Rumah Pintar Pesisir Bertenaga Surya Asal Bontang Raih Juara I TTG Kaltim 2026
- 24 Jul 2026 16:00 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Saat malam menyelimuti Pulau Malahing dan Pulau Tihi-Tihi di pesisir Kota Bontang, tidak semua rumah langsung terang benderang.
Selama bertahun-tahun, sebagian warga masih mengandalkan generator set (genset) berbahan bakar solar untuk menerangi rumah panggung mereka. Selain mahal, suara bising mesin dan asap yang dihasilkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Kondisi itulah yang menginspirasi Izhar Meidiansyah, inovator asal Kelurahan Tanjung Laut, Kota Bontang, menciptakan Helios Smart-Home, rumah pintar bertenaga surya yang kini berhasil meraih Juara I Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) XII Tingkat Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2026. Penghargaan tersebut diraih dalam lomba Gelar TTG XII yang berlangsung di Kabupaten Kutai Barat pada 21–23 Juli 2026.
Bagi Izhar, kemenangan itu bukan sekadar membawa pulang piala. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan bahwa teknologi sederhana yang lahir dari persoalan nyata masyarakat mampu menghadirkan solusi bagi kehidupan sehari-hari.
Izhar menceritakan, Helios Smart-Home lahir dari kepeduliannya terhadap keterbatasan akses energi listrik yang masih dialami warga di kawasan pesisir dan kepulauan Bontang, khususnya Pulau Malahing dan Pulau Tihi-Tihi.
Di wilayah tersebut, sebagian besar masyarakat tinggal di rumah panggung yang berdiri di atas laut. Pasokan listrik belum sepenuhnya tersedia sehingga banyak keluarga masih bergantung pada genset berbahan bakar solar. Biaya operasional yang tinggi membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar, sementara polusi udara dan kebisingan menjadi konsekuensi yang harus diterima setiap hari.
Berangkat dari kondisi itu, Izhar mulai mencari solusi yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan. Ia melihat sinar matahari yang melimpah di kawasan pesisir sebagai sumber energi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui Helios Smart-Home, energi matahari diubah menjadi listrik menggunakan panel surya (PLTS), kemudian disimpan dalam baterai deep cycle untuk memasok kebutuhan listrik rumah tangga selama 24 jam.
"Sistem ini dapat menjadi solusi kemandirian energi berbasis sumber daya lokal yang melimpah, yaitu sinar matahari. Selain meningkatkan efisiensi penggunaan listrik melalui otomatisasi dan kontrol suara, teknologi ini juga dapat memperkuat ketahanan energi masyarakat pesisir serta mendukung pembangunan berkelanjutan," kata Izhar saat mempresentasikan inovasinya di hadapan dewan juri.
Selain itu, yang membuat Helios Smart-Home berbeda bukan hanya penggunaan energi surya. Izhar juga memadukan teknologi rumah pintar (smart home) berbasis mikrokontroler digital dengan sistem kendali suara.
Pengguna cukup mengucapkan perintah seperti "Smart Home, ON Teras" atau "Smart Home, OFF Dapur" untuk menyalakan maupun mematikan lampu serta stop kontak tanpa harus menekan sakelar.
Teknologi tersebut dinilai memberikan banyak manfaat, terutama bagi masyarakat yang tinggal di rumah panggung. Penggunaan sistem nirkabel mampu mengurangi kebutuhan kabel yang panjang sehingga biaya instalasi menjadi lebih murah dan risiko korsleting akibat kelembapan maupun korosi air laut dapat diminimalkan.
Helios Smart-Home juga dilengkapi sistem manajemen daya yang membantu menghemat penggunaan listrik. Energi tidak terbuang sia-sia ketika peralatan elektronik tidak digunakan sehingga umur baterai menjadi lebih panjang.
Lebih dari itu, inovasi ini memberikan kemudahan bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Mereka tidak perlu lagi berjalan melintasi jembatan kayu yang licin pada malam hari hanya untuk menyalakan atau mematikan lampu di ruangan lain.
Melalui Helios Smart-Home yang telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Izhar ingin menunjukkan bahwa konsep Smart City tidak hanya cocok diterapkan di kawasan perkotaan.
Menurutnya, teknologi digital justru akan memberikan manfaat lebih besar ketika mampu menjawab persoalan dasar masyarakat, termasuk kebutuhan energi di wilayah pesisir dan pulau-pulau terluar.
“Tujuan dari pengembangan inovasi Smart-Home : Rumah Pintar Ramah Lingkungan dengan Kontrol Suara Bertenaga Surya adalah untuk menciptakan sistem hunian cerdas berbasis energi terbarukan yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi, kemandirian listrik rumah tangga, serta kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Kota Bontang,” katanya menginspirasi.
Inovasi tersebut membuktikan bahwa teknologi modern dapat dipadukan dengan potensi lokal untuk menghadirkan solusi yang sederhana, mudah diterapkan, dan terjangkau bagi masyarakat.
Keberhasilan meraih juara pertama juga membuka peluang bagi Helios Smart-Home mewakili Kalimantan Timur pada Gelar Teknologi Tepat Guna tingkat nasional. Izhar berharap inovasinya tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara luas sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
“Inovasi ini juga dapat dikembangkan sebagai produk teknologi lokal yang melibatkan masyarakat dalam proses produksi, instalasi, dan perawatan sehingga dapat membuka peluang usaha baru serta meningkatkan perekonomian daerah,” ucapnya.
Bagi Izhar, penghargaan yang diraih Helios Smart-Home menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Harapannya sederhana, agar semakin banyak rumah di kawasan pesisir yang tidak lagi bergantung pada genset berbahan bakar solar.
Sebab ketika matahari mampu menjadi sumber energi, masyarakat tidak hanya memperoleh listrik yang lebih bersih dan hemat, tetapi juga harapan baru menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, yang menutup Gelar TTG XII pada Kamis 23 Juli 2026 malam, mengapresiasi berbagai karya yang ditampilkan para inovator dari seluruh kabupaten dan kota.
Menurutnya, inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium atau ruang penelitian modern. Banyak teknologi tepat guna justru muncul dari tangan para petani, nelayan, pengrajin, dan pelaku UMKM yang berusaha mencari cara agar pekerjaan mereka menjadi lebih mudah dan produktif.
Ia mencontohkan berbagai inovasi yang mampu memangkas waktu kerja, meningkatkan hasil produksi, hingga mengurangi biaya operasional. Teknologi seperti itulah yang dinilai benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Seno Aji berharap seluruh karya pemenang, termasuk Helios Smart-Home, tidak berhenti sebagai hasil perlombaan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen mendorong inovasi tersebut agar dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan dengan harga terjangkau sehingga bisa dimanfaatkan petani, nelayan, pengrajin, maupun pelaku UMKM.
"Kami Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur akan terus mendorong program-program teknologi tepat guna yang bisa kita sajikan untuk seluruh masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan teknologi tepat guna menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia Kalimantan Timur menghadapi era Ibu Kota Nusantara (IKN).
Transformasi ekonomi daerah harus didorong melalui inovasi yang lahir dari masyarakat, memanfaatkan potensi lokal, dan mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing.
"Mari kita jadikan teknologi sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan, menghasilkan produk-produk yang lebih cepat dan lebih baik, terutama untuk para UMKM kita," ucap Wagub.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....