Kesenjangan Digital: Mengapa Harga Kuota Internet di Jawa dan Papua Berbeda
- 24 Jul 2026 16:49 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong — Keluhan mengenai perbedaan harga paket data internet antara Pulau Jawa dan kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua, masih sering menjadi sorotan masyarakat. Untuk besaran kuota yang sama, pengguna di Papua kerap harus membayar hingga dua kali lipat lebih mahal dibanding pengguna di Jawa.
Lantas, apa sebetulnya yang menyebabkan disparitas harga kuota internet ini terjadi?
1. Tantangan Geografis dan Pembangunan Infrastruktur
Faktor utama yang mendasari tingginya tarif internet di Papua adalah kondisi geografis yang ekstrem. Wilayah Papua didominasi oleh pegunungan terjal, hutan lebat, hingga kepulauan terpencil yang membuat proses penarikan kabel serat optik (fiber optic) maupun pembangunan Menara Base Transceiver Station (BTS) membutuhkan biaya investasi yang sangat besar.
Berbeda dengan Pulau Jawa yang didominasi daratan datar dan akses jalan yang mudah, pengangkutan material jaringan di Papua sering kali harus menggunakan transportasi udara atau helikopter, yang melipatgandakan biaya konstruksi dan instalasi.
2. Tingginya Biaya Operasional dan Pemeliharaan (OpEx)
Tidak hanya biaya pembangunan awal (CapEx), pemeliharaan jaringan internet di kawasan timur Indonesia juga menguras dana yang tidak sedikit:
Penggunaan Genset: Banyak BTS di daerah pedalaman Papua belum terjangkau aliran listrik PLN secara stabil, sehingga operator harus mengandalkan genset dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang diangkut dengan biaya tinggi.
Biaya Sewa Satelit: Di wilayah yang sangat sulit dijangkau kabel serat optik, operator terpaksa menggunakan transmisi satelit (VSAT) yang harga sewa kapabilitas datanya jauh lebih mahal per megabitnya dibanding jalur darat.
| Baca juga: Era AI Makin Canggih Privasi Harus Dijaga |
3. Skema Zonasi Tarif Operator Telekomunikasi
Operator seluler di Indonesia menerapkan skema zonasi tarif untuk menyeimbangkan beban biaya operasional di setiap daerah.
Zona Wilayah Jawa: Memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan infrastruktur yang sudah matang. Jumlah pengguna yang banyak membuat operator mencapai economy of scale (skala ekonomi), sehingga harga per gigabyte (GB) bisa ditekan seserah mungkin.
Zona Wilayah Papua: Kepadatan penduduk relatif lebih rendah dan tersebar. Jumlah pengguna yang lebih sedikit harus menanggung beban biaya infrastruktur yang tinggi, sehingga tarif per zona disesuaikan lebih tinggi agar operasional layanan tetap sustain.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama BAKTI terus menggenjot proyek strategis seperti Palapa Ring dan pengoperasian satelit SATRIA untuk menekan biaya transmisi data di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Diharapkan dengan makin meratanya tulang punggung (backbone) serat optik nasional di tanah Papua, ketergantungan pada satelit dapat berkurang, sehingga tarif internet secara bertahap dapat berangsur setara dengan yang ada di Pulau Jawa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....