Kutai Barat di Persimpangan Konektivitas: Langit Mulai Terbuka, Darat Masih Ditata
- 11 Jun 2026 07:53 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Di tengah bentang geografis yang luas dan tantangan infrastruktur yang belum sepenuhnya merata, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) perlahan menata ulang wajah konektivitasnya.
Transportasi tidak lagi dipandang sekadar sarana perpindahan, melainkan bagian dari strategi membuka akses ekonomi, pelayanan publik, hingga mobilitas antardaerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, akses udara menjadi salah satu alternatif penopang mobilitas masyarakat. Penerbangan reguler Balikpapan-Melak (PP) yang telah beroperasi setiap hari menjadi jalur penting yang menghubungkan Kutai Barat dengan pusat aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kini, jaringan itu kembali diperluas dengan rencana pembukaan rute Samarinda-Melak (PP) yang akan dilayani Wings Air. Rute ini diproyeksikan menjadi tambahan konektivitas udara yang memperpendek jarak waktu tempuh masyarakat menuju ibu kota provinsi.
Di balik rencana tersebut, terdapat proses komunikasi panjang antara pemerintah daerah dan pihak maskapai, hingga akhirnya disepakati untuk penerbangan perdana akan di lakukan pada tanggal 17 Juni 2026 mendatang.
Kepala Dinas Perhubungan Kubar, Rita Nursyandi, mengatakan pembahasan tidak hanya soal pembukaan rute, tetapi juga memastikan skema operasional tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Kami meminta agar tidak ada deposit, tidak ada kenaikan, dan tarif juga tidak terlalu tinggi. Alhamdulillah hal itu dapat terakomodir,” kata Rita, Rabu 10 Juni 2026.
Baca Juga: Dishub dan Polres Kubar Sinkronkan Penanganan Titik Rawan Kecelakaan
Bagi Kutai Barat, pembukaan akses udara bukan sekadar penambahan jadwal penerbangan, melainkan bagian dari upaya mempercepat mobilitas di wilayah yang selama ini sangat bergantung pada perjalanan Sungai dan darat dengan waktu tempuh panjang.
Di sisi lain, transformasi konektivitas juga bergerak di jalur darat. Sistem transportasi yang ada saat ini tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat, namun masih berada dalam proses penataan agar lebih tertib dan terintegrasi.
“Transportasi ini tetap dibutuhkan masyarakat, meskipun infrastruktur jalan kita belum sepenuhnya terpenuhi, karena kebutuhan mobilitas terus berjalan,” ujar Rita.
Ia menegaskan bahwa pengembangan transportasi di Kubar tidak berdiri pada satu moda saja, melainkan sebagai sistem yang saling melengkapi antara darat, sungai, dan udara.
“Harapannya, dengan hadirnya berbagai armada transportasi, baik darat, sungai, maupun udara, mobilitas masyarakat bisa semakin mudah dan terjangkau,” ucap Rita.
Dalam praktiknya, sistem tersebut sudah berjalan secara paralel. Moda sungai seperti Kapal dan Speed Boat serta darat seperti Damri dan layanan travel tetap menjadi pilihan utama masyarakat di sejumlah rute internal dan antarwilayah.
“Untuk Sungai adat Kapal dan Speed Boat. Kemudian darat ada Damri dan travel, sementara untuk udara sudah tersedia penerbangan reguler,” ujarnya.
Baca Juga: Dishub Kubar Perkuat Pita Kejut untuk Tekan Angka Kecelakaan
Meski demikian, jarak dan kondisi geografis masih menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua perjalanan dapat ditempuh dengan cepat melalui jalur darat, sehingga kehadiran transportasi udara menjadi alternatif yang signifikan.
“Ada perjalanan yang hanya memakan waktu sekitar 45 menit menuju Samarinda dengan pesawat,” kata Rita.
Ke depan, pemerintah daerah menempatkan penguatan konektivitas ini sebagai bagian dari upaya membuka keterisolasian wilayah secara bertahap. Bukan hanya dengan menambah rute, tetapi juga dengan membangun sistem transportasi yang lebih terhubung dan berkelanjutan di Bumi Tanaa Purai Ngerimaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....