DLH PBD Kembangkan Rumah Maggot KELI untuk Masa Depan Ekonomi dan Ekologi

  • 06 Agt 2026 19:39 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya terus mengembangkan Rumah Maggot KELI (Keberlanjutan Lingkungan) di Aimas, Kabupaten Sorong sebagai pusat pengelolaan sampah organik yang mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, saat meninjau Rumah Maggot KELI, Kamis, 6 Agustus 2026.

Julian mengatakan, perkembangan Rumah Maggot KELI saat ini sudah sangat baik bahkan dinilai menjadi salah satu rumah maggot terbaik di Tanah Papua. Menurutnya, fasilitas tersebut kini telah memasuki skala produksi, meski masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana agar mampu menghasilkan lebih banyak produk turunan.

“Progresnya sudah luar biasa. Mungkin salah satu yang terbaik di Tanah Papua. Rumah Maggot KELI ini sudah masuk skala produksi. Ke depan kami membutuhkan mesin untuk mengolah maggot menjadi tepung, minyak maggot hingga pakan ternak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengolahan sampah menggunakan maggot jauh lebih efisien dibanding metode komposter biasa. Jika metode komposter membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk menghasilkan pupuk organik, maggot mampu mengurai sampah hanya dalam waktu dua hingga tiga minggu.

Selain menghasilkan pupuk organik berkualitas, maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan, ayam, bebek, hingga berpotensi diolah menjadi minyak maggot yang memiliki nilai jual untuk industri kosmetik.

Menurut Julian, potensi tersebut menjadi dasar pengembangan ekonomi sirkular di Papua Barat Daya, di mana sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan justru diubah menjadi sumber ekonomi baru.

“Semua bersumber dari sampah. Sampah organik kita melimpah, baik dari pasar, hotel, restoran, rumah tangga maupun rumah sakit. Kalau dikelola dengan baik menggunakan maggot, hasilnya menjadi pupuk, pakan ternak, bahkan produk bernilai tinggi. Ini bisnis masa depan sekaligus bisnis lingkungan,” katanya.

Di sisi lain, pengembangan rumah maggot juga menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan. Julian menjelaskan, sampah organik yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) akan menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu penyebab kebakaran TPA serta mempercepat perubahan iklim.

Ia mengatakan, gas metana merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap meningkatnya suhu bumi dan memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga kekeringan.

Karena itu, ia mengajak seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Papua Barat Daya untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis maggot dengan melakukan studi tiru ke Rumah Maggot KELI.

“Kami berharap bupati dan wali kota memberikan arahan kepada dinas lingkungan hidup di daerah masing-masing agar datang belajar ke Rumah Maggot KELI. Konsep ini bisa diterapkan untuk menyelesaikan persoalan sampah dari hulu,” ujarnya.

Julian juga mengingatkan bahwa pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan agar sampah organik tidak lagi dibuang ke TPA, melainkan harus dikelola sejak dari sumbernya melalui pemilahan sampah di rumah tangga, pasar, hotel, restoran, rumah sakit maupun tempat usaha lainnya.

Menurutnya, Rumah Maggot KELI siap menjadi mitra bagi berbagai pihak yang ingin mengolah sampah organiknya melalui mekanisme kerja sama.

Saat ini, Rumah Maggot KELI memiliki kapasitas mengolah sekitar 50 hingga 100 ton sampah organik. Namun kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena masih terkendala armada pengangkut sampah dan peralatan produksi.

“Sekarang baru sebagian kecil yang masuk. Dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saja bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram sampah organik per hari. Kalau sumber-sumber lain ikut bergabung, kapasitas rumah maggot ini masih sangat besar untuk dimanfaatkan,” jelasnya.

Ke depan, DLH Papua Barat Daya juga akan mengintegrasikan program Rumah Maggot KELI dengan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan lingkungan hidup. Pupuk hasil pengolahan maggot akan dimanfaatkan untuk pertanian, sementara maggot segar maupun tepung maggot menjadi alternatif pakan ternak dan ikan yang lebih murah.

Sebagai bentuk dukungan, DLH Papua Barat Daya telah mengusulkan anggaran pada APBD Perubahan 2026 untuk pelatihan budidaya maggot, pengadaan boks maggot, serta mendatangkan tenaga ahli guna mengembangkan berbagai produk turunan seperti tepung maggot, minyak maggot, pupuk organik hingga produk kosmetik berbahan dasar maggot.

Julian berharap keberadaan Rumah Maggot KELI tidak hanya menjadi pusat pengolahan sampah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan inovasi lingkungan bagi masyarakat, pelajar, perguruan tinggi, hingga pemerintah daerah di Papua Barat Daya.

“Jabatan itu sementara, tetapi konsep yang kita bangun harus menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Harapan kami, Rumah Maggot KELI menjadi pusat edukasi sekaligus motor penggerak ekonomi dan ekologi di Papua Barat Daya,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....