Akibat Kabut Asap yang Pekat, Sejumlah Sekolah di Kubar Kembali Terapkan BDR

  • 16 Sep 2026 21:20 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Satuan pendidikan mulai dari TK/PAUD, SD hingga SMP di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kembali menerapkan sistem Belajar Dari Rumah (BDR) hingga 19 September 2026.

Kebijakan tersebut diberlakukan menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kubar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kubar, Kamius Junaidi mengatakan, penerapan BDR sebelumnya telah dilaksanakan pada 26 Agustus hingga 11 September 2026.

Selanjutnya, satuan pendidikan mulai kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah pada 14 September. Namun, baru berjalan dua hari, sistem BDR kembali diberlakukan mulai 16 September karena kabut asap kembali menebal.

"Pada tanggal 15 September, cuaca kembali berubah. Siang hari kabut asap semakin menebal dan berdasarkan pemantauan dari Dinas Lingkungan Hidup, itu sudah mengarah ke kondisi kualitas udara yang buruk. Sehingga melalui evaluasi tersebut, kita mengizinkan satuan pendidikan untuk menerapkan belajar dari rumah, mulai tanggal 16 sampai 19 September," kata Kamius Junaidi, Rabu 16 September 2026.

Ia menyebutkan, penerapan BDR terjadi di sejumlah satuan pendidikan yang tersebar hampir di 16 kecamatan di Kubar, di antaranya Barong Tongkok, Linggang Bigung, Sekolaq Darat, Melak, Damai, Nyuatan, Long Iram, Tering, Siluq Ngurai, Jempang, Mook Manaar Bulatn, Muara Lawa, Bentian Besar hingga Bongan.

"Yang belum ada laporan ini dari Penyinggahan dan Muara Pahu. Tapi walaupun belum ada laporan, pasti ada kampung yang ada satuan pendidikan di dua kecamatan tersebut ikut terdampak kabut asap. Ini terus kami monitor, melalui koordinasi langsung dengan semua kepala sekolah yang ada di Kutai Barat," ujar Kamius.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubar, Kamius Junaidi. (foto.RRI/MCJ)

Menurutnya, pelaksanaan BDR tidak diberlakukan secara menyeluruh di seluruh satuan pendidikan. Sekolah yang berada di wilayah yang tidak terdampak kabut asap tetap dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Kebijakan tersebut tidak diterapkan serentak karena mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah, termasuk kendala jaringan internet yang belum merata. Wilayah pedalaman yang belum terjangkau jaringan akan mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran jika seluruh kegiatan dilakukan secara daring.

Selain persoalan jaringan, sejumlah kendala lain juga dihadapi dalam pelaksanaan BDR, termasuk kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran secara daring.

Plt. Kepala SMP Negeri 1 Sendawar, Elli Helkia mengatakan, masih terdapat siswa yang membutuhkan pendampingan orang tua selama mengikuti pembelajaran dari rumah.

"Memang siswa ini masih ada yang mengalami kesulitan mengikuti proses belajar daring. Seperti bagaimana masuk google clasroom untuk absen dan lainnya. Artinya perlu pendampingan, sementara orang tua juga tidak setiap saat disamping mereka, karena rata-rata ayah dan ibu nya bekerja," ujar Elli.

Kendala lainnya, tidak semua siswa memiliki gawai sendiri. Sebagian masih menggunakan telepon seluler milik orang tua, sehingga tidak dapat mengikuti pembelajaran ketika orang tua sedang bekerja.

"Ya tadi, kalau orang tuanya kerja, sudah pasti tidak bisa ikut pelajaran," ucapnya.

Plt. Kepala SMP Negeri 1 Sendawar, Elli Helkia. (foto.RRI)

Kondisi tersebut turut menjadi alasan penerapan BDR tidak diberlakukan secara merata di seluruh satuan pendidikan di Kubar. Kebijakan pembelajaran dari rumah disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah melalui koordinasi dengan DLH dan Puskesmas di wilayah masing-masing.

"Jadi Dinas Lingkungan Hidup itu setiap hari mengirimkan data kualitas udara ke kami. Sehingga berdasarkan itulah kami bisa menetapkan, apakah aman untuk siswa masuk atau tidak. Itu berdasarkan arahan juga dari pak kepala dinas, karena kualitas udara tidak sama antarwilayah di Kubar ini," kata Elli.

Elli mengatakan, sekolah juga melakukan pendataan dan evaluasi selama pelaksanaan BDR, termasuk terkait kehadiran, pengumpulan tugas maupun siswa yang mengalami kendala mengikuti pembelajaran daring.

"Itu akan menjadi bahan tindak lanjut setelah pembelajaran tatap muka kembali normal," ujarnya.

Lebih lanjut Elli mengatakan, bagi siswa yang tertinggal karena kurang memahami materi atau mengalami kendala selama pembelajaran daring, sekolah akan memberikan tugas kembali serta pendampingan dan bimbingan.

Langkah tersebut dilakukan agar siswa tetap dapat mengejar materi yang tertinggal dan tidak mengalami kesenjangan hasil belajar dengan siswa lainnya yang dapat mengikuti pembelajaran daring dengan lancar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....