IKN Perlu Populasi Besar untuk Uji Konsep Kota Berkelanjutan

  • 30 Agt 2026 18:40 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Nusantara – Pemenang sayembara desain Ibu Kota Nusantara (IKN), Sibarani Sofian, menilai berbagai konsep kota berkelanjutan yang diterapkan di IKN perlu diuji melalui aktivitas masyarakat dalam jumlah lebih besar.

Menurut Sibarani, sejak awal perencanaan, IKN dirancang dengan mengusung konsep smart dan sustainable, yang menempatkan aspek lingkungan, teknologi, serta kualitas kehidupan masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan kota.

Sejumlah indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI) juga telah ditetapkan, antara lain konsep 10-Minute City, penggunaan 100 persen energi terbarukan, serta target kawasan hijau sebesar 70 persen.

“Memang dari perencanaan awalnya konsepnya smart, sustainable. Jadi prinsip-prinsip bagaimana kita ramah lingkungan, bahkan bekerja dengan alam, kemudian juga membuat kota yang smart, sustainable,” kata Sibarani di IKN, Sabtu 29 Agustus 2026.

Ia menyebut pelaksanaan berbagai konsep tersebut di lapangan telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menurutnya, pembangunan fisik dan penerapan prinsip perencanaan yang telah disusun sejak awal terus berjalan.

“Semua KPI itu sudah berjalan dengan baik. Eksekusi di lapangan juga sudah progresnya sangat jauh,” ujarnya.

Meski demikian, Sibarani menilai keberhasilan konsep tersebut belum dapat diukur secara menyeluruh karena jumlah penduduk yang tinggal dan beraktivitas di IKN masih relatif sedikit.

Menurutnya, sebuah kota baru dapat benar-benar diuji ketika masyarakat dalam jumlah besar mulai menggunakannya untuk bekerja, tinggal, bepergian, dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

“Tapi memang, masukan yang mungkin bisa kita berikan adalah kita menunggu populasinya untuk hidup, untuk datang. Jadi, banyak hal belum bisa kita lihat berhasil atau tidaknya kalau belum dicoba,” katanya.

Sibarani berharap keputusan Presiden pada 2028 yang menjadikan IKN sebagai pusat ibu kota politis Indonesia dapat mendorong peningkatan populasi di kawasan tersebut.

Menurutnya, bertambahnya jumlah penduduk akan memberikan gambaran lebih nyata mengenai kemampuan IKN dalam menjalankan fungsi sebagai sebuah kota.

“Kalau itu terjadi, tentunya akan mulai ada warga yang masuk. Tentunya respons masyarakat akan muncul, misalnya, ‘Oh, kotanya sepi.’ Ya memang karena orangnya belum datang,” ujarnya.

Ia mengatakan, ketika lebih banyak masyarakat mulai tinggal di IKN, berbagai aspek yang selama ini dirancang secara konseptual dapat dievaluasi berdasarkan pengalaman langsung warga.

“Kita akan bisa melihat bagaimana kota ini akan berfungsi dengan baik atau tidaknya pada saat digunakan oleh lebih banyak orang,” kata Sibarani.

Sibarani menyebut jumlah penduduk IKN saat ini masih belum cukup untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai fungsi kota. “Sekarang baru ada, menurut Pak Kepala tadi, sekitar 2.300 warga di IKN. Masih terlalu sedikit. Kita perlu yang jauh lebih besar,” ucapnya.

Ia menilai pertumbuhan populasi menjadi salah satu faktor penting dalam menguji keberhasilan konsep pembangunan IKN, termasuk konsep kota yang ramah lingkungan, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di IKN, pemerintah dan para perencana dapat melihat secara langsung apakah berbagai fasilitas, sistem transportasi, tata ruang, hingga konsep smart city telah mampu memenuhi kebutuhan warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....