Memahami Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi Individu Homoseksual

  • 13 Jul 2026 07:05 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan setiap orang, tanpa memandang latar belakang maupun orientasi seksual. Namun, hingga kini masih banyak anggapan yang keliru bahwa homoseksualitas identik dengan gangguan mental. Faktanya, homoseksualitas bukanlah penyakit ataupun gangguan kejiwaan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ menjelaskan kehidupan yang dialami dapat mempengaruhi Kesehatan mental seseorang.

Sering terlihat ceria diluar, berprestasi, terlihat baik-baik saja sedangkan yang tidak terlihat adalah pergulatan batin, takut ditolak, rasa bersalah, kebingungan identitas dan kesepan mendalam.

“Masalah Kesehatan mental yang sering dialami yakni depresi, perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat dan putus asa. Gangguan cemas, rasa khawatir berlebihan, panik dan taku berlebihan. Stress kronis, tekanan yang terus menerus akibat situasi sosial dan batin. Krisis identitas, kebingungan tentang diri sendiri, nilai dan tujuan hidup. Kesepian dan isolasi sosial, merasa berbeda dan sulit mendapat penerimaan. Rendahnya harga diri, merasa tidak berharga, tidak layak dicintai, malu pada diri sendiri. Penyalahgunaan Zat, sebagai pelarian dari stres, kesedihan atau tekanan. Resiko bunuh diri, resiko meningkat bila ada penolakan , diskriminasi dan keputusasaan.” Ujarnya

Ia menjelaskan faktor resiko utamanya yaitu stigma, diskriminasi, bullying, kekerasan dan kurangnya dukungan sosial. Sedangkan factor pelindung ialah penerimaan, dukungan keluarga, teman, komunitas dan bantuan professional.

Kesehatan mental yang baik bukan hanya tentang mengatasi masalah, tetapi juga tentang memiliki rasa aman untuk menjadi diri sendiri.

Dr Lahargo berpesan bahwa Dukungan keluarga adalah factor pelindung terbesar bagi Kesehatan mental. Hindari menghakimi dan menghina, kekerasan verbal atau fisik, mengusir dan menolak, mempermalukan didepan orang lain, mengabaikan dan tidak mau mendengar.

Lakukanlah hal-hal yang dapat menyembuhkan seperti dengarkan dengan hati, bangun komunikasi yang terbuka, berikan kasih dan penerimaan, damping dalam prosesnya dan cari bantuan professional.

Psikiater atau psikolog dapat membantu mengatasi masalah Kesehatan mental yang muncul.

Rumah adalah tempat tebaik untuk pulang. Jadilah rumah yang aman, bukan tempat yang membuat luka. Ketika keluarga memilih kasih daripada penolakan, Kesehatan mental tumbuh lebih kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....