Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat Cetak Generasi Pemimpin Adat

  • 20 Jul 2026 13:28 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Institut USBA bersama Terra Papua, Greenpeace, dan Konservasi Indonesia menggelar Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 di Mariati Hotel, Kota Sorong, pada 20–22 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti 40 perwakilan Perempuan dan Pemuda masyarakat adat dari berbagai wilayah adat di Kabupaten Raja Ampat sebagai bagian dari upaya menyiapkan regenerasi kepemimpinan adat.

Mewakili Bupati Raja Ampat, Staf Ahli Setda Kabupaten Raja Ampat, James M. Bisay, mengatakan sekolah kader merupakan langkah awal untuk melahirkan pemimpin-pemimpin adat yang mampu menjaga tanah, laut, dan budaya Raja Ampat di masa depan.

"Hari ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan besar, perjalanan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin adat masa depan yang akan menjaga tanah, laut, dan budaya Raja Ampat dengan penuh kecintaan dan kehormatan," ujarnya saat membuka kegiatan.

James menyampaikan apresiasi kepada Institut USBA dan Forum Gelar Senat Rakyat Raja Ampat yang telah menghadirkan ruang pembelajaran bagi generasi muda adat guna memperkuat kapasitas kepemimpinan.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan warisan leluhur yang telah menjaga kekayaan alam dan budaya Raja Ampat selama berabad-abad.

"Leluhur kita telah mewariskan tanah Raja Ampat yang begitu indah, laut yang begitu kaya, dan adat istiadat yang begitu luhur. Kini giliran kita untuk menjaganya, bukan sekadar mempertahankan apa yang ada, tetapi dengan berani belajar, berani tampil, dan berani memimpin," katanya.

Ia menjelaskan, selama mengikuti sekolah kader, peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat adat, perlindungan hak-hak masyarakat adat, pengelolaan wilayah adat, hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

James optimistis kegiatan tersebut akan melahirkan tokoh-tokoh adat yang mampu memperjuangkan hak masyarakat adat sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. "Kami berharap forum ini menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa masyarakat adat Raja Ampat mampu bangkit, bersatu, dan menyuarakan aspirasinya dengan bermartabat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat, Rudi Dimara, mengatakan sekolah kader dirancang sebagai bagian dari proses kaderisasi yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya kepemimpinan baru melalui pengalaman, dialog, dan partisipasi aktif generasi muda adat.

"Pengetahuan adat tidak boleh berhenti pada generasi hari ini. Sekolah Kader menjadi ruang belajar bersama agar nilai-nilai adat, sejarah, hukum adat, serta cara menjaga tanah dan laut tetap hidup melalui generasi muda. Dari ruang seperti inilah lahir dialog, inovasi, dan kepemimpinan baru yang akan memperkuat masyarakat adat," jelas Rudi.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Jambore atau Temu Raya Masyarakat Adat Raja Ampat yang akan diselenggarakan pada Agustus 2026. Menurutnya, keterlibatan peserta dalam jambore akan menjadi ruang praktik kepemimpinan sekaligus memperkuat konsolidasi masyarakat adat dan regenerasi kepemimpinan di Raja Ampat.

Melalui Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026, para peserta diharapkan tidak hanya menjadi lulusan pelatihan, tetapi juga mampu berperan sebagai penggerak organisasi masyarakat adat, fasilitator pembelajaran, pendamping komunitas, serta calon pemimpin yang memperkuat perlindungan wilayah adat dan pengelolaan sumber daya alam Raja Ampat mulai dari tingkat kampung, sub-suku, suku, hingga kabupaten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....