Papua Food Festival Ajang Pelestarian Kuliner dan Identitas Orang Asli Papua

  • 21 Jun 2026 19:40 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Yayasan Bengkel Belajar Antar Rakyat Papua (Belantara Papua) bersama sejumlah mitra pemerhati lingkungan, hutan, dan budaya lokal menggandeng generasi muda Suku Malamoi, menggelar Papua Food Festival di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Festival yang berlangsung selama sepekan sejak 16 hingga 20 Juni 2026 tersebut dipusatkan di kantor Belantara Papua dan ditutup secara resmi pada Sabtu 20 Juni 2026.

Kegiatan Papua Food Festival, ditutup oleh Sekretaris Kelompok Khusus (Poksus) Otonomi Khusus DPR Kota Sorong, Yonadap Trogea, SE, mewakili Wakil Ketua III DPR Kota Sorong Robert Malaseme.

Ketua Panitia Papua Food Festival, Salsabila Adriana, mengatakan festival ini bertujuan mengangkat kembali berbagai kuliner khas Papua yang mulai ditinggalkan dan terancam hilang dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.

“Banyak makanan asli Papua yang perlahan menghilang dari meja makan dan ingatan generasi muda. Melalui festival ini kami ingin memperkenalkan kembali makanan tradisional seperti papeda, kasbi, petatas, olahan buah merah, hingga ulat sagu yang memiliki nilai gizi tinggi,” ujarnya.

Menurut Salsabila, kegiatan tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak yang peduli terhadap pelestarian budaya dan lingkungan. Festival ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, DANAINDONESIANA, LPDP, BTN, The Purnomo Yusgiantoro Center, BNI, BCA, TelusuRI, dan PIOPP Fledge.

Sementara itu, Direktur Belantara Papua, Markus Wafo, menjelaskan bahwa Belantara Papua merupakan singkatan dari “Bengkel Belajar Antar Rakyat Papua”, sebuah ruang belajar bersama yang berfokus pada pelestarian budaya Orang Asli Papua.

“Di Belantara kami belajar mengukir, melukis, menganyam, membuat kerajinan tangan, hingga seni musik tradisional. Tujuan utamanya adalah menjaga agar budaya hidup Orang Asli Papua tetap lestari dan tidak punah ditelan zaman,” kata Markus.

Ia menyebutkan, lembaga yang berdiri sejak tahun 2005 itu telah melahirkan banyak pelaku seni dan budaya yang kini mengelola berbagai sanggar budaya di wilayah Sorong.

Salah satu teknik memasak Khas Orang Asli Papua

Selama festival berlangsung, pengunjung disuguhkan berbagai demonstrasi pengolahan makanan tradisional Papua, mulai dari memasak papeda dengan kuah ikan kuning, teknik memasak menggunakan bambu, meracik minuman dari buah merah, hingga tradisi bakar batu yang sarat nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada alam.

Markus berharap tradisi kuliner Papua dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, makanan tradisional tidak hanya memiliki nilai rasa, tetapi juga mengandung filosofi hidup yang menghormati alam dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Untuk memperkuat upaya pelestarian tersebut, Belantara Papua mendorong Pemerintah Kota Sorong dan DPR Kota Sorong untuk menyusun peraturan daerah (Perda) yang secara khusus melindungi budaya asli Papua, termasuk kekayaan kulinernya.

Sementara itu, Sekretaris Kelompok Khusus Otsus DPR Kota Sorong, Yonadap Trogea, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Papua Food Festival yang dinilainya berkontribusi besar dalam menjaga identitas budaya Orang Asli Papua.

“Kami delapan anggota DPR Kota Sorong dari jalur pengangkatan Otonomi Khusus mengapresiasi kegiatan luar biasa ini. Program yang menyentuh langsung kepentingan dan jati diri Orang Asli Papua tentu akan kami dukung,” tegas Yonadap.

Ia menambahkan, Fraksi Kelompok Khusus Otsus DPR Kota Sorong membuka ruang kolaborasi dengan seluruh organisasi dan kelompok masyarakat yang bergerak untuk kepentingan Orang Asli Papua.

Menurut Yonadap, saat ini DPR Kota Sorong melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat.

Terkait usulan perlindungan budaya dan kuliner tradisional Papua, pihaknya berkomitmen untuk menindaklanjutinya dan menyampaikannya kepada Wali Kota Sorong. Namun, ia meminta Belantara Papua menyiapkan naskah akademik sebagai dasar penyusunan regulasi.

“Bantu kami dengan naskah akademik yang lengkap dan terperinci agar dapat menjadi acuan dalam menyusun peraturan daerah yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Spot foto, Papua Food Festival

Papua Food Festival diharapkan menjadi momentum penting dalam membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kuliner tradisional Papua sekaligus memperkuat upaya perlindungan budaya lokal melalui dukungan kebijakan pemerintah daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....