Perkuat Suara Konservasi, OMS Papua Barat Daya Belajar Videografi dan Siaran Pers

  • 24 Agt 2026 21:40 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya tidak cukup hanya dilakukan di lapangan. Cerita mengenai kerja-kerja konservasi perlu disampaikan kepada publik melalui tulisan dan dokumentasi visual yang kuat agar dapat memperluas dukungan, memperkuat advokasi, sekaligus menunjukkan dampak nyata dari berbagai program yang dilakukan organisasi masyarakat sipil (OMS).

Kebutuhan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan penguatan kapasitas komunikasi bagi OMS di Papua Barat Daya. Sebanyak 28 perwakilan OMS yang bergerak di bidang pesisir dan laut mengikuti pelatihan videografi, fotografi, dan penulisan siaran pers yang diselenggarakan Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) bekerja sama dengan Starling Resources pada 19–21 Agustus 2026 di Pendopo Yayasan Satu Harapan, Sorong.

Bagi organisasi yang bekerja langsung bersama masyarakat, dokumentasi bukan sekadar arsip. Foto, video, dan tulisan dapat menjadi sarana untuk merekam proses, menyampaikan pembelajaran, mengangkat suara masyarakat, serta memperlihatkan perubahan yang dihasilkan dari upaya pengelolaan pesisir dan laut.

Direktur DIANTARA, Rens Lawarrissa, mengatakan banyak cerita penting dari lapangan yang belum dikelola menjadi informasi yang dapat menjangkau publik secara luas. “Kerja-kerja di lapangan sebenarnya memiliki banyak cerita penting. Sayangnya, cerita tersebut belum terkelola untuk dapat disampaikan lebih luas sebagai pembelajaran maupun alat advokasi,” kata Rens.

Menurut dia, peserta tidak hanya perlu menguasai teknik mengambil foto dan video, tetapi juga memahami bagaimana membangun cerita berdasarkan temuan dan pengalaman di lapangan.

Saat ini, sebagian besar OMS telah memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, mulai dari media sosial, website, video, hingga media massa. Namun, tantangan yang dihadapi bergeser pada kemampuan menghasilkan konten yang memiliki nilai cerita, menarik secara visual, serta memenuhi standar publikasi.

Dalam dokumentasi visual, sejumlah persoalan yang kerap ditemui antara lain objek utama yang tidak jelas, komposisi dan framing yang kurang tepat, minimnya variasi footage, hingga kurang mampu menangkap momen penting.

Tantangan serupa juga muncul dalam penulisan siaran pers. Informasi dan fakta yang melimpah dari lapangan perlu diolah menjadi narasi yang ringkas, relevan, dan menarik bagi publik.

Konsultan Starling Resources, Junita Manuputty, menjelaskan kemampuan mengolah pengalaman lapangan menjadi pesan komunikasi dapat membantu OMS memperbesar dampak kerja mereka.

“Kemampuan mendokumentasikan, mengolah, dan menyampaikan pengalaman dari lapangan secara sederhana dan menarik dapat membantu organisasi memperluas jangkauan pesan, memperkuat advokasi, serta membangun dukungan yang lebih luas terhadap isu-isu pesisir dan laut,” ujar Junita.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas komunikasi juga penting agar pengetahuan dan praktik baik yang telah dilakukan OMS tidak berhenti sebagai dokumentasi internal, tetapi dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat, mitra, dan publik.

Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat, Hasan Makassar, yang mengutus perwakilan BLUD dalam kegiatan tersebut, menilai kemampuan dokumentasi semakin penting dalam pengelolaan kawasan konservasi.

“Pendokumentasian informasi dan cerita merupakan bagian penting dari pengelolaan kawasan konservasi. Pengolahan informasi yang berbentuk foto, video, dan cerita merupakan salah satu rekaman untuk evaluasi, bahkan menjadi alat edukasi bagi masyarakat, mitra, dan publik luas,” kata Hasan.

Sementara itu, Koordinator Program Yayasan Bumi Papua Lestari (YBPL), Hofni Wabia, mengatakan kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai fungsi dokumentasi bagi organisasi.

“Dari sini kami belajar bahwa dokumentasi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan visi organisasi, memperluas jangkauan pesan, dan menunjukkan dampak dari kerja yang kami lakukan,” ujar Hofni.

Selama tiga hari pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga melakukan praktik langsung mengenai fotografi dan videografi.

Materi fotografi dan videografi mencakup komposisi, framing, pergerakan kamera, audio, visual storytelling, penyusunan sequence, hingga editing dasar menggunakan perangkat mobile.

Peserta juga mendapatkan pelatihan mengolah informasi dari lapangan menjadi siaran pers dengan mengutamakan fakta dan data untuk kebutuhan publikasi.

Penguatan kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu OMS Papua Barat Daya menyampaikan kerja-kerja konservasi secara lebih efektif. Dengan dokumentasi dan komunikasi yang lebih kuat, pengalaman masyarakat di lapangan dapat menjangkau publik yang lebih luas, menjadi bahan pembelajaran, sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya. (Rls)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....