatian di tengah perubahan iklim. Menurutnya, selain polusi dan perubahan iklim, hilangnya sebagian keanekaragaman hayati menjadi ancaman yang perlu diantisipasi melalui langkah mitigasi dan pengelolaan yang tepat.

Ia menyebut data Bappenas mencatat sekitar 15.300 keanekaragaman hayati berpotensi hilang akibat perubahan iklim. Karena itu, menurut Julian, Papua Barat Daya perlu memiliki langkah konkret untuk mengidentifikasi, melindungi dan mengembangkan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki.

“Ini harta kita, kekayaan kita. Yang mungkin kita sendiri tidak tahu, kita lihat tapi kita anggap itu biasa. Tapi yang biasa itu mungkin akan menjadi hilang, baru kita sadar setelah orang lain menemukan,” kata Julian pada Jumat 18 September 2026 siang.

Julian juga mendorong agar tanaman endemik Papua mulai dikembangkan sebagai bagian dari ruang terbuka hijau, termasuk di kawasan perkantoran dan median jalan.

Ia mencontohkan kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya di kilometer 16 Sorong yang dalam kajian AMDAL direkomendasikan menggunakan tanaman endemik Papua.

“Ke depan semua median jalan kita tanam dengan palem endemik Papua. Supaya sambil jalan, tamu yang datang bisa kita bilang ini endemik Papua, tidak ada di tempat lain,” ujarnya.

Menurut Julian, pemanfaatan tanaman endemik tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, dapat berkolaborasi dengan masyarakat untuk memperbanyak bibit dan mengenalkan tanaman asli Papua kepada masyarakat luas.

Sementara itu, Direktur Yayasan Kasuari sekaligus pengelola Suratman Botanical Garden, Dwi Suratman, mengatakan pengembangan tanaman endemik Papua di kebun tersebut dilakukan bersama Yayasan Kasuari, Fauna & Flora Program Tanah Papua, Balai Besar KSDA Papua Barat Daya serta masyarakat.

Dwi menjelaskan, pihaknya menerapkan skema pembibitan berbasis insentif masyarakat. Masyarakat diberikan pendampingan untuk mengenali potensi tumbuhan di wilayah mereka, kemudian melakukan pembibitan. Tanaman yang telah tumbuh selanjutnya ditampung untuk dikembangkan dan dipasarkan.

“Jadi masyarakat kita ajari untuk mengenali potensinya. Kita sama-sama eksplorasi, lalu memberitahu masyarakat, ini punya potensi, tumbuhan ini punya potensi, dan bagaimana cara budidayanya,” jelas Dwi.

Menurutnya, skema tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa merusak populasi tumbuhan di alam. Tanaman yang diambil hanya anakan atau bijinya, sementara pohon indukan tetap dipertahankan di hutan masyarakat.

Dwi menyebut saat ini SBG telah membudidayakan sekitar 400 hingga 500 spesies tumbuhan dengan jumlah tanaman mencapai ribuan. Di antaranya lebih dari 200 jenis anggrek, lebih dari 30 jenis sarang semut, lebih dari 30 jenis hoya dan sekitar 20 jenis palem asli hutan Papua.

Ia mengatakan tanaman asli Papua memiliki potensi besar sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya menarik. Bahkan, sejumlah jenis memiliki pasar hingga ke luar negeri.

“Pada dasarnya semua jenis tumbuhan hutan yang punya warna menarik, bentuk yang unik, semua punya potensi sebagai tanaman hias. Tinggal bagaimana kita mengemas dan membranding dia sebagai salah satu tanaman hias asli Papua,” kata Dwi.

Dwi menambahkan, pengembangan tanaman endemik Papua juga dapat menjadi alternatif bagi tanaman yang selama ini banyak digunakan di ruang publik, seperti pucuk merah dan sejumlah jenis palem yang bukan tanaman asli Papua.

Ia berharap dukungan kebijakan pemerintah daerah dapat mendorong penggunaan tanaman asli Papua di berbagai wilayah Papua Barat Daya, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat kampung sebagai pelaku utama pembibitan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....