Pedagang Bendera Asal Bandung Kembali Berburu Rezeki di Kutai Barat

  • 31 Jul 2026 08:06 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Pedagang bendera musiman asal Bandung, Jawa Barat, Putra, kembali mengadu peruntungan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun ini menjadi kali keempat dirinya datang ke daerah tersebut untuk menjual berbagai atribut kemerdekaan.

Sejak 20 Juli 2026, Putra mulai membuka lapak dengan membawa beragam perlengkapan, mulai dari bendera Merah Putih berbagai ukuran, umbul-umbul, background dekorasi hingga aksesori peringatan Hari Kemerdekaan, di pinggir Jl. Awang Long Busur, wilayah Kecamatan Barong Tongkok.

Ia berencana berjualan hingga 17 Agustus, sebelum kembali ke daerah asalnya.

"Kalau sudah selesai tanggal 17 Agustus, kami pulang lagi. Memang jualan seperti ini sifatnya musiman," kata Putra, Kamis 30 Juli 2026.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Putra membawa sekitar delapan karung barang dagangan dari Pulau Jawa. Produk yang dijual memiliki harga bervariasi, mulai Rp20 ribu untuk bendera kecil hingga Rp300 ribu untuk background dekorasi berukuran besar.

Selain melayani pembelian eceran, Putra juga menerima pesanan dalam jumlah besar. Menurutnya, pembelian borongan umumnya dilakukan perusahaan perkebunan, pertambangan maupun instansi yang membutuhkan banyak atribut kemerdekaan untuk dipasang di lingkungan kerja.

"Kalau beli banyak harganya bisa kurang. Biasanya perusahaan sawit atau batubara yang beli untuk pemasangan," ujarnya.

Meski hingga akhir Juli penjualan belum terlalu ramai, Putra tetap optimistis, permintaan akan meningkat memasuki awal Agustus nanti.

Berdasarkan pengalamannya selama empat kali berjualan di Kubar, periode tersebut menjadi awal meningkatnya minat masyarakat membeli atribut kemerdekaan.

Ia berharap penjualan tahun ini dapat memberikan hasil yang lebih baik meski biaya operasional terus meningkat. Kenaikan ongkos perjalanan dari Pulau Jawa ke Kalimantan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pedagang musiman setiap tahunnya.

"Yang paling terasa sekarang ongkos perjalanan. Tiket dan biaya transportasi makin mahal dibanding dulu," ucap Putra.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....