Kasus Campak di Kota Sorong Meningkat, Mari Waspada
- 18 Mar 2026 10:25 WIB
- Sorong
Poin Utama
- Waspada Penularan Wabah Campak
RRI.CO.ID, Sorong – Kasus campak di Kota Sorong menunjukkan tren peningkatan pada awal tahun 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari fasilitas kesehatan, lonjakan terutama terjadi pada bulan Februari.
Kabid Pencegah dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jenny Isir mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 jumlah kasus campak mencapai total 59 kasus.l, sementara di awal tahun 2026, jumlah kasus mengalami perubahan. Pada Januari tercatat 8 kasus, kemudian meningkat signifikan di Februari menjadi 15 kasus, dan hingga Maret tercatat 2 kasus.
“Di tahun 2025 sendiri, bulan Januari ada 5 kasus, Februari 5 kasus, dan Maret 6 kasus,
Kalau melihat data yang ada, ini memang terjadi peningkatan di bulan Februari,” ujar Jenny Isir saat dialog Sorong Bisa Pro 1 RRI Sorong 17 Maret 2026.
Data tersebut diperoleh melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dilaporkan rutin oleh petugas surveilans dari 10 puskesmas, rumah sakit, dan klinik di Kota Sorong.
Terkait status imunisasi, Jenny menjelaskan bahwa anak yang telah mendapatkan imunisasi umumnya mengalami gejala yang lebih ringan.
“Anak-anak yang sudah mendapatkan imunisasi, ketika terkena campak, gejalanya tidak begitu berat. Berbeda dengan yang belum imunisasi atau tidak lengkap, biasanya gejalanya lebih berat dan perlu dirawat di rumah sakit,” jelasnya.
Namun, pencatatan status imunisasi masih menjadi kendala di lapangan. Banyak orang tua tidak membawa catatan imunisasi saat berkunjung ke fasilitas kesehatan.
“Kadang orang tua datang tanpa membawa catatan, sehingga petugas kesulitan memastikan apakah anak sudah imunisasi lengkap atau belum,” tambahnya.
Dari sisi cakupan imunisasi campak (MR), Kota Sorong masih belum sepenuhnya mencapai target nasional sebesar 85 persen. Pada tahun 2023 cakupan mencapai 65,96 persen, tahun 2024 sebesar 64,49 persen, dan meningkat di tahun 2025 menjadi 81,8 persen.
“Artinya masih kurang sekitar 4 persen untuk mencapai target yang ditetapkan,” kata Jenny
Ia juga mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi, di antaranya kekhawatiran orang tua terhadap efek samping seperti demam, serta faktor budaya dan kepercayaan.
“Ada yang merasa imunisasi tidak penting, cukup dengan kekebalan alami atau makanan bergizi,” ujarnya.
Dirinya pun mengingatkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi dapat berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit menular seperti campak. Dengan mobilitas penduduk yang semakin tinggi, risiko penyebaran penyakit juga ikut meningkat.
“Ini perlu kewaspadaan dini. Karena di beberapa daerah di Indonesia juga sudah terjadi peningkatan kasus campak,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....