Reses di Sorong, Wakil Ketua DPRP Freddy Dorong Penguatan Ekonomi Masyarakat

  • 20 Agt 2026 17:12 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Wakil Ketua I DPR Papua Barat Daya, Freddy Marlisa, menyerap aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses di Kota Sorong. Salah satu lokasi reses yakni di Kelurahan Klabulu Distrik Malaimsimsa pada Selasa, 18 Agustus 2026. Sejumlah aspirasi yang mencuat dalam reses tersebut seperti persoalan ekonomi, rendahnya daya beli dan kebutuhan, hingga penguatan usaha masyarakat.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat saat ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada terbatasnya pembangunan fisik. Menurutnya, pembangunan memiliki hubungan erat dengan perputaran ekonomi masyarakat. Ketika pembangunan berjalan, masyarakat memperoleh pekerjaan, pendapatan meningkat dan uang kembali berputar melalui aktivitas perdagangan.

“Kalau kegiatan-kegiatan pembangunan jalan semua, itu sangat berdampak sekali untuk ekonomi kecil masyarakat. Ada kerjaan berarti ada uang. Ada kerjaan, ada uang, otomatis pasti ada belanja. Belanjanya pasti di pedagang-pedagang, jadi ada perputaran,” ujar Freddy saat diwawancarai, Kamis, 20 Agustus 2026.

Waka DPRP PBD Freddy Marlisa saat membersamai kegiatan warga merayakan perlombaan HUT RI dalam rangka reses.

Karena itu, Freddy menilai penguatan ekonomi masyarakat tidak boleh hanya bergantung pada pembangunan fisik. Sektor usaha mikro juga harus mendapat perhatian agar masyarakat tetap memiliki sumber pendapatan di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. “Yang mikronya dibangun dulu, baru makro. Kalau mikro bagus, berarti yang makro juga akan jalan sama,” katanya.

Menurut Freddy, perhatian terhadap ekonomi masyarakat tersebut tidak hanya disampaikan melalui kegiatan reses maupun forum legislatif, tetapi telah dilakukan melalui sejumlah program pemberdayaan.

Salah satunya pelatihan bagi pelaku usaha pemula yang diarahkan untuk memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan produk. Pelatihan tersebut mencakup personal branding, penggunaan media visual dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.

Freddy mengatakan, pemanfaatan teknologi dapat membantu pelaku usaha menghemat waktu dan tenaga sekaligus memperluas pasar. Ia bahkan menceritakan pengalamannya saat masih berjualan pisang goreng dan pisang cokelat sejak sekolah sebagai gambaran bagaimana pola pemasaran kini telah berubah.

“Dulu saya jual pisang goreng, cokelat, dari kecil SD sampai SMA. Sekarang kita tidak perlu lagi jalan jual-jualan. Kita di tempat saja, kita foto, kita promosi lewat media sosial, orang pesan tinggal kirim,” ujarnya.

Selain pelatihan UMKM, Freddy juga menyebut telah mendorong pemberdayaan masyarakat di sejumlah sektor produktif lainnya. Di sektor pertanian, ia mendukung pengembangan petani hidroponik dengan penyediaan material, sementara masyarakat menyiapkan lahan dan tenaga. Program tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang dapat berjalan secara berkelanjutan.

Di sektor peternakan, Freddy turut mendorong peternak ayam melalui bantuan bibit dan pakan. Sementara bagi masyarakat pembudidaya ikan air tawar, dukungan diberikan melalui penyediaan benih dan pakan.

Pola yang diterapkan, kata Freddy, tidak sekadar memberikan bantuan secara langsung. Ia mendorong masyarakat agar terlibat dalam proses produksi sehingga terjadi perputaran ekonomi di antara kelompok penerima manfaat.

“Kita beli induk, kemudian mereka yang menetaskan. Lalu saya datang bayar lagi, beli bibit itu, bayar ke mereka. Nanti dibagikan ke kelompok-kelompok masyarakat. Jadi uang itu mengalir di situ,” jelasnya.

Freddy juga menyampaikan rencana pemberdayaan masyarakat nelayan melalui pelatihan pembuatan perahu berbahan fiberglass. Program tersebut direncanakan dilaksanakan di sejumlah titik dengan menghadirkan tenaga yang memiliki keterampilan untuk melatih masyarakat.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi alternatif di tengah keterbatasan pemerintah memberikan bantuan peralatan kepada nelayan. “Perahu ini kan belum berharap dapat bantuan pemerintah. Tapi pemerintah dengan kondisi sekarang kan terbatas. Nah, saya bikin pelatihan untuk buat fiberglass,” katanya.

Di Kota Sorong, Freddy juga menyinggung pemberdayaan masyarakat di kawasan Rufei. Ia menyebut telah memberikan pelatihan sekaligus mendorong bantuan peralatan bagi masyarakat yang menjalankan usaha.

Freddy menegaskan, berbagai upaya tersebut merupakan bagian dari strategi untuk membangun ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah. Ia berharap hasil reses di Kota Sorong dapat menjadi bahan bagi DPR Papua Barat Daya untuk memperkuat kebijakan dan program pemerintah yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Freddy menilai, ketika usaha kecil masyarakat mampu bertahan dan berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga pedagang, konsumen dan sektor ekonomi lainnya.

Karena itu, ia mendorong agar kebijakan pembangunan ke depan tetap memberikan ruang bagi UMKM dan kelompok masyarakat produktif, sehingga keterbatasan anggaran tidak menghentikan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....