IDI Kaltim Dorong Penguatan Etika dan Kompetensi Dokter
- 30 Agt 2026 09:20 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Nusantara – Penguatan etika dan kompetensi dokter menjadi agenda penting bagi kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Timur masa bakti 2025-2028. Di tengah upaya pemerintah mempercepat penambahan jumlah tenaga medis, kualitas moral dan keahlian dokter menjadi langkah krusial dalam menjaga Standar Profesi dan Mutu Pelayanan Kesehatan demi keselamatan pasien.
Hal itu ditegaskan Ketua IDI Wilayah Kalimantan Timur dr. Mansyah HM, usai resmi dilantik di Ibu Kota Nusantara, Sabtu 29 Agustus 2026.
“Karen itu rangkaian agenda hari ini mencakup empat pilar kegiatan penting. Salah satunya yaitu penguatan kompetensi dan moralitas melalui webinar ilmiah dan etik,” katanya.
Mansyah mengatakan tantangan profesi kedokteran semakin berkembang, terutama dengan dinamika regulasi dan perubahan kebijakan di bidang kesehatan.
Karena itu, IDI Kaltim akan mendorong harmonisasi kebijakan dari tingkat pusat, wilayah, hingga cabang. Menurutnya, langkah tersebut penting agar perlindungan profesi, peningkatan kompetensi, dan penegakan etika medis dapat berjalan selaras.
“Tantangan internal yang juga tidak kalah pentingnya adalah kita dihadapkan pada dinamisnya regulasi serta perkembangan profesi kedokteran,” ujar Mansyah.
Mansyah menegaskan IDI Kaltim membutuhkan keterlibatan seluruh pengurus dan anggota untuk menghadapi tantangan tersebut. Ia mengajak seluruh kepengurusan IDI di Kalimantan Timur memperkuat sinergi dan menjadikan semangat “Kaltim Solid” sebagai pijakan organisasi.
Menurutnya, IDI Kaltim juga akan menjalankan peran sebagai rumah yang mengayomi seluruh anggota sekaligus menjaga integritas profesi kedokteran.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar IDI Dr. dr. Slamet Budiarto menekankan pentingnya memperkuat IDI sebagai rumah besar bagi seluruh dokter di Indonesia.
Slamet mengatakan berbagai perhimpunan dokter perlu tetap berada dalam koordinasi IDI. Menurutnya, perhimpunan dapat fokus pada pengembangan keilmuan, sedangkan fungsi organisasi seperti kebijakan, politik profesi, dan administrasi berada dalam koordinasi IDI.
“Nomor satu rumah besar kita adalah IDI,” ujar Slamet.
Ia menilai soliditas organisasi menjadi penting untuk menjaga kekuatan profesi dokter. Slamet juga meminta para senior IDI terus mendampingi pengurus baru agar organisasi dapat mengambil keputusan secara kolektif dan terarah.
Selain persoalan organisasi, Slamet menilai kompetensi dokter Indonesia memiliki modal yang kuat karena pengalaman praktik yang tinggi. Namun, ia menyebut masih terdapat persoalan pada sistem dan pembiayaan kesehatan yang perlu dibenahi.
Menurut Slamet, peningkatan kompetensi dokter harus berjalan bersama dengan perbaikan sistem kesehatan sehingga kemampuan tenaga medis dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai etika dan profesionalisme dokter menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Rudy meminta dokter tidak hanya menjalankan profesinya di ruang pelayanan kesehatan, tetapi juga memberikan kontribusi dalam perumusan kebijakan kesehatan. Ia menilai keterlibatan dokter dalam penyusunan regulasi diperlukan karena tenaga medis memahami secara langsung persoalan kesehatan di lapangan.
Rudy juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia kesehatan, penguatan fasilitas, serta perluasan akses pelayanan.
“Kami membutuhkan sistem kesehatan yang mampu menjawab tantangan pembangunan melalui peningkatan kompetensi SDM, penguatan fasilitas, perluasan akses pelayanan,” kata Rudy.
Menurut Rudy, transformasi kesehatan harus diarahkan pada pemerataan layanan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Timur. Kondisi geografis Kaltim yang luas membuat ketersediaan dokter, terutama dokter spesialis, masih menjadi tantangan.
Ia berharap IDI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan sekaligus memberikan gagasan dan inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Rudy juga meminta pengurus IDI Kaltim mendorong peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap dokter dan fasilitas kesehatan dalam negeri. Menurutnya, peningkatan kualitas dokter harus berjalan beriringan dengan pembenahan manajemen dan sistem pelayanan kesehatan.
“Maka perlu dibangun adalah trust, kepercayaan. Kepercayaan dari dokter-dokter kita,” ucp Rudy.
Penguatan etika, kompetensi, dan perlindungan profesi tersebut menjadi semakin penting seiring berkembangnya pelayanan kesehatan di Kalimantan Timur dan pembangunan Ibu Kota Nusantara.
IDI Kaltim melalui kepengurusan baru periode 2025-2028 diharapkan mampu memperkuat koordinasi internal, meningkatkan kompetensi anggota, menjaga etika kedokteran, sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....