Kamis Putih di Sintang, RD Isnadi Tekankan Makna Pelayanan dan Pengorbanan Yesus
- 03 Apr 2026 20:42 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Umat Katolik sedunia memulai perayaan Pekan Suci dalam rangkaian Paskah sejak Kamis lalu. Tidak terkecuali umat Katolik di Kabupaten Sintang. Pada Kamis, 2 April 2026, umat Katolik merayakan Kamis Putih dan memadati Gereja Maria Ratu Semesta Alam Sungai Durian.
Dipimpin RD Isnadi, ribuan umat tampak khusyuk mengikuti jalannya misa. Dalam sambutan pembukanya, ia menyampaikan bahwa perayaan Kamis Putih merupakan peringatan Yesus mendirikan Ekaristi pertama kali. Meski dalam Pekan Suci terdapat banyak peristiwa menyedihkan, di mana Yesus akhirnya disalibkan, wafat, dan dimakamkan, RD Isnadi mengatakan perjamuan Yesus bersama murid-murid-Nya bukanlah perjamuan keputusasaan ataupun kesedihan, melainkan perjamuan yang penuh cinta kasih, persaudaraan, dan makna.
"Perjamuan ini merupakan simbol penyerahan hidup-Nya yang total, yaitu tubuh dan darah-Nya diberikan demi keselamatan kita, murid-murid-Nya. Itulah Ekaristi Kudus, kenangan kurban salib Kristus. Pemberian diri Yesus yang sehabis-habisnya itu dilambangkan pula dalam upacara pembasuhan kaki para rasul," ungkap RD Isnadi.

Saat menyampaikan Homili, RD Isnadi menjelaskan, dalam perayaan Kamis Putih, terdapat prosesi pembasuhan kaki para rasul. RD Isnadi menyampaikan bahwa dalam peristiwa tersebut Yesus mencontohkan sebuah pelayanan tanpa batas yang meruntuhkan sekat-sekat sosial.
"Apa maksudnya Yesus membasuh kaki para rasul? Bukan hanya sebagai tanda pelayanan. Membasuh kaki merupakan bentuk pelayanan. Pada zaman dahulu, orang-orang Yahudi setiap kali mengadakan pesta, di depan pintu disediakan tempat pembasuhan kaki bagi para tamu terhormat sebelum masuk ke ruang perjamuan, dan semua wajib membasuh kaki. Siapa yang membasuh kaki para tamu? Pelayan. Pelayan membasuh kaki para tamu. Dan Yesus menempatkan diri-Nya sebagai seorang pelayan, mau membasuh kaki murid-murid-Nya. Jadi, selain tanda pelayanan, tindakan Yesus membasuh kaki para murid juga meruntuhkan sekat-sekat status sosial," jelasnya.
RD Isnadi juga menjelaskan bahwa di akhir perayaan Ekaristi Kamis Putih tidak ada berkat penutup, karena perayaan tersebut belum selesai dan akan dilanjutkan pada Jumat Agung. Oleh karena itu, pada Jumat Agung perayaan tidak diawali dengan tanda salib, karena merupakan kelanjutan dari Kamis Putih dan akan diteruskan hingga Malam Paskah.
"Jadi, tiga hari suci itu adalah satu rangkaian peristiwa Yesus yang menyelamatkan kita. Padat makna peristiwa. Dan yang terpenting adalah Yesus mendirikan Ekaristi, sakramen Ekaristi, dan sakramen imamat. Karena tidak akan ada Ekaristi tanpa imam. Dan imam utamanya adalah Yesus. Para rasul meneruskan sebagai jabatan imam, dan sampai saat ini para imam yang mempersembahkan Ekaristi," ungkapnya.

RD Isnadi menutup homilinya dengan pesan, "Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu supaya kamu juga melakukan seperti yang telah Aku lakukan. Aku sudah membasuh kakimu, hendaklah kamu membasuh kaki satu sama lain. Ini bukan anjuran, tetapi perintah. Dan karena ini perintah, wajib hukumnya dilaksanakan. Artinya, membasuh kaki satu dengan yang lain, melayani satu dengan yang lain, merendahkan diri di hadapan sesama, bukan meninggikan diri kita," ucapnya.
"Maka mari, saudara-saudaraku yang terkasih, meneladani Yesus yang mau mempersembahkan diri-Nya, mengorbankan hidup-Nya untuk kita. Begitu Tuhan mencintai kita, Tuhan mau mengorbankan segala jalan-Nya demi keselamatan kita. Maka jangan sia-siakan pengorbanan Tuhan dalam Ekaristi yang setiap hari Minggu kita rayakan ini. Semoga melalui perayaan Ekaristi Kamis Putih hari ini, kita semakin paham dan mengerti mengapa kita merayakan Ekaristi setiap hari Minggu atau bahkan setiap hari," tutupnya. (dby)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....