Sejarah Kue Kering: Dari Tradisi Kuno hingga Sajian Lebaran

  • 17 Mar 2026 19:24 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kue kering telah menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi kuliner di dunia, termasuk di Indonesia. Kehadirannya yang identik dengan perayaan, terutama saat Lebaran, membuat kue kering tidak sekadar makanan ringan, tetapi juga simbol kebersamaan dan keramahan. Namun, perjalanan kue kering hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang ternyata cukup panjang dan menarik.

Sejarah kue kering bermula dari peradaban kuno, ketika manusia mulai mengenal teknik memanggang. Pada masa itu, masyarakat di wilayah Timur Tengah dan Eropa sudah membuat adonan sederhana dari tepung dan air yang kemudian dipanggang hingga kering. Tujuan utama membuat kue kering saat itu bukan untuk camilan, melainkan sebagai makanan yang tahan lama dan mudah disimpan, terutama untuk perjalanan jauh.

Perkembangan kue kering semakin pesat di Eropa pada abad pertengahan. Saat gula mulai dikenal luas sebagai bahan pemanis, para pembuat roti mulai bereksperimen menciptakan berbagai jenis kue dengan rasa yang lebih manis dan tekstur yang lebih renyah. Negara-negara seperti Belanda, Jerman, dan Prancis dikenal memiliki beragam jenis kue kering tradisional yang kemudian menjadi cikal bakal banyak resep modern.

Masuknya kue kering ke Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kolonialisme, terutama pada masa penjajahan Belanda. Orang Belanda membawa tradisi membuat kue ke Nusantara, termasuk berbagai resep kue kering seperti kastengel dan lidah kucing. Seiring waktu, masyarakat lokal mulai mengadaptasi resep-resep tersebut dengan bahan yang tersedia di Indonesia, serta menyesuaikannya dengan selera lokal yang cenderung lebih manis.

Sejak saat itu, kue kering mulai menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, khususnya dalam perayaan hari besar seperti Idulfitri. Tradisi menyajikan kue kering di ruang tamu menjadi simbol keterbukaan dan sambutan hangat bagi tamu yang datang bersilaturahmi. Kue seperti nastar, kastengel, putri salju, dan berbagai varian lainnya menjadi sajian wajib yang hampir selalu hadir setiap Lebaran.

Seiring perkembangan zaman, kue kering terus mengalami inovasi. Tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga bentuk, bahan, dan cara penyajian. Kini, muncul berbagai kue kering kekinian dengan tambahan bahan seperti cokelat premium, matcha, hingga topping unik yang menarik perhatian, terutama di kalangan anak muda. Selain itu, kemasan kue kering juga semakin estetik, menjadikannya populer sebagai hampers atau hadiah Lebaran.

Meski telah mengalami banyak perubahan, esensi kue kering tetap sama, yaitu sebagai simbol kebersamaan dan kebahagiaan. Dari makanan sederhana yang dibuat untuk kebutuhan praktis, kue kering kini telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Dengan sejarah yang panjang dan terus berkembang, kue kering tidak hanya menghadirkan rasa manis di lidah, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan budaya, adaptasi, dan kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (grace)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....