Ketua Forum CSR Kubar Tekankan Pentingnya Pengolahan Hasil Sawit
- 21 Jan 2026 08:22 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Ketua Forum CSR Kutai Barat (Kubar), Paulus Kadok, menilai konsep transformasi ekonomi yang hanya berfokus pada sektor budidaya tanpa strategi nilai tambah (value added) tidak memberi dampak besar kepada para petani. Ia menegaskan bahwa ketergantungan petani pada perusahaan besar dalam menentukan harga bahan mentah menjadi penghambat utama pengentasan kemiskinan di Kubar.
Paulus mencontohkan budidaya sawit yang tengah didorong oleh Pemkab Kubar, sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap tambang. Dia setuju dengan konsep tersebut, namun Paulus menegaskan bahwa ide itu tidak akan berdampak signifikan jika masyarakat hanya berhenti pada tahap menanam.
BACA JUGA:
Kadis Pertanian Dorong Warga Kubar Tanam Sawit, Penghasilan Lampaui UMKM
Menurut Paulus, pemerintah mesti berpikir untuk pengolahan hasil atau hilirisasi agar petani tidak terus-menerus didikte oleh harga perusahaan besar.
"Konsepnya harus dipikirkan secara menyeluruh. Kalau masyarakat hanya menanam sawit lalu hasilnya tetap dijual mentah ke perusahaan, harganya akan selalu ditentukan oleh mereka. Saat ini kita masih sangat minim value added atau nilai tambah di tingkat petani," ujar Paulus Kadok dalam pertemuan strategis membahas Rencana Kerja Pemerintah Daerah untuk Tahun 2027 di Sendawar, Senin, 19 Januari 2026.
Menurut Paulus, ketergantungan pada penjualan Tandan Buah Segar (TBS) mentah membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga. Ia mempertanyakan kesiapan infrastruktur pengolahan di tingkat lokal yang hingga kini belum memadai, bahkan belum ada pabrik sawit rakyat.
"Kalau masyarakat mau olah sendiri, mereka mau olah apa? Membuat CPO (minyak sawit mentah) saja belum bisa. Mau tidak mau, warga tetap jual mentahan dengan keuntungan tipis," ucapnya kritis.
BACA JUGA:
Ironi Petani Kubar: PDRB Tinggi Kemiskinan Juga Tinggi
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pertanian dan instansi terkait untuk mulai memfasilitasi UKM atau kelompok tani dalam memiliki unit pengolahan sederhana. Tujuannya agar rantai nilai ekonomi tetap berputar di desa dan mampu menekan angka kemiskinan Kubar yang saat ini masih berada di angka 8,7 persen.
Selain sawit, Paulus juga menyoroti komoditas karet dan kakao yang mengalami nasib serupa. Ia menilai sektor perikanan dan gula aren justru lebih potensial untuk dikembangkan nilai tambahnya secara cepat karena teknologi pengolahannya lebih terjangkau bagi industri kecil.
"Kita punya potensi perikanan luar biasa di Muara Beloan dan gula aren di berbagai kampung. Pengusaha lokal harus difasilitasi untuk mengolah ini menjadi produk turunan, bukan sekadar dijual segar atau dijual cetakan gula merah saja. Inilah yang akan meningkatkan ekonomi warga secara nyata," katanya.
BACA JUGA:
Wabup Soal Ekonomi Kubar: Tambang Pasti Habis, Pertanian Solusinya
Langkah ini sejalan dengan target Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dalam memperkuat struktur ekonomi berbasis agroindustri. Dengan adanya unit pengolahan hasil tani, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya menjadi buruh di lahan sendiri, melainkan menjadi pelaku usaha yang memiliki daya tawar tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....