Keluarga Jadi Kunci Pencegahan Remaja Terpapar Zat Adiktif
- 03 Apr 2026 19:28 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, SORONG – Fenomena penggunaan zat adiktif di kalangan remaja masih menjadi perhatian serius. Hal ini dibahas dalam dialog Morning Vibes Pro 2 RRI Sorong yang berlangsung melalui sambungan telepon pada Kamis, 3 April 2026, bersama narasumber psikolog, Aswendo Dwitantiyanov.
Dalam dialog tersebut, Aswendo menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam pencarian jati diri. Pada tahap ini, remaja cenderung meniru atau melakukan modeling terhadap lingkungan terdekatnya. “Ketika remaja berada dalam proses pencarian identitas, mereka akan mencontoh lingkungan yang paling dekat. Jika lingkungan tersebut menerima mereka, maka mereka akan mengikuti pola yang ada di situ,” jelas Aswendo.
Ia menambahkan bahwa tidak semua remaja berhasil melewati fase ini dengan baik. Remaja yang tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan, terutama keluarga, cenderung mencari kelompok lain yang dapat menerima mereka, meskipun kelompok tersebut berpotensi membawa pengaruh negatif.
Menurut Aswendo, terdapat dua faktor utama yang mendorong remaja mencoba zat adiktif. Pertama, keinginan untuk diterima dalam kelompok pergaulan. Kedua, kurangnya dukungan emosional dari keluarga. “Alasan terbesar remaja menggunakan zat adiktif adalah konformitas kelompok dan lingkungan keluarga yang kurang suportif,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja pertama kali merokok bukan karena keinginan pribadi, melainkan karena pengaruh eksternal seperti teman sebaya. “Motivasi mereka lebih banyak berasal dari luar, misalnya karena teman merokok atau ingin terlihat dewasa,” tambahnya. Selain faktor sosial, tekanan psikologis juga menjadi pemicu. Remaja yang mengalami stres atau penolakan cenderung lebih rentan mencoba zat adiktif sebagai bentuk pelarian.
Dalam dialog tersebut juga dijelaskan bahwa zat adiktif tidak hanya terbatas pada rokok atau alkohol, tetapi juga bisa berasal dari kebiasaan lain seperti konsumsi kopi berlebihan yang berpotensi menimbulkan ketergantungan. Untuk mencegah hal tersebut, Aswendo menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan utama bagi remaja.
Ia menyarankan agar orang tua menciptakan komunikasi yang hangat dan terbuka di dalam keluarga. “Keluarga harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk bercerita. Harus ada komunikasi, quality time, dan kehangatan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan kepada remaja harus berbeda dengan anak-anak. Remaja perlu diajak berdiskusi, bukan sekadar diberi perintah. Selain itu, dalam proses pemulihan dari adiksi, dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Proses berhenti tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus bertahap dan penuh dukungan.
Terkait pengaruh pergaulan, ia menyarankan remaja untuk berani membatasi interaksi dengan lingkungan yang negatif. “Kalau lingkungannya tidak sehat, harus berani menjaga jarak agar tidak terpengaruh,” ujarnya.
Di akhir dialog, Aswendo memberikan pesan kepada para remaja untuk tetap percaya diri dan tidak terpengaruh oleh tekanan sosial. “Be yourself. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan pengakuan,” pesannya.
Dialog yang berlangsung melalui sambungan telepon ini pun memberikan banyak wawasan bagi pendengar, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam memilih lingkungan pergaulan serta mampu menjaga diri dari pengaruh zat adiktif. Melalui edukasi dan dukungan keluarga serta lingkungan yang positif, diharapkan remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat secara mental, dan terhindar dari jerat zat adiktif. (grace)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....