Pastor Isnadi Ajak Umat Tinggalkan Kecemasan
- 17 Feb 2026 22:19 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Paroki Maria Ratu Semesta Alam melaksanakan misa syukur Imlek ke 2577 Konzili pada Selasa, 17 Februari 2026. Misa syukur dipimpin oleh delapan orang pastor dengan selebran utama Pastor Ewaldus, Pr didampingi oleh Pastor Antonius Isnadi Wibowo, Pr, Pastor Patrisius Piki, Pr, Pastor Imanuel Yosef Faot, Pr, Pastor Florianus Abong, Pr, Pastor Matius Anet, Pr, Pastor Fransiskus Sailtus Bembid, SMM, dan Pastor Yakobus Rua Bai, SMM.
Pastor Isnadi dalam homilinya menyampaikan bahwa memasuki tahun baru sering kali diiringi kekhawatiran, sebagaimana dialami para murid Yesus dalam bacaan Injil ketika mereka lupa membawa bekal roti saat mengikuti Yesus. Kekhawatiran akan kekurangan membuat para murid bingung, meski sebenarnya mereka telah menyaksikan banyak mukjizat.
“Kita merayakan tahun baru dengan sukacita, tetapi tidak jarang hati kita justru dipenuhi kecemasan. Apakah tahun ini akan lebih baik atau justru lebih buruk dari tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Pastor Isnadi menegaskan bahwa perayaan Imlek kerap dikaitkan dengan rezeki, kesehatan, dan keberuntungan. Namun, Injil mengingatkan agar umat bertanya pada diri sendiri apakah hati dipenuhi iman dan harapan, atau justru kecemasan.
Ia mengingatkan pesan Yesus tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Ragi orang Farisi dimaknai sebagai kemunafikan, iman yang hanya di bibir namun tidak di hati. Sementara ragi Herodes melambangkan ambisi duniawi, haus akan harta, kekuasaan, dan posisi.
“Merayakan Imlek sebagai orang beriman Kristiani berarti memulainya bersama Tuhan, dengan merayakan Ekaristi. Dengan demikian, kecemasan akan masa depan dapat kita hadapi karena kita berjalan bersama Allah,” ujarnya.
Menurutnya, berkat terbesar dalam perayaan Imlek bukanlah angpau atau hidangan, melainkan iman yang ditanamkan Tuhan dalam diri umat. Dengan iman itu, umat diajak untuk tidak takut dan tidak cemas menghadapi masa depan.
Pastor Isnadi juga mengajak umat untuk mengingat dan mensyukuri karya Tuhan, seperti mukjizat lima roti untuk lima ribu orang dan tujuh roti untuk empat ribu orang yang tetap menyisakan kelimpahan. Ia menilai manusia sering lupa bersyukur atas kelimpahan yang sudah diterima dan justru mencemaskan kekurangan yang belum tentu terjadi.
“Jangan hanya mengingat satu roti yang tidak ada, tetapi lupakan lima dan tujuh roti yang sudah Tuhan lipatgandakan,” pesannya.
Ia mengajak umat untuk optimis dan memiliki harapan dengan berjalan bersama Tuhan sepanjang tahun. Perayaan Imlek, menurutnya, juga menjadi momentum untuk bersyukur kepada Tuhan, menghormati orang tua dan leluhur, mempererat persaudaraan, serta membangun harapan akan masa depan yang lebih baik.
Menutup homilinya, Pastor Isnadi menegaskan bahwa iman kepada Kristus adalah sumber pengharapan sejati yang tidak bergantung pada nasib atau perhitungan shio. “Apa pun shio kita, jika berjalan bersama Tuhan, semuanya dapat kita lalui dengan baik,” katanya.
Ia mengakhiri renungan dengan pantun rohani dan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh umat, seraya mendoakan agar Tuhan senantiasa memberkati dan menganugerahkan sukacita serta kehidupan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....